RSS

Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa…


Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa…
Monday, July 7, 2014

Memang sungguh dahsyat Pilpres 2014 ini. Selama sebulan ini, kita saksikan berbagai hal yang hanya terjadi kali ini. Pacar yang memutuskan pasangannya. Orangtua dan anak jadi cekcok. Sesama teman kantor bisa diem-dieman. Bahkan di FB, orang saling caci-maki, saling unfriend dan unfollow. Semua terjadi lantaran pilihan yang berbeda. Hal ini terjadi karena cinta yang begitu besar pada kandidat pilihan. Tapi, akankah pengkubuan dan sitegang ini berlanjut setelah hari pencoblosan tanggal 9 Juli? Siapkah kalah? Siapkah menang? Apakah kita sesiap pendukung tim di Piala Dunia yang begitu penuh kegembiraan di Brazil sana?

Dalam ajang Piala Dunia yang saat ini berlangsung, akan ada bunyi peluit panjang di pertandingan final yang menentukan siapa pemenangnya. Begitu pun setelah hari pencoblosan tanggal 9 Juli, kita akan tahu siapa yang akan menjadi pemimpin Indonesia untuk masa 5 tahun mendatang.

Berani bertanding, berarti siap menang dan siap kalah!

Dalam Piala Dunia akan ada juara dan akan ada yang kalah, tapi semua pihak akan tetap bergembira bersama merayakan indahnya sepak bola. Dalam Pilpres ini juga akan ada yang menang dan kalah, tapi kita akan merayakannya sebagai pesta demokrasi dimana prinsip hak ‘One man one vote’ dilaksanakan, Meski pertandingan selesai, sepak bola akan terus bergulir. Demikian pula, perjalanan kita sebagai bangsa justru baru dimulai saat Pilpres usai.

Pemilu Presiden, sejatinya adalah kontestasi demokrasi dimana sikap utama yang harus dipegang adalah; berani menang, berani juga kalah. Jika sikap ini dipegang oleh semua pihak (kandidat, timses dan pendukung/relawan), maka proses berdemokrasi akan terus bergulir. Kita bisa memiliki harapan bahwa di negeri ini hidup dan tumbuh sebuah demokrasi yang sehat dan cerdas.

Selama masa kampanye kita boleh saja mendukung kandidat pilihan secara maksimal dan habis-habisan. Tapi saat sudah terpilih pemenang Pilpres, maka sebagai rakyat kita harus mengalihkan energi dukungan ke sesuatu yang lebih besar; Indonesia. Kita boleh cinta pada kandidat pilihan, tapi Indonesia juga membutuhkan cinta kita lebih besar lagi.

Indonesia tercatat sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika. Kenyataan ini bukan semata karena fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke 4 di dunia (setelah India, Cina dan Amerika), tapi juga karena Indonesia telah menerapkan demokrasi dan beberapa Pemilu damai yang bahkan dijadikan contoh oleh beberapa negara di dunia.

Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa tanpa dukungan rakyat.

Setelah Pilpres ini, presiden dan wakil presiden manapun yang terpilih tentu tidak akan bisa berbuat banyak jika tidak ada rakyat yang mendukungnya. Rakyat dan presiden-wakil presiden terpilih harus secara bersama-sama akan melaksanakan dan menjaga jalannya roda pemerintahan. Banyak agenda dan masalah bangsa yang masih harus dibenahi bersama. Karena siapapun rakyat Indonesia, tentulah akan menyatakan perang pada kemiskinan, korupsi, pembodohan, perusakan hutan dan masalah-masalah lain bangsa ini.

Pilpres segera usai. Tapi pertandingan dalam membuat Indonesia lebih baik, justru baru dimulai. Kita akan bersama-sama berjuang sebagai; Suporter Indonesia.
Sekali lagi, Presiden dan wakil Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa jika tidak di dukung rakyatnya. Dengan berbesar hati dan lapang dada, mari kita dukung siapapun presiden pilihan rakyat. Itulah demokrasi yang Sehat dan Cerdas.

Jika Anda setuju gagasan ini, silakan disebarluaskan.

*Gambar foto diambil dari: Tribunnews

- See more at: http://www.duniaprofesional.com/ceritamu/inspirasi-cerita/presiden-terpilih-tidak-bisa-berbuat-apa-apa/?utm_source=detik&utm_medium=banner%20center%201&utm_campaign=pemilu#sthash.ejtaqWJZ.dpuf

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 8, 2014 in Informasi

 

O2SN Jakarta tahun 2014


Posted: Jun 13, 2014 Category: Jakarta Kini

Provinsi DKI Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2014 yang pembukaannya akan diadakan pada tanggal 15 Juni 2014 di Sentul International Convention Center pukul 18:00 WIB. O2SN adalah suatu kegiatan yang bersifat kompetisi di bidang olahraga antara siswa dalam lingkup wilayah atau tingkat lomba tertentu.

Kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) merupakan kelanjutan dari kegiatan pertandingan yang sudah dikenal dan merupakan salah satu kegiatan yang sering dilaksanakan oleh sekolah. Kegiatan ini merupakan suatu wahana bagi siswa untuk mengimplementasikan hasil kegiatan pembelajaran dalam rangka meningkatkan kesehatan jasmani dan daya kreativitas

Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dibagi menjadi 3 bagian lomba yaitu:

1. Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diadakan tanggal 1 s.d 7 Juni 2014 di Jawa Tengah diikuti oleh peserta SD, SMP, PKLK Dikdas, SMA, PKLK Dikmen, SMK

2. Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang diadakan tanggal 15 s.d 21 Juni 2014 di DKI Jakarta diikuti oleh peserta SD, SMP, PKLK Dikdas, SMA, PKLK Dikmen, SMK

3. Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diadakan tanggal 4 s.d 9 Mei 2014 di Bali diikuti oleh peserta SD, tanggal 15 – 21 Mei 2014 di Sumatera Barat diikuti oleh peserta SMP, dan 1 s.7 September di Nusa Tenggara Barat diikuti oleh peserta PKLK Dikdas, SMA, PKLK Dikmen, SMK, Guru

Jenis-jenis cabang olahraga yang dilombakan pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yaitu:

1. Jenis Lomba Peserta SD : Atletik, Bulutangkis, Tenis Meja, Catur, Renang, Karate, Pencak Silat, Senam dan Voli Mini

2. Jenis Lomba Peserta SMP : Atletik, Renang, Bulutangkis, Bola Volley, Karate, Pencak Silat dan Catur

3. Jenis Lomba Peserta Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdas : Atletik, Catur SDLB/SMPLB (Putra/Putri Tuna Netra), Bulutangkis SDLB (Putra Tuna Rungu), Bocee SMPLB (Putra Tuna Grahita Sedang)

4. Jenis Lomba Peserta SMA : Atletik, Bulutangkis, Tenis Meja, Karate, Pencak Silat dan Catur

5. Jenis Lomba Peserta Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikmen : Atletik, Tenis Meja, Bulutangkis dan Catur

6. Jenis Lomba Peserta Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) SMK : Tenis Meja, Bulutangkis, Basket, Bola Volley, Catur, Futsal

Lomba ini diikuti oleh 8.321 partisipan dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 5.101 atlet usia SD, SMP, dan SMA. Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) akan ditutup pada tanggal 20 Juni 2014 di Sentul International Convention Center.

