Assalamu’alaikum Wr, Wb
Rekan-rekan PEP Reguler XX mohon dukungan dan do’a nya buat rekan kita yang akan maju sidang pada tanggal 19 Januari 2010 yaitu Samsul Falah, Sri Retnoningsih dan Syaiful….semoga sukses…berikutnya siapa yang menyusul !

Undangan kepada seluruh alumni Pasca Sarjana UHAMKA MPEP. angkatan XX. akan menikah rekan kita YASMIN KAMSURYA…pada tgl 7 Maret 2009..bertempat di Profinsi AMBON…atas perhatiannya di ucapkan terima kasih………..

PENGERTIAN EVALUASI, PENILAIAN, PENGUKURAN, DAN TES

A.Pengertian Evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif. Namun secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur sudah termasuk didalamnya. Dan tak mungkin melakukan penilaian tanpa didahului oleh kegiatan pengukuran (Arikunto, 1989). Pengukuran dapat dilakukan dengan cara membandingkan hasil tes terhadap standar yang ditetapkan. Perbandingan yang telah diperoleh kemudian dikualitatifkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.
Evaluasi merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran. Dia adalah salah satu alat untuk menentukan apakah suatu pembelajaran telah berhasil atau tidak. Evaluasi keterampilan berbahasa umumnya dilakukan dalam dua bentuk yaitu evaluasi secara tertulis (évaluation à l’écrit) dan evaluasi secara lisan (évaluation à l’oral). Evaluasi adalah suatu proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti dari suatu yang dipertimbangkan.

B. Pengertian Penilaian

Penilaian adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahap kemajuan belajar nya sehingga didapatkan potret / profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikukum.

Penilaian kelas dilaksanakan melaui berbagai cara, seperti tes tertulis,(paper and pencil test), penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa, dan penilaian untuk kerja (performance ) siswa.

C. Pengukuran

pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

D. Tes

tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.Tes adalah suatu akat pengumpulan data yang dirancang secara khusus. Kekhususan tes dapat dilihat dari konstruksi butir soal yang dipergunakan.

Aspek yang ditestpun khusus dan terbatas pula. Biasanya aspek yang dites meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Hasil dari suatu tes biasanya dinyatakan dalam bentuk angka. Artinya, kualitas sesuatu yang dites dilambangkan dalam bentuk angka. Misalanya, hasil belajar siswa mengenai suatu topic atau pelajaran tertentu memalui tes diberi angka terntentu. Siswa yang menjawab dengan dengan benar terhadap pertanyaan yang diberikan dalam tes mendapat angka tertinggi.siswa yang menjawabnya salah mendapat angka yang terendah.

Tujuan evaluasi

Evaluasi pelaksanaan kurikulum bertujuan untuk mengukur seberapa jauh penerapan kurikulum berstandar nasional dipakai sebagai pedoman pengembangan dan pelaksanaan kurikulum di daerah/sekolah, sehingga pelaksanaan kurikulum dapat dimengerti, dipahami, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dianalisa oleh peserta didik. Evaluasi dilakukan pada setiap tahapan pelaksanaan pengembangan kurikulum sebagai upaya untuk mengkaji ulang pelaksanaan kurikulum pada setiap jenjang pendidikan.

Evaluasi untuk program pelaksanaan pengembangan kurikulum di daerah memerlukan indikator keberhasilan sebagai tolak ukur pencapaian pelaksanaan kurikulum. Indikator keberhasilan kurikulum mencakup: 1. Indikator keberhasilan sosialisasi kurikulum 2. Indikator keberhasilan penyusunan silabus 3. Indikator keberhasilan penyusunan program tahunan dan semester 4. Indikator keberhasilan penyusunan rencana pembelajaran 5. Indikator keberhasilan penyusunan bahan ajar 6. Indikator keberhasilan pelaksanaan kegiatanbelajar-mengajar