Hasil yang diharapkan dari diadakannya Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yaitu adanya peningkatan kondisi kesehatan jasmani siswa di sekolah sehingga dapat menunjang peningkatan kualitas akademis, terpilihnya siswa terbaik dalam bidang olahraga, sebagai bibit unggul atlet pada tingkat wilayah tertentu dan terjalinnya kesatuan dan persatuan antara siswa seluruh Indonesia melalui O2SN.

Sumber : http://www.jakarta.go.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 19, 2014 in Informasi

 

Sistem Penilaian Diklat


PENILAIAN DAN PELAPORAN HASIL BELAJAR PESERTA DIKLAT SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SUPLEMEN BAHAN SOSIALISASI KURIKULUM SMK EDISI 2004 DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2004 PENILAIAN HASIL BELAJAR PESERTA DIKLAT SMK 1. Latar Belakang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) edisi 2004 dirancang dan disu-sun menggunakan pendekatan keilmuan (academic approach) pengembangan kurikulum. Karena itulah baik bentuk atau rancang-bangun maupun substansi yang menjadi muatannya ditetapkan melalui prosedur dan pertimbangan-pertimbangan kaidah-kaidah kekurikuluman. Berdasarkan pertimbangan bahwa lulusan SMK utamanya harus memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tertentu, dapat mengembangkan dirinya baik secara vertikal maupun horizontal, dan memiliki kecakapan untuk menjalani kehidupannya secara baik, maka substansi atau isi Kurikulum SMK edisi 2004 dipilih dan dikemas dengan pendekatan berbasis kompetensi (competency-based curriculum), pendekatan berbasis luas dan mendasar (broad-based curriculum), dan pendekatan pengembangan kecakapan hidup (life skills). Dengan pendekatan berbasis kompetensi terutama dimaksudkan, agar kurikulum berisi materi pemelajaran yang benar-benar dibutuhkan untuk mencapai penguasaan kompetensi sebagaimana dipersyaratkan dunia kerja. Demikian juga dari sisi ancangan pelaksanaan pemelajarannya, dengan pendekatan pemelajaran berbasis kompetensi (competency-based training) yang dikemas secara moduler, diharapkan peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar yang dapat mengembangkan potensinya masing-masing menguasai secara tuntas (mastery) tahap demi tahap kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajarinya, tanpa harus dibebani oleh hal-hal yang tidak terkait dengan penguasaan kompetensi tersebut. Bahkan secara konseptual, kurikulum ini dirancang untuk dapat dilaksanakan dalam bentuk bekerja langsung melalui proses produksi sebagai wahana pemelajaran (production-based training). Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sangat berpengaruh terhadap sistem penilaian yang dilaksanakan. Karena Kurikulum SMK edisi 2004 dikembangkan dan dilaksanakan menggunakan pendekatan berbasis kompetensi, maka sistem penilaian hasil belajar yang digunakan pun harus model penilaian berbasis kompetensi (Competency-based Assessment). Pelaksanaan penilaian kemajuan dan hasil belajar berbasis kompetensi diarahkan untuk mengukur dan menilai performansi peserta didik (aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap), baik secara langsung pada saat melakukan aktivitas belajar maupun secara tidak langsung, yaitu melalui bukti hasil belajar (learning evidence) sesuai dengan kriteria kinerja (performance criteria) yang diorganisasikan dalam bentuk portfolio. Sejalan dengan penerapan model penilaian tersebut, perlu dikembangkan sistem kendali dan penjaminan mutu (quality controlle dan quality assurance) yang melibatkan pihak-pihak terkait dengan pembinaan SMK (stakeholders). Karena pada akhirnya kompetensi yang telah dikuasai oleh peserta didik harus mendapat pengakuan dari pihak pemakai tenaga kerja. 2. Pengertian Penilaian adalah proses penentuan nilai hasil pengukuran dibandingkan dengan acuan atau standar tertentu. Sedangkan pengukuran adalah proses kuantifikasi atau pengumpulan bukti-bukti suatu gejala atau obyek menurut aturan tertentu yang dapat dilakukan baik dengan cara tes maupun dengan cara nontes. Penilaian hasil belajar dalam sistem pemelajaran berbasis kompetensi, pada dasarnya merupakan proses penentuan untuk memastikan peserta didik apakah sudah kompeten atau belum. Penentuan tersebut dilakukan dengan cara membandingkan bukti-bukti hasil belajar (learning evidence) yang diperoleh seorang peserta didik dengan kriteria kinerja (performance criteria) yang ditetapkan pada standar kompetensi. Proses pengumpulan bukti-bukti hasil belajar dilakukan sebagai bagian dari langkah pengukuran baik melalui tes maupun melalui cara-cara lain seperti penugasan, wawancara, perekaman kegiatan dan hasil kegiatan tertentu, atau cara-cara lain yang dapat membuktikan bahwa seseorang telah kompetensi atau belum, berasal dari berbagai sumber dan dalam bentuk yang bervariasi. Secara umum bukti hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bentuk. a. Bukti langsung, yaitu bukti-bukti yang dikumpulkan berdasarkan pengamat-an langsung oleh penilai. b. Bukti tidak langsung, yaitu bukti-bukti yang diperoleh dari pihak ketiga, seperti guru, pembimbing, orang tua, teman sekelas dan lain-lain. c. Bukti tambahan, yaitu bukti-bukti yang diperoleh selain dari kedua sumber di atas, seperti kertas kerja, laporan, produk benda kerja (pakaian, masakan, patung dan lain-lain), rekaman video dan bukti tambahan lainnya. 3. Tujuan Penilaian hasil belajar bertujuan: a. mengetahui sejauhmana telah terjadi kemajuan hasil belajar pada diri peserta didik, sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan bimbingan belajar selanjutnya; b. mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik, sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan apakah yang bersangkutan berhasil (lulus) atau tidak (belum) berhasil dalam menempuh suatu program pembelajaran; c. menetapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi suatu keahlian tertentu sesuai dengan yang dipersyaratkan standar kompetensi. 4. Prinsip Dasar Sebagai suatu sistem penilaian, penilaian hasil belajar berbasis kompetensi harus mengacu pada prinsip-prinsip umum suatu penilaian seperti harus: sahih dan handal, adil, terbuka, menyeluruh, terpadu, berkesinambungan, dan bermakna. Selain itu prinsip-prinsip umum tersebut, penilaian berbasis kompetensi harus memenuhi prinsip-prinsip yang khusus terkait dengan pemelajaran berbasis kompetensi, sebagaimana dijelaskan berikut ini. a. Mengacu standar Aspek yang dinilai, instrumen penilaian, dan kriteria yang digunakan dalam menafsirkan hasil penilaian dikembangkan berdasarkan standar atau patokan yang ditetapkan dan diakui oleh dunia kerja, sesuai dengan keahliannya masing-masing. Oleh karena itu, langkah awal yang dilakukan adalah menetapkan kriteria atau standar kompeten yang harus dikuasai oleh peserta didik. b. Individualisasi Proses dan hasil penilaian diberlakukan secara individual. Artinya perolehan hasil belajar setiap peserta didik diperlakukan sendiri-sendiri secara perseorangan. tidak dibandingkan dengan perolehan hasil belajar peserta didik yang lainnya, misalnya untuk mencari rata-rata atau ranking. Demikian pula, tidak diperkenankan membuat rata-rata nilai-nilai beberapa subkompetensi untuk menentukan kelulusan suatu kompetensi, misalnya untuk menetapkan kelulusan kompetensi “Membubut” diambil