II. Fungsi Evaluasi

Dalam proses pembelajaran, terdapat tiga fungsi besar evaluasi. Tagliante (1996) menyebutnya “Trois grands fonctions de l’évaluation.” Tiga fungsi itu adalah fungsi pronostik,fungsi diagnostik,dan fungsi sertifikasi.
Pertama, fungsi pronostik, yaitu tes awal proses pembelajaran untuk mengetahui kondisi obyektif dari pembelajar. Hasil yang diperoleh digunakan untuk menentukan dimana posisi pembelajar, misalnya apakah dia termasuk pemula dalam sebuah materi atau dia sudah pantas menerima kelanjutan materi tersebut dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Fungsi pronostik juga berguna untuk memprediksi kompetensi lanjutan yang mungkin dapat dicapai oleh pembelajar. Artinya, dengan hasil tes yang ada, dapat direncanakan kompetensi apa yang dapat dikuasai pada tahap berikutnya. Menyamaratakan kemampuan pembelajar pada awal proses akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan pembelajar itu. Selaku pembelajar, tiap individu berbeda-beda kemampuan dasarnya. Perbedaan itu harus dicermati dan diakomodir dengan memberikan perlakuann yang berbeda juga. Perbedaan itu meliputi pemberian materi lanjutan yang akan dibahas, penugasan, dan penghargaan.
Penghargaan di sini lebih bersifat penguatan (réinforcement). Ini berhubungan dengan kejiwaan. Penghargaan minimal yang bisa diberikan adalah dengan “ucapan selamat” atas usahanya untuk mengetahui sesuatu lebih cepat dari orang lain.
Dari segi proses dan pemilihan materi bahasan memang sedikit agak menyulitkan pengajar dalam mengelola kelas. Namun itu akan berakibat kondusifnya suasana kelas yang dapat mengarahkan pembelajarnya lebih berprestasi lagi. Akan tercipta situasi yang penuh dengan kompetisi sehat yang menjadi pemicu bagi setiap individu untuk tampil. Atmosfer akademik dalam suasana saling berkompetisi sangat berkontribusi terhadap pencapaian target pembelajaran.
Memberi perlakuan yang sama berarti kurang menghargai kemampuan seseorang yang lebih dari yang lainnya. Bagi pengajar, menyamakan atau generalisasi ini akan mempermudah dia dalam bertugas. Namun efek yang bisa timbul adalah munculnya kebosanan dan rasa pesimis dari mereka yang memiliki kemampuan lebih.
Yang kedua, fungsi diagnostik, yaitu evaluasi yang menganalisis kemampuann pembelajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Fokusnya adalah membantu mereka bagaimana supaya mampu memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi ini berlangsung sepanjang proses pembelajaran. Tujuan utamanya adalah membantu pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri.
Evaluasi diagnostik, memungkinkan seorang pengajar mempertahankan metode yang digunakan atau segera menggantinya. Fungsi ini dapat diwujudkan dalam bentuk tes formatif, yang mengevaluasi pembelajar pada setiap sub pokok bahasan, atau sub unit suatu pelajaran. Jadi, tes itu tidak hanya dilakukan sekali diakhir suatu periode pembelajaran, melainkan ada tes-tes pengontrol atau pendamping dari tes akhir. Bentuk dan pelaksanaannyapun tidak sekaku yang ada selama ini, seperti mid semester, tidak, tapi bisa lebih dinamis, yang sedemikian rupa bisa dirancang oleh pengajar.
Yang ketiga, fungsi sertifikasi. Evaluasi saat ini berguna untuk menyatakan kedudukan atau peringkat seseorang dalam sebuah pembelajaran. Evaluasi dilaksanakan di akhir sebuah periode pembelajaran, umpama di akhir semester, program, paket, atau tingkat. Ujian DELF dan DALF juga termasuk di sini , walaupun tidak ada proses pembelajaran resmi sebelumnya. Fungsi sertifikasi dalam evaluasi pembelajaran sama sekali tidak menggiring pembelajar untuk meningkatkan kemampuan akademisnya, karena dia dilaksanakan terakhir. Tujuannya hanya menyatakan status dan mendapatkan laporan hasil belajar atau sertifikat.

III. Evaluasi Dalam Pembelajaran
Scriven dalam Arikunto (1989) menyatakan bahwa harus ada hubungan yang erat antara : 1) tujuan kurikulum dengan bahan pelajaran, 2) bahan pelajaran dengan evaluasi, dan 3) tujuan kurikulum dengan evaluasi. Jadi evaluasi itu harus merujuk kepada kurikulum dan bahan pelajaran. Hubungan evaluasi terhadap kurikulum dan bahan pelajaran adalah sebuah hubungan yang saling kontrol. Kalau materi pelajaran sudah relevan dengan tujuan pembelajaran yang tercantum dalam kurikulum, maka evaluasi yang berhubungan dengan materi akan secara otomatis berhubungan dengan kurikulum. Namun jika materi pelajaran tidak relevan dengan kurikulum, maka tes yang dibuat berdasarkan materi tidak akan menyokong tujuan kurikulum. Agaknya itulah yang menyebabkan Scriven menegaskan bahwa perlunya ada hubungan antara tiga komponen itu.
Kembali kepada Viviane dan de Lansheere di atas, mereka lebih menekankan bahwa evaluasi itu adalah proses pengecekan apakah materi dan metode telah sesuai dengan tujuan pembelajaran. Fokusnya tertuju kepada tujuan yang ada dalam kurikulum. Materi dan metode merupakan sarana untuk pencapaian tujuan. Pemikiran mereka ini bisa diformulasikan kedalam bentuk lain bahwa pencarian, pembahasan, dan perumusan materi adalah untuk menjawab persoalan dalam evaluasi yang mengacu pada tujuan pembelajaran.
Konsep mereka di atas, secara sederhana dapat diaplikasikan dalam sebuah contoh kongkrit proses pembelajaran bahasa Prancis berikut:

Tujuan Pembelajaran

Evaluasi

Materi/Bahan/Sumber Pelajaran

1. Mahasiswa dapat menjelaskan secara lisan wilayah pariwisata di Sumatera Utara dalam bahasa Prancis

1. Sebut dan gambarkan kondisi fisik daerah-daerah pariwisata terkenal di Sumatera Utara, minimal 7 buah, dalam bahasa Prancis secara lisan!

1. Buku-buku kepariwisataan Sumut
2. Teknik komunikasi lisan
3. Teori dan praktek Terjemahan

Dari contoh diatas terlihat bahwa ada hubungan yang erat diantara tiga komponen itu, yakni tujuan, evaluasi, dan materi. Yang menarik adalah pemilihan materinya. Poin nomor 2 dan 3 agaknya adalah sesuatu yang muncul dari kreatifitas pengajar. Pengajar harus benar-benar mengarahkan mahasiswa untuk memperkaya referensinnya dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Teknik komunikasi secara lisan, seperti menjelaskan sebuah obyek wisata harus dimiliki oleh mahasiswa. Apalagi ini nanti pada gilirannnya akan berguna bagi mereka yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Teknik yang benar dan menarik akan meningkatkan kualitas penyampaiannya, seperti variasi intonasi, pengaturan interval, ekspresi atau mimik,dan jiwa humoristis.
Teori dan praktek terjemahan disini akan sangat terpakai, apalagi kalau referensi yang ada tentang wilayah pariwisata Sumatera Utara menggunakan bahasa Indonesia. Kalau ada mata kuliah khusus tentang penerjemahan, maka pengajar tinggal mengarahkan mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu penerjemahan mereka ke dalam mata kuliah ini.

Posisi evaluasi dalam pembelajaran dapat penulis gambarkan secara jelas melalui skema berikut:

Dari skema terlihat bahwa evaluasi tetap mengacu kepada rencana awal. Dia tidak dibuat berdasarkan proses perkembangan pembelajaran yang berlangsung, tapi berdasarkan perencanaan awal. Proses pembelajaran hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan. Mereka yang gagal harus mengikuti proses kembali, sedangkan yang sudah berhasil,dapat mengikuti tahap berikutnya.
Pada tulisan ini, penulis ingin memperdalam bahasan bagaimana fungsi diagnostik sebuah evaluasi bisa terwujud. Fungsi pronostik dan sertifikasi tidak terlalu banyak berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajar. Konsep fungsi diagnostik menurut Tagliante(1996) adalah sebagai berikut :
1. Evaluasi bertujuan untuk menemukan kesulitan pembelajar dalam mengikuti pelajaran, yang selanjutnya akan diberikan perlakuan yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapainya.
2.Evaluasi berlangsung selama proses pembelajaran.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk merespon dua prinsip itu adalah :
Pertama, untuk menemukan kesulitan pembelajar dalam mencapai tujuan pembelajaran, seorang pengajar dapat merancang sebuah tes yang benar-benar valid. Valid itu maksudnya adalah mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto,1989). Validitas benar-benar berorientasi kepada hasil tes.
Wesche dalam Paul Cyr (1998) menjelaskan bahwa validitas itu merupakan proses membandingkan kompetensi pembelajar dengan kompetensi harapan yang telah di standarkan. Dalam pengertian yang lebih sedehana, dapat dilihat kamus Robert Poche. Disana dinyatakan bahwa valid (validation) adalah kemampuan dalam melakukan sesuatu. Jadi pengajar tak perlu membuat validitas soal sampai menggunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson. Cukup dengan langkah-langkah sederhana sebagai berikut :
a.Tetapkan tujuan pembelajaran.
b. Tentukan kompetensi yang harus dimiliki dengan mencantumkan standar minimal.
c.Tentukan jenis tesnya, lisan atau tertulis.
d.Bandingkan hasil tes dengan standar.
e.Temukan titik lemah pembelajar.
f.Buat Kesimpulan.
Hal yang akan diungkap dalam kesimpulan hanya dua, sesuai skema di atas, yaitu berhasil atau gagal. Kalau berhasil dapat melanjutkan materi pada sesi berikutnya, dan kalau gagal, mengulang. Yang dikatakan berhasil adalah mereka yang memperoleh skor memenuhi standar minimal dari kompetensi yang ditetapkan. Dan proses mengulang bagi yang gagal tidak mesti dia harus kuliah tambahan lagi, misalnya ada kuliah sore, tidak. Tapi, harus ada kebijakan pengajar, umpama pemberian tugas atau yang lainnya.
Kedua, evaluasi dilaksanakan sepanjang proses pembelajaran. Bentuknyapun tidak sekaku dan seformal tes yang ada. Pengajar punya kebebasan menentukan bentuk evaluasinya. Yang penting di sini adalah perencanaan dan pengorganisasiannya. Jadi pembelajaran itu tidak hanya menganalisis, diskusi, dan presentasi selama satu semester, tapi ada evaluasi yang benar-benar mengiring pembelajar agar dia berhasil dalam mencapai tujuan.
Paul Cyr (1998) mensinyalir bahwa dalam pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa kedua atau bahasa asing, konsentrasi evaluasi adalah pada performansi. Evaluasi diharapkan dapat menggiring mahasiswa mencari penyelesaian masalah dalam pemerolehan bahasa. Prinsipnya adalah tes sebagai sarana untuk mencari peneyelesaian persoalan, bukan tes itu yang menjadi persoalan. Kongkritnya bisa digambarkan sebagai berikut:
Jika mahasiswa takut menghadapi tes, maka berarti tes itu merupakan sebuah “masalah.” Disini tes tidak dapat menjalankan perannya sebagai penggiring untuk memecahkan masalah yang sebenarnya dalam pembelajaran. Dan jika mahasiswa justru senang dengan adanya tes, maka ini menunjukkan bahwa tes itu dapat menggiring mereka kepada pemecahan masalah.
Secara umum mahasiswa agak takut dan kurang suka dengan yang namanya tes. Ini hanya pengamatan penulis, belum melalui sebuah penelitian resmi. Ketakutan ini menyebabkan mereka kehilangan akses untuk mengetahui lagi pada sisi mana mereka sebenarnya lemah. Kecenderungan mahasiswa yang dapat diamati adalah merasa senang kalau tesnya gampang, dan sangat “stress” kalau tesnya sukar. Padahal, tes yang sukar itu sesungguhnya yang akan membantu mereka meningkatkan kualitas pembelajarannya.
Dalam pencapaian tujuan pembelajaran itu, istilah tes sukar dan mudah tidaklah seharusnya menjadi fokus perhatian pengajar, apalagi tes dignostik. Patokan tes adalah tujuan pembelajaran. Tes diagnostik dilaksanakan adalah untuk mengetahui kelemahan pembelajar dan pemberian perlakuan yang tepat. Jadi, mudah sukarnya soal disini, buat sementara waktu harus dikesampingkan dulu.
Berbeda dengan fungsi sertifikasi, tes di sini memutuskan status pembelajar, apakah dia lulus, mengulang, atau gagal sama sekali. Aktivitas yang mengikuti tes itu sepenuhnya dipulangkan kepada pembelajar. Dengan kata lain, fungsi sertifikasi adalah “ketok palunya”proses belajar mengajar dalam suatu periode.