dari jumlah seluruh nilai subkompetensi-subkompetensi yang ada di dalamnya dibagi seluruh subkompetensi yang dinilai. Pada prinsipnya setiap subkompetensi harus mencapai batas minimal standar kompeten, baru yang bersangkutan dinyatakan kompeten (lulus) kompetensi membubut. c. Tuntas (Mastery) Penetapan keberhasilan peserta didik hanya ditentukan oleh ketuntasan (mastery) yang bersangkutan menguasai kompetensi yang dipelajarinya, sesuai dengan standar atau kriteria kompetensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasilnya adalah kompeten atau belum kompeten. Pada keadaan tertentu karena kepentingan administratif seperti penetapan siapa yang paling berhak untuk mendapat beasiswa atau kepentingan lainnya, adakalanya harus dilakukan pengkategorian kelulusan dalam bentuk grading. Jika hal itu terpaksa dilakukan, maka grading hanya dilakukan pada mereka yang telah dinyatakan lulus (kompeten), misalnya dengan sebutan Lulus (kompeten) Rata-rata, Lulus (kompeten) Memuaskan, dan Lulus (kompeten) Istimewa. d. Pengakuan kemampuan awal Hasil penilaian berbasis kompetensi pada dasarnya menunjuk pada keadaan peserta didik kompeten atau belum kompeten, tanpa harus dikaitkan dengan proses pemelajaran yang terjadi di sekolah. Jika terdapat bukti-bukti valid, baik yang diperoleh melalui cara tes maupun cara nontes, bahwa seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi, meskipun yang bersangkutan belum belajar kompetensi itu di sekolah yang bersangkutan, maka harus diakui (recognized) sebagai sudah kompeten dan tidak perlu mempelajarinya kembali. Dalam kerangka inilah perlu dikembangkan suatu mekanisme pengakuan hasil belajar awal (recognition of prior learning – RPL) misalnya melalui verifikasi terhadap bukti-bukti hasil belajar (portfolio) sebelumnya, atau melalui pengujian terhadap penguasaan kompetensi yang berdasarkan pengakuan peserta didik telah dikuasainya (recognition of current competency – RCC). e. Maju berkelanjutan Sesuai dengan prinsip mastery learning yang digunakan dalam pendekatan pemelajaran berbasis kompetensi, penilaian harus dilakukan secara maju berkelanjutan (continuous progress), hanya mereka yang telah kompeten yang boleh melanjutkan ke kompetensi berikutnya. 5. Ruang Lingkup a. Penilaian Berbasis Kelas (Classroom-based Assessment) Hasil penilaian berbasis kelas dapat digunakan sebagai: 1) umpan balik bagi peserta didik mengetahui tingkat penguasaannya terhadap suatu kompetensi, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya, sehingga menimbulkan motivasi untuk meningkatkan dan memperbaiki hasil belajarnya. 2) acuan dalam memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar peserta didik, sehingga memungkinkan dilakukan pengayaan dan atau remedial untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya. 3) masukan kepada guru untuk memperbaiki strategi pemelajarannya. 4) acuan dalam menentukan peserta didik mencapai kompetensi dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda. 5) informasi yang lebih komunikatif kepada masyarakat (stakeholders) tentang efisiensi dan efektivitas pendidikan dan pemelajaran, sehingga diharapkan mampu memotivasi untuk meningkatkan partisipasinya. Penilaian berbasis kelas adalah penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pemelajaran. Penilaian ini terdiri atas dua kategori, yaitu: 1) penilaian yang bertujuan untuk memantau kegiatan dan kemajuan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Hasilnya menjadi bahan masukan untuk perbaikan pemelajaran lebih lanjut, 2) penilaian yang bertujuan untuk menetapkan tingkat keberhasilan peserta didik menguasai kompetensi yang dipelajari dan hasilnya menjadi bahan untuk menetapkan kelulusan. Penilaian yang dimaksudkan untuk perbaikan lebih lanjut (atau selama ini disebut formatif) pelaksanaannya dapat dilakukan terhadap kelompok peserta didik yang mengindikasikan belum mencapai penguasaan minimal subkompetensi yang dipelajari. Sedangkan penilaian yang dirancang untuk pengambilan nilai pada dasarnya merupakan penilaian akhir (atau selama ini disebut sumatif) bagi kompetensi/subkompetensi yang sedang dipelajari. Penilaian berbasis kelas dilaksanakan minimal pada akhir pembelajaran setiap subkompetensi. Artinya bila satu subkompetensi terdiri dari beberapa kegiatan belajar maka terhadap setiap kegiatan belajar dilakukan penilaian, sehingga sangat memungkinkan untuk satu subkompetensi dilakukan beberapa kali penilaian. Dalam kaitannya dengan pemelajaran dengan sistem moduler, jika pemelajaran sepenuhnya menggunakan bahan ajar dalam bentuk “modul”, maka penilaian dilaksanakan mengikuti rancangan penilaian yang telah disiapkan dalam modul tersebut. Setiap modul biasanya dirancang untuk satu kompetensi, meskipun boleh jadi satu kompetensi dirancang menjadi lebih dari satu modul jika ruang lingkup kompetensi tersebut terlalu luas untuk dijadikan satu modul. Sebuah modul untuk satu kompetensi umumnya akan dibagi menjadi sub-submodul sesuai dengan sub-subkompetensi yang ada pada kompetensi tersebut. Setiap submodul akan terdiri atas satu atau lebih kegiatan belajar, dan setiap kegiatan belajar akan diakhiri dengan lembar penilaian. Penilaian pada setiap akhir kegiatan belajar tersebut, merupakan penilaian formatif yang dimaksudkan untuk menjadi bahan masukan perbaikan berkelanjutan. Sedangkan penilaian yang disediakan pada akhir modul pada dasarnya merupakan penilaian sumatif untuk menentukan kelulusan menguasai kompetensi yang dipelajari pada modul tersebut. b. Penilaian/Uji Kompetensi Penilaian atau uji kompetensi adalah penilaian periodik yang secara khusus dijadualkan oleh sekolah sebagai bagian tidak terpisahkan dari jadual kegiatan akademiknya. Penilaian kompetensi dapat digunakan untuk: 1) memantau dan mengendalikan kualitas proses dan hasil pemelajaran; 2) sertifikasi atau pemberian sertifikat; 3) menentukan ketercapaian penguasaan tujuan pemelajaran sesuai dengan standar nasional untuk jenjang SMK. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penilaian kompetensi adalah: 1) Bahan yang diujikan harus representatif mewakili materi yang telah dipelajari serta harus mencakup suatu kompetensi tertentu secara utuh. 2) Penilaian kompetensi dapat berupa verifikasi terhadap hasil penilaian berbasis kelas. 3) Perangkat uji yang digunakan dalam penilaian kompetensi harus sudah distandarkan sesuai dengan kepentingan sertifikasi kompetensi. 4) Hasil penilaian kompetensi diakui dalam bentuk Sertifikat Kompetensi. 5) Peserta ujian dalam penilaian kompetensi harus memenuhi persyaratan tertentu, sesuai dengan karakteristik ujian kompetensi yang ditempuhnya. 