Assalamu’alaikum Wr, Wn…Keluarga besar MPEP Reguler XX UHAMKA negucapkan selamat datang kepada Bapak DR.H. Kadir MPd dan ibu dari menunaikan Rukun Islam…semoga menjadi Haji Mabrur…Wassalam

Rangkuman dari berbagai sumber Internet

Bismillahirrahmannirrahim

DASAR PEMIKIRAN

Zaman Rasulullah SAW, Islam maju dengan pesat dan berkembang, setelah itu sahabat-sahabatnya pun mengembangkan Islam hingga Dunia Barat. Islam berjaya dengan penuh keagungan. Tak ada yang memungkiri bahwa saat itu adalah saatnya islam menguasai peradaban dunia. Ilmu dan sains baru ditemukan dalam peradaban itu. Disinilah terlihat bahwa pada jaman itu kemampuan berpikir umat islam sudah selangkah lebih maju dibandingkan umat-umat lainnya. Berpikir bebas, pengembangan kreativitas dan inovasi, pluralitas berpikir, dan keyakinan akan kebenaran membawa umat ini berjaya pada saat itu. Kejayaan itu terus berlanjut hingga umat ini kalah perang oleh barat dan membatasi diri mereka terhadap hal-hal yang dianggap haram dalam permikiran oleh para ulamanya, ditambah lagi ketika mereka menggunakan ilmu dan teknologi dari barat, dan itupun hanya mengadopsi saja. Fenomena ini terjadi setelah lebih dari seratus tahun Rasulullah SAW wafat. Pembatasan akan informasi dan berbedaan berpikir tersebutlah yang menjadi awalan untuk terbentuknya suatu ilmu baru.

Saat ini adalah jamannya Islam kalah dari peradaban, yang saat ini dikuasai oleh peradaban liberalisme dan kapitalisme. Saat ini perang peradaban yang terjadi tidak hanya perang fisik saja, akan tetapi perang informasi dan pengetahuanlah yang ikut berkembang disini. Penguasaan dunia saat ini tidak lagi memerlukan pengerahan prajurit perang besar-besaran. Perang yang terjadi adalah perang teknologi dan informasi. Umat yang menguasai media informasi maka dia akan dapat menguasai dunia. Pemutar balikan fakta informasi sering terjadi dalam medianya tergantung dari keberfihakan media tersebut. Media informasi dan kecanggihan teknologi dapat mengangkat manusia dalam kemajuan peradaban atau menghancurkan peradaban ini sendiri tergantung pemakainya. Penguasaan informasi dan teknologi saat ini bukan dikuasai oleh umat Islam, sehingga saat ini terlihat bahwa umat Islam tertinggal peradabannya. Akankah kondisi ini terus berlanjut?

Teknologi informasi merupakan suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan dan memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis dalam pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.

Perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, seperti e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan saat ini sedang marak-maraknya berbagai huruf yang dimulai dengan awalan “e” seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan
yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

Disadari atau tidak, bahwa penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datang lebih cepat adalah karena adanya teknologi informasi. Dengan adanya internet, electronic data, electronic interchange, virtual office dan lain sebagainya mampu menerobos batas-batas fisik antar negara. Demikianlah penggabungan antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi sehingga lahirlah sebuah revolusi dalam sistem informasi.

Tak heran jika pakar IBM menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar 1 dolar amerika!”.

Melihat fenomena di atas, sudah seharusnya umat ini (Islam) untuk menguasai teknologi informasi, karena dengan demikian maka citra Islam yang buruk -baik itu purna WTC 11 September silam ataupun karena mis informasi- dapat segera diperbaiki.

B. Menumbuhkan Kesadaran Akan Pentingnya Teknologi Informasi

“Growth of information technology can improve performace and eneble various activity can be executed swiftly, precisely and accurate, so that finally will improve productivity. Growth of information technology show the popping out of various activity type being based on this technology, like e-government, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, and Other, which is all the things have electronics based”. Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan dan memungkinkan berbagai kegiatan dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkembangan teknologi informasi memperlihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini. Seperti e-government, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainya yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.(Wawan Wardiana, 2002)
Dalam acara pembukaan seminar teknologi informatika dan komunikasi (TIK) road to school di hotel Garde Palace Surabaya, selasa (28/8) Menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo), Prof Dr Mohammad Nuh mengatakan, kendala utama dalam pengembangan TI di Indonesia adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran.
Kesadaran harus ditumbuhkan bukan pada orang tua saja, namun bagi pemuda yang memiliki masa depan. Karena pemuda adalah kata kunci pengembangan TI ke depan. Setelah kesadaran, faktor berikutnya yakni prioritas utama dalam pengembangan TI.”permasalahan TI begitu luas, karena itu butuh prioritas utama dan tidak mungkin mengambil semua bidang. Perlu ada fokus di bidang mana yang harus dikembangkan,” tuturnya.

Untuk memilih fokus, ada dua faktor penting yang perlu diingat, yakni sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan menguasai serta adanya peluang di mana kita memilih (opertunity) (www.jatim.go.id)

Umat Islam sangat perlu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya teknologi informasi tanpa mengenyampingkan al-Quran dan al-Sunah, karena kedua hal itu menjadi tolok ukur dalam kehidupan. Kepentingan ini tidak lain hanyalah untuk meninggikan kalimah Allah Swt, karena -suka tidak suka- jeleknya citra umat Islam saat ini disebabkan kesalahan informasi dan penyalah gunaan teknologi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sebut misalnya, tragedi WTC yang menyebabkan umat Islam Amerika di isolir dan mengecap Islam sebagai teroris dunia, walaupun penjajahan atas negeri Palestina tidak dianggap teroris yang jelas-jelas melanggar HAM, dan Denmark kembali mempublikasikan karikatur Nabi Saw ke seluruh dunia, tetapi karena kelambanan informasi yang diterima umat Islam sehingga aksi yang digelar pun hanya dilakukan oleh beberapa pihak yang mengetahui.

Di sisi lain, harian Republika, Minggu, 09 Maret 2008 mengabarkan bahwa, hasil riset 67 peneliti dari 18 perguruan tinggi di Indonesia menemukan fakta “membludaknya” adegan-adegan seks dalam sinetron-sinetron remaja. Menurut mereka, adegan ‘hubungan seks’ (57 persen), walau tidak secara langsung memperlihatkan hubungan seks, namun shot pembukaannya sudah cukup mengasosiasikan bahwa hubungan itu (akan) terjadi, kemudian ciuman (18 persen), pemerkosaan (12 persen), dan kata-kata cabul (10 persen). Ditemukan pula adegan telanjang (2 persen) dan seks menyimpang (1 persen). Hal ini juga menjadi kewajiban bagi umat Islam utuk mencegahnya. firman Allah Swt, “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah Swt” (Ali Imran [3] 110) dan pencegahan -dalam hal ini penyimpangan teknologi dan informasi- hanya dapat dilakukan oleh mereka yang paham mengenai teknologi informasi.

C. Teknologi Informasi Sebagai Sarana Dakwah
Pertentangan antara yang hak dan yang batil telah lama berlangsung dan akan tetap ada selama manusia itu hidup di muka bumi ini. Kehadiran Islam merupakan aset yang besar bagi manusia, dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai pengemban risalah suci. Firman Allah Swt, ” dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad Saw) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”
Dakwah merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mukalaf, oleh karena dakwahlah, Islam masih tetap eksis hingga saat ini. “maka jika mereka membantah engkau (Muhammad Saw), katakanlah, “aku telah menyerahkan diriku kepada Allah Swt dan (demikian juga) orang-orang yang mengikutiku:, dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi alkitab dan orang-orang yang ummi (buta aksara), “sudahkah kamu masuk Islam?” jika mereka telah masuk Islam, niscaya mereka mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah Swt). Dan Allah Swt maha melihat akan hamba-hamba-nya.(Ali Imran: [3] 20).