6. Prosedur dan Mekanisme a. Penilaian mempunyai dua tujuan utama, pertama memperoleh umpan balik untuk bahan perbaikan lebih lanjut, dan kedua bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik secara berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kompetensi. Prosedur penilaian dapat dilakukan melalui: 1) Tes lisan 2) Tes tertulis 3) Tugas 4) Kuis 5) Project work 6) Observasi 7) Tes perbuatan 8) Wawancara 9) Simulasi 10) Portfolio b. Penilaian berbasis kelas dilaksanakan selama proses pemelajaran berlangsung dan dikelola sendiri oleh sekolah, dalam hal ini guru, tanpa banyak melibatkan pihak DU/DI. Sedangkan penilaian kompetensi, pengelolaannya diselenggarakan oleh sekolah, pusat, dan pihak eksternal terutama DU/DI. Penilaian kompetensi yang dilakukan melalui uji kompetensi sangat memerlukan bantuan dan keterlibatan dari instansi lain. Idealnya, lembaga yang menyelenggarakan uji kompetensi ini independen; yakni lembaga sertifikasi yang tidak dapat diintervensi oleh unsur atau lembaga lain. 7. Langkah Kerja Pelaksanaan penilaian hasil belajar berbasis kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut: a. penyusunan kriteria dan perangkat penilaian; b. melaksanakan penilaian; c. verifikasi internal; d. verifikasi eksternal Langkah-langkah tersebut secara sederhana dapat digambarkan dengan diagram matrik seperti pada halaman berikut. Alur Proses Deskripsi Penanggung Jawab Unsur Terkait Hasil Dokumen kurikulum hasil penyesuaian (Implementatif) Penyusunan Kriteria dan Perangkat Penilaian Guru Wakakur DU/DI terkait Kriteria dan perangkat penilaian Pemelajaran dan penilaian hasil belajar peserta didik, serta melakukan remedial bagi yang belum kompeten Guru DU/DI terkait Staf admi-nistrasi Kesiswaan BP/BK Hasil penilaian mengacu pada standar kompetensi Verifikasi/pemeriksaan kesesuaian data hasil penilaian (learning evidence) oleh pihak internal Tim verifikasi internal Kepala sekolah Wakakur Ketua program Keabsahan hasil penilaian Verifikasi/pemeriksaan kesesuaian data hasil penilaian dan hasil verifikasi internal oleh pihak eksternal Lembaga Independen Kepala sekolah Wakakur Ketua program Pengakuan penguasaan kompetensi peserta didik dan pemberian sertifikat kompetensi Matriks Standar Prosedur Operasional Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar a. Penyusunan kriteria dan perangkat penilaian Penyusunan kriteria dan perangkat penilaian merupakan kegiatan penjabaran kriteria kinerja yang terdapat dalam kurikulum, menjadi perangkat penilaian hasil belajar dan atau penguasaan kompetensi, sebagai acuan dalam pelaksanaan penilaian. Tujuan penyusunan kriteria dan perangkat penilaian adalah untuk mendapatkan perangkat penilaian yang sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian berbasis kompetensi. Pelaksanaan penyusunan kriteria dan perangkat penilaian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1) Menganalisis kriteria kinerja yang ada dalam kurikulum, meliputi ranah kognitif, psikomotorik dan afektif; 2) Menjabarkan kriteria kinerja menjadi indikator keberhasilan. Kegiatan ini dapat menggunakan contoh Format Analisis Kriteria dan Perangkat Penilaian seperti pada halaman berikut; 3) Mengembangkan kisi-kisi sebagai acuan dalam menyusun perangkat penilaian sesuai dengan ruang lingkup/aspek-aspek yang harus dinilai; 4) Menyusun perangkat penilaian, lengkap dengan kriteria (indikator) ketercapaian setiap kompetensi/subkompetensi yang dinilai dan cara penilaiannya. Contoh Format ANALISIS KRITERIA KINERJA DAN PERANGKAT PENILAIAN Kompetensi/Subkompetensi: _________________ Kriteria Kinerja Ranah Kriteria (Indikator) Kondisi Metode Penilaian S/P/K* Alat Bahan Tempat Waktu * Pilih salah satu dari sikap, pengetahuan, atau keterampilan yang diharapkan tercapai. b. Penilaian hasil belajar Penilaian hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui dan menetapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi-kompetensi yang dipelajari. Ruang lingkup pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta didik meliputi hal-hal di bawah ini. 1) Penilaian terhadap proses dan kemajuan belajar peserta didik pada setiap kompetensi yang sedang dipelajarinya, terutama untuk mendapatkan umpan balik yang berguna dalam perbaikan pemelajaran selanjutnya. 2) Penilaian akhir pemelajaran kompetensi untuk mengetahui dan menetapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap setiap kompetensi yang dipelajari, sebagai dasar untuk menentukan proses pemelajaran lebih lanjut. Penilaian ini dilaksanakan pada setiap akhir pemelajaran suatu kompetensi, dan hanya peserta didik yang dinyatakan kompeten yang boleh mengakhiri pemelajaran kompetensi tersebut serta beralih/pindah ke pemelajaran kompetensi berikutnya. 3) Penilaian akhir pendidikan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap seluruh program pendidikan dan pelatihan, sebagai dasar untuk menetapkan kelulusan menempuh jenjang pendidikan pada SMK. 4) Memfasilitasi pelaksanaan sertifikasi kompetensi bagi peserta didik yang dinilai layak untuk mengikuti ujian dan sertifikasi kompetensi oleh pihak eksternal, baik yang dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi terkait maupun oleh industri/institusi pasangan sekolah. Pelaksanaan sertifikasi tersebut dapat dilakukan melalui ujian langsung yang dilaksanakan oleh penguji eksternal (external assessor), tapi dapat pula dilakukan melalui prosedur dan mekanisme verifikasi hasil penilaian. c. Verifikasi hasil penilaian 1) Verifikasi internal Verifikasi internal dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dengan bukti-bukti belajar yang diperoleh peserta didik oleh tim verifikator internal, sehingga bukti-bukti kesesuaian antara hasil penilaian guru dengan tingkat penguasaan kompetensi yang dicapai peserta didik dapat dipertanggungjawabkan. Verifikasi internal dilaksanakan oleh tim manajemen sekolah dan guru-guru lain yang ditetapkan oleh kepala sekolah. Pelaksanaan verifikasi internal dilakukan dengan langkah berikut ini. a) Menginventarisasi data hasil penilaian yang telah dilakukan oleh guru terhadap peserta didik; b) Menginventarisasi bukti-bukti fisik yang dimiliki peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru; c) Memeriksa kesesuaian antara nilai yang diberikan guru dengan tingkat penguasaan kompetensi yang dicapai peserta didik; d) Apabila ditemukan ketidaksesuaian, dilakukan klarifikasi dan atau perbaikan oleh guru. Hasil verifikasi internal terutama digunakan untuk meyakinkan bahwa proses pemelajaran dan penilaian yang telah dilalui peserta didik, memenuhi kriteria pemelajaran dan penilaian berbasis kompetensi. Terhadap peserta didik yang “lolos” verifikasi internal, diberi kesempatan untuk mengikuti sertifikasi kompetensi yang dilaksanakan oleh pihak eksternal. 2) Verifikasi eksternal Sertifikasi terhadap penguasaan kompetensi yang dikuasai oleh peserta didik pada dasarnya menjadi wewenang pihak lembaga sertifikasi independen yang relevan. Pihak lembaga sertifikasi tersebut dapat menunjuk lembaga pendidikan yang memenuhi syarat untuk melaksanakan ujian dan sertifikasi kompetensi, setelah diakreditasi sesuai ketentuan yang berlaku. Konsisten dengan prinsip pemelajaran dan penilaian berbasis kompetensi, apa yang telah ditetapkan oleh guru dan diverifikasi oleh sekolah secara internal tentang penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah dipelajarinya, pada prinsipnya harus sudah mengacu pada standar, prosedur dan mekanisme penetapan kompeten sesuai dengan standar yang berlaku pada masing-masing keahlian Karena itulah proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi selain ditempuh melalui mekanisme pengujian, dimungkinkan untuk ditempuh melalui prosedur dan mekanisme verifikasi yang disebut verifikasi eksternal. Verifikasi eksternal dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dan hasil verifikasi internal dengan bukti-bukti belajar yang