Tidak disangkal lagi bahwasannya sektor teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan dalam kehidupan manusia nantinya, dalam artian siapa saja yang menguasai teknologi ini, akan ada kemungkinan baginya untuk menguasai dunia. Maka, sebagai seorang muslim sudah menjadi kewajiban dalam mengemban dakwah untuk menguasai sarana teknologi informasi ini, sebagaimana dalil qâidah ushûliyah “sesuatu yang menyempurnakan kewajiban maka hal tersebut menjadi wajib”. Dengan demikian maka umat Islam akan banyak berperan dalam berbagai bidang diantaranya :

1. Bidang pendidikan (e-educations)
Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvesional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay M., 1995) sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “flexible learning”. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “pendidikan tanpa sekolah” (deschooling socieiy) yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan.
Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan berkolaborasi (Mason R, 1994) Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan nantinya akan bersifat “saat itu juga (just on time)”. Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner.
Dari berbagai pandangan para cendekiawan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompertitif.
Dengan berkembangnya teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara pelajar dengan pengajar, melihat nilai secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan pengajar dan sebagainya, semuanya itu dapat dilakukan secara langsung.
Faktor utama dalam distance learning yang merupakan masalah masisir (mahasiswa mesir) adalah tidak “seringnya” interaksi antara mahasiswa dan dosennya. Kendati demikian, dengan adanya media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan ineraksi antara dosen dan mahasiswa baik bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Misalnya dalam bentuk real time dapat dilakukan dalam suatu chatroom interaksi langsung dengan real audio atau real video dan online meeting. Sedangkan yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup ataupun bulletin board. Cara-cara tersebut membuat interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Materi-materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dapat diupload ke dalam web sehingga dapat didownload oleh mahasiswa. Demikian juga dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Urusan administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses regestrasi saja, terlebih didukung dengan metode pembayaran online.
Dinegara-negara maju seperti Amerika, Australia dan Eropa menjadikan pendidikan jarak jauh sebagai alternatif yang cukup digemari, metode pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan), yang sebelumnya pertukaran materi dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video. Saat ini hampir seluruh program distance learning dapat juga diakses melalui internet. Studi yang dilakukan Amerika, sangat mendukung dikembangkannya e-learning, yang menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 30% biaya lebih murah. Bank dunia (world bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan peogram Global Distance Learning network (GDLN) yang memiliki mintra sebanyak 80 negara di dunia. Dengan GDLN ini maka world bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak (dari 30 menjadi 150 mahasiswa) dengan biaya 31% lebih murah.
Dalam era global, penawaran beasiswa muncul di internet. Bagi sebagian besar mahasiswa di dunia, uang kuliah untuk memperoleh pendidikan yang terbaik umumnya masih dirasakan mahal. Sangat disayangkan apabila ada mahasiswa yang pandai di kelasnya tidak dapat meneruskan sekolah hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah. Informasi beasiswa merupakan kunci keberhasilan dapat menolong mahasiswa yang berpotensi tersebut.

2. Dalam bidang pemerintahan (e-government)
Penerapan e-goverment sangatlah penting, hal ini mengacu pada penggunaan teknologi informasi oleh pemerintahan, seperti penggunaan intranet dan internet, yang berguna untuk menghubungkan keperluan-keperluan penduduk, bisnis dan kegiatan lainnya. Bisa berbentuk proses transaksi bisnis antara publik dengan pemerintah melalui sistem otomasi dan jaringan internet, lebih umum lagi dikenal sebagai world wide web (www). Pada intinya e-government adalah penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan hubungan antara permerintah dan pihak-pihak lain. Penggunan teknologi informasi ini kemudian melahirkan bentuk baru seperti: G2C (Governmet to Citizen), G2B (Government to Business), dan G2G (Government to Government).

Beberapa manfaat dari e-government adalah:(1) pelayanan servis yang lebih baik kepada masyarakat. Informasi dapat disediakan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tanpa harus menunggu dibukanya kantor. Informasi dapat dicari dari kantor, rumah, tanpa harus secara fisik datang ke kantor pemerintahan. (2) peningkatan hubungan antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Adanya keterbukaan (transparansi) maka diharapkan hubungan antara berbagai pihak menjadi lebih baik. Keterbukaan ini menghilangkan saling curiga dan kekesalan dari semua pihak. (3) pemberdayaan masyarakat melalui informasi yang mudah diperoleh.
Dengan adanya informasi yang mencukupi, masyarakat akan belajar untuk dapat menentukan pilihannya. Sebagai contoh, data-data tentang sekolah: jumlah kelas, daya tampung murid, passing grade, dan sebagainya, dapat ditampilkan secara online dan digunakan oleh orang tua untuk memilihkan sekolah yang pas untuk anaknya. (4) pelaksanaan pemerintahan yang lebih efisien. Sebagai contoh, koordinasi antar orang di kota dengan orang di luar negeri dapat dilakukan melalui e-mail atau bahkan video conference. Bagi seseorang yang padat dengan aktifitasnya, hal ini sangat membantu. Tanya jawab, koordinasi, diskusi antara orang dapat dilakukan tanpa kesemuanya harus berada pada lokasi fisik yang sama. Tidak lagi semua harus melangkah ke pusat kota hanya untuk pertemuan yang berlangsung satu atau dua jam saja.

3. Bidang keuangan dan perbankan
Sistem transaksi pembayaran di indonesia terutama di kota-kota besar tidak lagi menggunakan uang tunai, melainkan telah memanfaatkan perbankan modern. Layanan perbankan modern yang belum merata ini dapat dimaklumi karena pertumbuhan ekonomi saat ini yang masih terpusat di kota-kota besar saja, yang menyebabkan perputaran uang juga terpusat di kota-kota besar. Sehingga sektor perbankan pun agak lamban dalam ekspansinya kedaerah-daerah.
Keberhasilan operasional sebuah lembaga keuangan/perbankan seperti bank, sudah pasti memerlukan sistem informasi yang tangguh dan dapat diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada sistem informasi online, sebagai contoh, seorang nasabah dapat menarik uangnya dimanapun berada selama masih ada layanan ATM dari bank tersebut, atau dapat mengecek saldo dan mentransfer uang tersebut ke rekening yang lain, hanya dalam hitungan menit saja, semua transaksi dapat dijalankan.

Ketiga bidang diatas hanyalah beberapa contoh dari keunggulan teknologi informasi, yang faktanya adalah hal itu telah melahirkan suatu sistem yang baru dalam pola hidup manusia, terlebih lagi bagi umat Islam -mau tidak mau- harus mampu memanfaatkan teknologi ini dalam menyebar luaskan dakwah kemanapun, kapanpun dan dimanapun. Sehingga bermunculan nantinya sistem pendidikan Islam online, sistem ekonomi syariah online dan lain sebagainya.

D. Sinergitas Sesama Muslim
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah Swt sesungguhnya Allah Swt maha berat siksa-Nya” Demikianlah 14 abad yang lalu Allah Swt mensiyalir akan urgennya senergi sesama muslim, terlebih pada era globalisasi saat ini.
Era teknologi informasi berimplikasi pada cepatnya transformasi dalam berbagai bidang, baik itu madzhab, aliran ataupun pemikiran. Sehingga memungkinkan pemahaman-pemahaman yang salah tentang Islam dapat memecah belah umat. Perpecahan tersebut berdampak pada runtuhnya kebudayaan Islam, mudahnya umat Yahudi dan Nasrani dalam memerangai dakwah Islamiyah, Yahudi -dengan bantuan negara-negara kafir- menjajah tanah suci (Palestina) dan mendirikan sebuah negara baru di dalamnya pada tahun 1948 M hingga saat ini.

Sudah saatnya ummat Islam kembali bersatu dan mengenyampingkan semua kepentingan-kepentingan madzhab, golongan ataupun aliran guna menghidupkan kembali masyarakat madani seperti zaman keemasan Islam dahulu. Terbukti dengan bersinerginya ummat Islam dapat menggetarkan dunia, sebut misalnya Denmark, ketika muncul fatwa mengenai boikot produk-produknya -akibat ulah tangan para penghina Nabi ummat ini- mengalami kerugian yang tidak terkira, muslimah Turki akhirnya diperbolehkan menggenakan jilbab dalam perkuliahan maupun perkantoran dan lain sebagainya.

E. Sinergitas Dalam Meraih Izzul Islam Wa Muslim.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah Swt. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan merka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran [3] 110)

Sebelumya kita telah membicarakan sinergitas ummat pada era teknologi informasi, mari kita melangkah kepada tujuan dari sinergi itu sendiri, yakni meraih ‘izzul Islam wal muslim(kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Karena suatu aktivitas tanpa tujuan hanyalah kebodohan, maka, demi meraih kemuliaan tersebut sebagai tujuan diperlukan kesadaran umat untuk bersinergi. Bukankah dengan kemulian Islam berdampak positif bagi kemajuan umat, seperti abad-abad pertama Hijriyah, ketika Rasulullah Saw membawa risalah suci dengan tujuan yang mulia akhrinya terbentuk masyarakat madani di Yatsrib (Madinah Munawwarah), Khalifah Ar-Rasyidun, dengan tujuan yang mulia mampu mengadakan futuhat-futuhat (pembebasan) diberbagai belahan dunia, Shalahuddi al-Ayyubi dengan tujuan yang mulia akhirnya dapat membebaskan al-Quds dengan perdamaian dan lain sebagainya.

Sinergitas dalam meraih kemuliaan Islam dan muslimin sangatlah diperlukan guna mempermudah jalan dakwah terlebih di era teknologi dan informasi yang mana arus perubahan begitu radikal, sehingga sarana-sarana yang ada haruslah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka dari itu, umat Islam harus mampu menguasai teknologi informasi dan menfokuskannya pada salah satu bidang agar efektif, yang seterusnya -bersama-sama dengan muslimin yang lain- mendakwahkan Islam melalui sarana yang dikuasainya dan kesemuanya itu tidak lain hanyalah untuk izzul Islam wal muslimin.