diperoleh peserta didik oleh tim verifikator eksternal, untuk meyakinkan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah memenuhi syarat untuk dinyatakan kompeten. Verifikasi eksternal dilaksanakan setelah peserta didik dinyatakan “lolos” pada verifikasi internal. Verifikasi eksternal dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut ini. 1) Menginventarisasi data hasil penilaian yang telah dilaksanakan terhadap peserta didik yang dinyatakan berhasil oleh tim verifikasi internal sekolah; 2) Menginventarisasi bukti-bukti fisik lain yang dimiliki peserta didik sebagai tanda telah menguasai kompetensi; 3) Memeriksa kesesuaian antara nilai yang diberikan guru dengan tingkat penguasaan kompetensi yang telah dicapai peserta didik; 4) Jika diperlukan, assessor eksternal yang mewakili lembaga sertifikasi dapat melakukan uji sampel terhadap populasi peserta didik yang diverifikasi dan terhadap lingkup penguasaan kompetensi yang diujikan. d. Pemberian sertifikat kompetensi Secara garis besar ketentuan penerbitan sertifikat kompetensi dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) kriteria penetapan lulus/kompeten adalah standar kualifikasi yang dituntut dunia kerja (DU/DI) sebagai dasar penetapan penerbitan Sertifikat Kompetensi, baik berdasarkan Standar Kompetensi Kerja (SKKN) yang berlaku (jika sudah ada) maupun atas dasar ketetapan yang diatur dan disepakati oleh sekolah dan institusi pasangannya (DU/DI). 2) peserta didik yang dinyatakan memenuhi syarat memperoleh sertifikat kompetensi adalah mereka yang dinilai layak/kompeten dan mendapat persetujuan dari Tim Verifikator Eksternal. Pemberian sertifikasi kompetensi bagi peserta didik yang telah dinyatakan kompeten oleh asesor/verifikator eksternal, baik yang dinyatakan melalui proses pengujian maupun yang dinyatakan melalui proses verifikasi, dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kategori. 1) Sertifikasi profesi (kualifikasi) Sertifikasi profesi/kualifikasi sepenuhnya menjadi wewenang asosiasi profesi yang bersangkutan sebagai pemegang otoritas keahlian. Karena itulah sertifikat profesi/kualifikasi hanya mungkin diberikan kepada peserta didik, jika keterlibatan pihak asesor/verifikator eksternal resmi atas nama asosiasi profesi terkait, dan telah memiliki standardisasi pengujian dan sertifikasi yang berlaku. 2) Sertifikasi kompetensi industri Sertifikasi kompetensi industri adalah suatu model yang dikembangkan oleh industri/enterprise untuk mensertifikasi kompetensi peserta didik SMK binaannya sebagai institusi pasangan. Industri/enterprise yang bisa melakukan model ini harus sudah memiliki standar kompetensi dan sertifikasi baku yang dikenal dan diakui oleh dunia kerja atau industri/enterprise terkait. Pada model sertifikasi kompetensi industri ini keterlibatan asesor/ verifikator eksternal bisa atas nama industri/enterprise yang menjadi pasangan SMK yang bersangkutan, dan atas rekomendasinya maka industri/enterprise tersebut menerbitkan sertifikat kompetensi. ADMINITRASI DAN PELAPORAN PENILAIAN HASIL BELAJAR 1. Pengertian Administrasi dan pelaporan hasil belajar adalah aktivitas mengadministrasikan seluruh data hasil belajar peserta didik dengan cara-cara yang dapat memudahkan untuk menyimpan, memeriksa, dan melaporkan data tersebut sesuai dengan tujuan masing-masing aktivitas. 2. Tujuan Administrasi dan pelaporan hasil belajar peserta didik dimaksudkan untuk: a. Mencatat, menyimpan, dan memelihara data penilaian hasil belajar peserta didik secara cermat, akurat, aman, dan mudah digunakan; b. Menyediakan informasi tentang kemajuan dan prestasi hasil belajar peserta didik bagi kepentingan pembinaan dan pengembangan dalam bentuk/ format yang sesuai dengan kepentingannya; c. Menginformasikan kemajuan dan prestasi hasil belajar peserta didik kepada pihak-pihak yang berkepntingan, sebagai pertanggungjawaban sekolah dalam rangka akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. 3. Jenis Administrasi dan Pelaporan a. Leger Leger merupakan buku yang berisi informasi pencapaian hasil belajar peserta didik dalam satu kelas, yang memberi gambaran secara rinci tentang kemampuan prestasi akademik maupun catatan pribadi dalam kurun waktu satu tahun (lihat lampiran contoh Format 1). Leger ini dimaksudkan: 1) Untuk merekam perkembangan kemajuan belajar peserta didik satu kelas yang berisi: a) identitas peserta didik; b) uraian mata Diklat yang dipelajari; c) kelulusan dan tanggal perbaikan dari setiap mata Diklat yang dinyatakan belum lulus. 2) memberi informasi tentang keadaan hasil belajar peserta didik dalam satu kelas. b. Buku Laporan (Rapor) Rapor adalah buku laporan hasil belajar peserta didik yang secara administratif harus dilaporkan setiap satu semester untuk semua mata Diklat yang ditempuhnya. Format dan isi laporan disesuaikan dengan karakteristik program keahlian. Buku laporan (Rapor) berisi informasi hasil belajar peserta didik yang memberi gambaran secara rinci tentang pencapaian kompetensi. Beberapa contoh format Rapor disajikan sebagai bahan masukan (lihat lampiran contoh Format 2a, 2b, 2c, dan 2d), tetapi pada dasarnya sekolah memiliki keleluasaan untuk membuat bentuk Rapor yang lebih sesuai. Buku Rapor setidak-tidaknya berisi antara lain: 1) identitas sekolah; 2) identitas peserta didik; 3) uraian kompetensi/subkompetensi; 4) kelulusan dan tanggal kelulusan dari setiap kompetensi/subkompetensi; 5) kualifikasi dalam bentuk kompeten dan belum kompeten; 6) keterangan tentang hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pencapaian prestasi dan sikap; 7) pengesahan oleh wali kelas diketahui oleh orang tua/wali peserta didik; 8) keterangan mutasi; 9) tanggal, bulan, dan tahun mulai mengikuti pendidikan dan latihan; 10) legalitas kepala sekolah. c. Transkip Transkrip merupakan kumpulan laporan pencapaian hasil belajar pada akhir pendidikan yang memberikan gambaran secara rinci dan menyeluruh kompetensi dan prestasi peserta didik selama proses pendidikan. Transkrip dimaksudkan untuk memberi penjelasan secara rinci prestasi peserta didik pada akhir pendidikan (lihat lampiran contoh Format 3). Transkrip berisi komponen antara lain: 1) identitas sekolah; 2) identitas peserta didik; 3) uraian mata Diklat yang dipelajari peserta didik; 4) uraian waktu pencapaian setiap mata Diklat; 5) kualifikasi dalam bentuk kompeten dan belum kompeten; 6) keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pencapaian prestasi; 7) pengesahan oleh kepala sekolah dan distempel. d. Paspor Keterampilan (Skill Passport) Paspor keterampilan atau skill passport adalah dokumen rekaman pengakuan atas kompetensi yang telah dikuasai oleh pemiliknya. Dengan demikian paspor keterampilan ini dapat digunakan sebagai: 1) bukti atau pengakuan atas kemampuan yang dikuasai oleh pemiliknya; 2) bahan pertimbangan bagi pemakai tenaga kerja (DU/DI) dalam memilih pelamar kerja atau mempromosikan karyawan yang terbukti mempunyai kemampuan sesuai dengan yang dibutuhkan; 3) piranti baik bagi pekerja maupun pengusaha dalam merencanakan peningkatan keterampilan maupun penambahan keterampilan baru secara sistematis dan diakui. Skill passport dimaksudkan untuk menginformasikan kompetensi/subkom-petensi yang telah dicapai, dan menginformasikan kepada dunia kerja (DU/DI) atau pihak lain yang terkait tentang riwayat pencapaian kompetensi/subkompetensi yang dimiliki oleh pemegangnya (lihat lampiran contoh Format 4). Skill passport minimal berisi komponen-komponen antara lain: 1) identitas pemegang/peserta didik; 2) identitas sekolah; 3) nama program keahlian; 4) penjelasan tentang Skill Passport; 5) daftar kompetensi dan subkompetensi, pencapaian dan legalitas; 6) keterangan lain yang diperlukan. e. Ijazah Ijazah adalah surat pengakuan bahwa pemiliknya telah menyelesaikan atau menamatkan belajar sekaligus lulus jenjang pendidikan menengah, dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuruan. Ijazah diberikan pada akhir jenjang pendidikan (tingkat III atau tingkat IV) kepada setiap peserta didik yang telah menyelesaikan semua program dan lulus ujian yang diselenggarakan. Ijazah setidak-tidaknya mengandung: 1) identitas lembaga yang mengeluarkan; 2) identitas pemegang; 3) jenjang dan jenis pendidikan yang ditempuh; 4) tanggal, bulan, dan tahun penerbitan; 5) bidang/program keahlian; 6) daftar kompetensi yang dikuasai; 7) legalisasi oleh pejabat lembaga yang mengeluarkan. f. Sertifikat Kompetensi Sertifikat kompetensi merupakan bukti fisik lulus uji kompetensi yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi profesi/asosiasi profesi/DU/DI. Sertifikat kompetensi ini memberikan legalitas (kewenangan) bagi pemiliknya untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan kompetensi yang dikuasainya. Bagi program keahlian yang belum ada LSP-nya, sertifikasi dilakukan oleh institusi pasangan SMK/asosiasi profesi/DU/DI. Lampiran Contoh Format 1 L E G E R Bidang Keahlian : Program Keahlian : No NIS NAMA PESERTA DIKLAT Tahun Normatif Adaptif Produktif Data Pribadi Absensi Catatan PPKn/Sejarah Pend. Agama Bhs. Indonesia Pend. Jas. & Olah Raga Matematika Bhs. Inggris Fisika Kimia Kelakuan Kerajinan Kerapihan Sakit Ijin Alpa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 25 26 27 28 29 30 31 I Kelulusan Perbaikan Tgl II Kelulusan Perbaikan Tgl I Kelulusan Perbaikan Tgl II Kelulusan Perbaikan Tgl I Kelulusan Perbaikan Tgl II Kelulusan Perbaikan Tgl Lampiran Contoh Format 2a R A P O R T Nama siswa : ________________ Tahun Pelajaran : ______________________ Nomor induk : ________________ Semester : ______________________ Program keahlian : ________________ Bidang keahlian : ________________ No. Mata Diklat Nilai Pencapaian Hasil Belajar Keterangan 1. Matematika • Skor 87 (Lulus) Perlu pengayaan: perkalian matrik 2. Bahasa Inggris • Skor 82 (Lulus) Perlu pengayaan: Dialogue 3. Fisika • Skor 50 (Tidak lulus) Perlu remidi: – Struktur zat padat – Tata surya 4. Kerja Mesin • Skor 95 (Lulus) Pengayaan: mem buat ulir trapesium Dst. 70 20 40 60 80 100 *) 70 batas lulus Catatan: 1) Pada model 2a ini, peserta didik yang telah memenuhi semua persyaratan minimal untuk dinyatakan kompeten dikonversi dengan lambang angka 70 (dalam skala 0 s.d 100) sebagai batas lulus. 2) Peserta didik yang menunjukkan performansi lebih dari sekedar memenuhi persyaratan minimal, diberi nilai lebih hingga mencapai nilai istimewa (100) sesuai dengan karakteristik masing-masing kompetensi. Lampiran Contoh Format 2b R A P O R T Nama siswa : ________________ Tahun Pelajaran : ______________________ Nomor induk : ________________ Semester : ______________________ Program keahlian : ________________ Bidang keahlian : ________________ NO MATA DIKLAT HASIL PENILAIAN NILAI NILAI PERBAIKAN ANGKA HURUF ANGKA HURUF TGl. PERBAIKAN NORMATIF 1. Pendidikan Agama 2. PPKn dan Sejarah 3. Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Jasmani dan Olah Raga ADAPTIF 5. Bahasa Inggris 6. KKPI 7. Kewirausahaan 8. 9. 10. PRODUKTIF 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Catatan: 1) Sama dengan model 2a, pada model 2b pada dasarnya setiap peserta didik yang telah memenuhi semua persyaratan minimal untuk dinyatakan kompeten dikonversi dengan lambang angka tertentu (tidak harus 70 pada skala 0 s.d 100). Boleh jadi setiap mata Diklat akan memiliki angka batas lulus yang berbeda, sesuai dengan karakteristik dan urgensinya masing-masing. 2) Pada model 2b ini nilai pencapaian dilambangkan dalam angka dan huruf yang biasa digunakan, yaitu A, B, C, D, dan E yang sama artinya dengan 5, 4, 3, 2, dan 1. Setiap nilai yang dicapai peserta didik tetap dicantumkan meskipun mendapat kategori Belum Lulus (BL). Lampiran Contoh Format 2c R A P O R T Nama Siswa : ________________ Tahun Pelajaran : ______________________ Nomor Induk : ________________ Semester : ______________________ Program Keahlian : ________________ Bidang Keahlian : ________________ NO MATA DIKLAT HASIL PENILAIAN HASIL AWAL HASIL PERBAIKAN TANGGAL L/BL* TANGGAL PREDIKAT A B C NORMATIF 1. Pendidikan Agama 2. PPKN dan Sejarah 3. Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Jasmani dan Olah Raga ADAPTIF 5. Bahasa Inggris 6. Matematika 7. KKPI 8. Kewirausahaan 9. 10. PRODUKTIF 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Catatan: 1) Pada model 2c ini hanya ada kategori Lulus (L) atau Belum Lulus (BL). Peserta didik yang memenuhi seluruh persyaratan kompeten dinyatakan Lulus (L) dan yang belum memenuhi dinyatakan Belum Lulus (BL); 2) Bagi yang sudah dinyatakan lulus (kompeten) diberi predikat sesuai dengan tingkat performansi yang ditunjukkannya; C = Lulus/Kompeten Rata-rata (memenuhi semua persyaratan minimal untuk dinyatakan kompeten), B = Lulus/Kompeten Memuaskan (tidak sekedar memenuhi persyaratan, tetapi mencapai nilai lebih dilihat dari sisi proses kerja dan produk/jasa yang dihasilkan), A = Lulus/Kompeten Istimewa (memenuhi kriteria B tetapi memiliki nilai lebih dalam kemandirian bekerja). 3) Deskripsi masing-masing kriteria A, B, dan C tentu akan berbeda untuk setiap kompetensi dan harus dikembangkan oleh ahli/guru yang bersangkutan. Lampiran Contoh Format 2d R A P O R T Nama Siswa : ________________ Tahun Pelajaran : ______________________ Nomor Induk : ________________ Semester : ______________________ Program Keahlian : ________________ Bidang Keahlian : ________________ NO MATA DIKLAT KOMPETENSI KELULUSAN TANGGAL PREDIKAT A B C NORMATIF 1. Pendidikan Agama A. B. C. Dst. 2. Dst. ADAPTIF 5. Bahasa Inggris A. B. C. Dst. 6. Dst PRODUKTIF 11. Dst. Catatan: Model 2d ini pada dasarnya sama dengan model 2c, hanya yang dijelaskan jauh lebih rinci yaitu nilai untuk masing-masing kompetensi pada setiap mata Diklat, dan nilai yang dimasukkan hanya yang memenuhi persyaratan kompeten (lulus). Lampiran Contoh Format 3 TRANSKRIP AKHIR TAHUN PENDIDIKAN Nama : ____________________________ N I S : ____________________________ Tempat/tgl lahir : ____________________________ Bidang/Program Keahlian : ____________________________ NO PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JML JAM SKK NILAI ANGKA HURUF 1 2 3 4 5 NORMATIF 1 2 3 4 5 6 dst ADAPTIF 1 2 3 4 5 dst PRODUKTIF IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) SKK = Satuan Kredit Kompetensi __________ ,___________ Kepala SMK ___________ _____________________ NIP Lampiran Contoh Format 4 PASPOR KETERAMPILAN (SKILL PASSPORT) NO KOMPETENSI/ SUBKOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA NILAI YANG DICAPAI TANGGAL PENCAPAIAN NAMA GURU PEMBIMBING CAP INSTANSI LULUS TIDAK LULUS si

 
 

5 Perilaku Manusia yang Dibentuk Teknologi


5 perilaku manusia yang dibentuk teknologi
Kutipan : http://forum.republika.co.id/showthread.php?104144-Ini-dia-5-perilaku-manusia-yang-dibentuk-teknologi&p=324435#post324435

Dewasa ini, teknologi telah menjadi bagian dari hidup manusia. Teknologi menjadi semacam organ tambahan yang diperlukan manusia untuk menjalani hidup. Secara otomatis, teknologi pun mengubah fisiologi manusia. Perilaku, berpikir, bahkan sampai bermimpi dipengaruhi oleh teknologi.

Rebecca Hischot, menyebutkan bahwa gejala dipengaruhinya memori oleh teknologi dalam siklus tidur sebagai neuroplastisitas. Fenomena tersebut adalah kemampuan otak untuk mengubah perilaku berdasarkan pengalaman baru. Dalam hal ini, pengalaman baru itu adalah informasi yang diberikan oleh internet dan interaksi teknologi.

Beberapa ahli kognitif memuji dampak teknologi pada otak. Teknologi berhasil mengatur kehidupan manusia dan membebaskan otak untuk berpikir lebih dalam. Meskipun demikian, ada juga ketakutan bahwa teknologi menjadikan manusia tidak kreatif, tidak sabar, dan malas bergerak.

Dikutip dari Mashable (14/3), Rebecca Hischot menjabarkan beberapa hal dari teknologi yang dapat membawa otak manusia ke arah lebih baik ataupun buruk.

1. Bermimpi dengan warna
Kita sudah sepakat bahwa televisi selama satu abad ini telah memberi dampak yang luar biasa bagi perilaku manusia. Namun tidak hanya itu, televisi juga telah mempengaruhi apa yang masuk dalam mimpi. Pada tahun 2008, sebuah penelitian dari Universitas Dundee, Skotlandia, menemukan bahwa orang dewasa yang dibesarkan dalam sebuah lingkungan dengan satu televisi hitam dan putih makan akan membawa orang tersebut ke dalam mimpi hitam putih. Lalu, mereka yang berusia lebih muda, yang hidup dalam generasi tenologi dan menikmati layar warna hampir selalu membawa mereka pada mimpi berwarna

2. Sindrom getaran
Pernahkah Anda merasakan getaran di kantong kanan atau kiri celana. Anda merespon getaran itu dengan menyentuh kantong tersebut dan berpikir ada pesan masuk di telepon genggam. Sayangnya, setelah Anda sadari telepon genggam tersebut tidak menerima pesan apapun. Bahkan, kadang kita tiba-tiba tersadar bahwa tidak ada telepon genggam di saku celana.

Sebuah studi yang dipublikasikan jurnal Computers and Human Behaviour pada 2012, peneliti menemukan bahwa 89% dari 290 mahasiswa yang disurvei dilaporkan merasa ada “getaran”, sensasi fisik dari getaran telepon meski faktanya itu tidak ada. Penelitian lain dari psikolog bahkan menyebut rasa gatal telah teridentifkasikan otak sebagai getaran telepon.

3. Sulit tidur
Selama ini kita telah terbiasa untuk memainkan gadget di atas tempat tidur. Sebelum ponsel pintar berkembang, kita sering menjadikan aktivitas di depan layar komputersebagai aktivitas favorit. Dari bermain game sampai melakukan pekerjaan dari pagi sampai malam hari. Ketika ponsel pintar berkembang, kegiatan di malam hari selain televisi adalah bercakap dengan teman lewat ponsel. Sampai-sampai ponsel harus diletakkan di samping kita ketika tidur.

Kegiatan malam hari yang panjang bersama komputer ataupun ponsel inilah penyebab seseorang sulit tidur. Ahli saraf memperkirakan paparan sinar dari layar telah sebagai isyarat dan menginduksi hormon. Sinar terang dapat menipu otak sehingga menganggap hari masih siang. Hal ini disebabkan mata manusia sangatlah sensitif terhadap cahaya.

4. Memori ingatan kecil
Teknologi telah membantu kegiatan manusia lebih mudah dan efektif. Sebelum teknologi komputer berkembang, seseorang perlu mengingat sebuah informasi baik-baik. Ilmu pengetahuan yang dipelajari ditulis kembali pada sebuah kertas. Komputer lahir untuk menggantikan penyimpanan data secara fisik—kertas—dan juga mengetik sebagai ganti menulis dengan pena. Sampai akhirnya, kini setiap orang tidak perlu mencatat informasi yang diperlukan. Dengan perangkat Google, seseorang kini dapat mencari informasi apapun yang diinginkan.

Pada tahun 2007, seseorang neuroscientist mensurvei 3.000 orang dan menemukan bahwa responden berusia muda tidak terlalu mengingat ulang tahun pribadi ataupun nomor telepon pribadi. Fenomena ini telah membentuk otak manusia untuk terbiasa menyimpan informasi sedikit. Alhasil, perlu konsentrasi lebih bagi anak muda untuk mengingat sebuah informasi.

5. Berkarya lebih banyak
Meskipun teknologi cukup banyak mempengaruhi perilaku manusia ke arah kurang baik, tetapi perlu diakui lahirnya teknologi adalah untuk membantu manusia bekerja. Teknologi telah membantu manusia untuk bekerja dengan tepat guna dan tepat hasil.

Mungkin kita tidak sadar bahwa lima hal di atas telah terjadi pada diri kita. Bila ada, maka kita pun harus mengakui bahwa hidup kita telah dipengaruhi dengan kuat oleh teknologi.

Apakah Anda memiliki pengalaman lain akibat dari teknologi? Bila ada, mari berbagi dan berkomentar tentang informasi ini!

Sumber: Mashable

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2014 in Informasi

 

Hyundai Ajari Anak Muda Jakarta Ngoprek Mesin


Syubhan Akib – detikOto
Jumat, 24/01/2014 19:22 WIB

Jakarta -Plan International Indonesia, Hyundai Motor Company dan Pusat Pelatihan dan Kejuruan Dinas Pendidikan DKI Jakarta hari ini meresmikan gedung baru Hyundai-KOICA Dream Center, di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur.

Gedung Hyundai-KOICA Dream Center merupakan tempat pusat pelatihan otomotif, yang didedikasikan untuk anak muda di Jakarta. Gedung ini akan dimanfaatkan oleh sedikitnya 500 siswa, yang ingin mendalami keterampilan dan pengetahuan tentang otomotif.

Pembangunan fasilitas Hyundai-KOICA Dream Center ini adalah bagian dari proyek Pelatihan Otomotif untuk Kaum Muda di bawah Program Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda Plan International Indonesia, yang didukung oleh KOICA (Korea International Cooperation Agency) dan Hyundai Motor Company. Dalam implementasinya, program ini berjalan atas kerjasama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Peresemian gedung Hyundai-KOICA Dream Center dihadiri oleh Perwakilan KOICA Indonesia, Byung-gwan Kim; Pejabat Kedutaan Korea, Young Sick Park; Perwakilan Kantor Pusat Hyundai Motor Company Regional Asia and Pacific, Hoo Keun Kim; Perwakilan PT Hyundai Indonesia, Mukiat Sutikno; National Director Plan Korea, Sang Joo Lee, Country Director Plan Indonesia, Myrna Evora Remata; dan Kepala Pusat Pelatihan dan Pendidikan Kejuruan, Mustafa Kemal.

Acara ini juga diramaikan oleh sejumlah peserta pelatihan otomotif, serta para sukarelawan asal Korea Selatan, yang sedang melakukan kerja sosial di Indonesia. Kedatangan ke-84 sukarelawan mahasiswa Korea itu difasilitasi oleh Hyundai Motor Company dan Plan Korea.

Dalam sambutannya, Country Director Plan International Indonesia, Myrna Evora Remata mengatakan, sebagai lembaga kemanusiaan yang fokus pada pemenuhan hak anak, Plan Indonesia berkomitmen untuk memperluas akses kaum muda mendapatkan pekerjaan, atau mengembangkan kewirausahaan.

”Program pelatihan otomotif di Hyundai-KOICA Dream Center ini diharapkan bisa menjadi salah satu solusi mengurangi pengangguran di Jakarta,” katanya.

Myrna menambahkan, sampai dua tahun ke depan, pelatihan bidang otomotif ini akan memfasilitasi sekitar 500 anak muda di Jakarta yang berusia 15-24 tahun. Dengan adanya pelatihan ini, mereka diharapkan segera mendapatkan pekerjaan, atau mampu mengembangkan usaha sendiri di bidang otomotif.

Sementara itu, Manager Corporate Responsibility Team Hyundai Motor Company, Jaemin Shin mengatakan, para sukarelawan itu sengaja diajak ke Indonesia, untuk mendukung kegiatan pelatihan otomotif bagi anak-anak muda di Jakarta. “Ini adalah bagian dari komitmen Hyundai untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan otomotif anak-anak muda di Indonesia,” katanya.

(syu/ddn)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 27, 2014 in Informasi

 

2013 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 17,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 6 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 3, 2014 in Informasi

 

Jangan Belikan anak Motor


Selasa, 26 November 2013, 10:56 WIB

Republika/Agung Supriyanto

Pengendara sepeda motor di bawah umur.

REPUBLIKA.CO.ID, SIMPANG AMPEK — Kepala Kepolisian Resor Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat AKBP Sofyan Hidayat mengimbau kepada orang tua para siswa agar tidak membelikan sepeda motor kepada anak-anaknya agar terhindar dari kecelakaan lalu-lintas.

“Peran orang tua sangat penting karena pada umumnya kecelakaan lalu-lintas didominasi oleh kalangan pelajar. Padahal dalam aturan pelajar yang belum cukup umur belum bisa memperoleh surat izin mengendara,” kata Sofyan di Simpang Ampek, Selasa (26/11).

Menurutnya, alangkah baiknya masyarakat mengantarkan anak-anaknya pergi ke sekolah dari pada membelikan sepeda motor karena secara psikologis mental siswa untuk memakai sepeda motor masih labil dan rawan kecelakaan.

“Kita banyak menemukan pelajar yang kebut-kebutan baik saat pergi sekolah ataupun saat pulang sekolah. Hal ini tentu sangat memprihatinkan dan membhayakan bagi kalangan siswa tersebut,” ujar Sofyan.

Ia mengimbau kepada orang tua hendaknya membudayakan kembali menggunakan sepeda angin bagi anak-anaknya. Tidak saja membuat anak sehat tetapi juga membuat meningkatkan kedispilinan.

Dengan bersepeda, kata Sofyan, anak-anak bisa mengatur waktu berapa lama dia pergi dari rumahnya ke sekolah sehingga dia bisa bangun tidur lebih cepat. Hal itu tentunya bisa meningkatkan disiplin memanfaatkan waktu.

“Berbeda jika ada sepeda motor, anak-anak cendrung lebih suka bersantai dan pergi ke sekolah dengan waktu yang pas-pasan sehingga bisa kebut-kebutan dan mengakibatkan kecelakaan,” sebutnya.

Untuk itu pihaknya mengingatkan kepada orang tua agar menyayangi anak-anaknya dengan tidak membelikan kendaraan. Selain itu jajarannya melalui satuan lalu-lintas terus mensosialisasikannya kesekolah-sekolah.

“Selain tindakan preventif kita juga melakukan tindakan dilapangan. Sebab, anak-anak yang belum cukup umur 17 tahun belum diizinkan mengemudi,” tegas Sofyan.

Dia menambahkan sejak Januari hingga akhir Oktober 2013 kecalakan lalu-lintas di Pasaman Barat mencapai 120 kasus. Dengan 75 orang meninggal dunia, luka berat 69 orang dan luka ringan 82 orang. Kecalakaan itu didominasi oleh kalangan pelajar atau berumur dari 11-20 tahun dengan jumlah 95 orang.

Redaktur : Citra Listya Rini

Sumber : Antara

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 20, 2013 in Informasi

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.