PENUTUP

Ada sekian banyak potensi yang bisa dikembangkan dalam dunia TI dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam. Contoh yang paling mudah adalah internet dan CD interaktif.

Dengan keduanya, kita bisa membangun kampus dan sekolah digital. Di dalamnya tersedia semua materi pengajaran Islam. Mulai dari pelajaran bahasa arab, praktek ibadah, ilmu syariah, ilmu Al-Quran, ilmu hadits, sejarah, informasi perkembangan dunia Islam dan seterusnya.

Bahkan dengan kemajuan multi media hari ini, pengajaran ilmu-ilmu keislaman bisa disampaikan dengan audio visual. Sehingga untuk belajar gerakan sholat, wudhu, tayammum, manasik haji, kita bisa membuat simulasi 3D seperti yang kita lihat pada playstation dan game. Tentu akan jauh lebih jelas dan mudah dicerna para pengguna. Apalagi bila dikemas dalam bentuk games, maka akan menjadi edutainmen yang menarik sekaligus bisa sambil dakwah.

Dan pada prinsipnya, membuat semua itu tidak terlalu sulit. Sebab ada sekian banyak software yang bisa digunakan untuk membuatnya. Juga ada sekian banyak potensi tenaga ahli TI dari umat Islam yang belum mendapat lahan untuk beramal.

Yang kurang adalah kesadaran para ahli TI muslim itu sendiri yang hingga kini masih berpikir sekedar mencari uang dari TI. Sedangkan bagaimana berdakwah dan beramal jariah dengan potensi yang mereka miliki, masih jarang sekali yang mau melakukannya. Padahal tidak perlu dipungkiri bahwa potensi tenaga TI dalam tubuh ummat Islam itu sangat banyak, mulai dari yang pemula sampai kelas dunia.

Bila mereka itu bisa duduk bersama dengan para ustaz dan ulama, hasilnya adalah serbuan produk program TI yang berdimensi dakwah dan pengajaran Islam. Bahkan bila para aghniya’ (orang mampu) juga diajak duduk bersama, maka semua CD interaktif itu bisa dibagikan gratis di pinggir jalan.

Padahal satu CD yang harga penggandaannya tidak lebih dari 3000-an perak itu bisa memuat seluruh kurikulum modul perkuliahan sebuah Universitas Islam.

Misalnya, jika kita punya paket CD program kitab klasik berbahasa arab. Masing-masing CD itu ada yang berisi 1000 jilid kitab, 700 kitab dan lainnya. Artinya cukup dengan membawa sebuah tas kecil yang berisi 30-an CD program itu, kita seolah sudah membawa beberapa universitas Islam plus perpustakaan digital. Sayangnya, semua itu masih berbahasa arab dan masih utuh sebagaimana kitab aslinya. Belum lagi dikemas dalam bahasa indonesia dengan program interaktifnya.

Tapi lepas dari semua itu, sebenarya TI adalah potensi yang luas biasa. Modalnya hanya sebuah komputer second dengan harga 1,5 jutaan, seorang muslim sudah bisa belajar sendiri tanpa guru di depan layar monitor. Dia bisa mengaduk-aduk isi CD program itu dan jadi pinter dengan sendirinya.

Referensi
1. Al-Quran
2. Banu Israil fil Quran wa sunah, lifadhilatil Imam Akbar Dr. Sayyid Thanthawi syaikh al-
Azhar dar Syuruq Kairo
3. Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia, Wawan Wardiana
4. Situs Resmi Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
5. www.republika.co.id
6. Situs Resmi Badan Penelitian dan Pengembangan SDM – Depkominfo RI
7. http://www.al-islam.com/ind
8.http://youngmuslimsindo.multiply.com/journal/item/16
9. http://www.itb.ac.id/news/191

title : 12 Praktek Keamanan Terbaik Bagi Pengguna PC
summary : Apa yang bisa dilakukan pengguna PC untuk menjamin keamanannya saat menggunakan internet? Simak 12 tips berikut ini. (read more)

1. DATA

Sampel X Y X2 Y2 XY x x2 y y2 xy
1 20 16 400 256 320 6 36 6 36 36
2 20 12 400 144 240 6 36 2 4 12
3 12 10 144 100 120 -2 4 0 0 0
4 12 8 144 64 96 -2 4 -2 4 4
5 6 4 36 16 24 -8 64 -6 36 48
S 70 50 1124 580 800 0 144 0 80 100
Rata-rata 14 10

2. Model Regresi Y = a + b.X
b = Sxy/Sx2
~= 0.694444444
a = Y - b X
10 - 9.722222222
0.277777778

Y = 0,28 + 0,69 X

3. Jumlah Kuadrat
a. Total JK(T) = SY2 ~= 580
b. Regresi a: JK (a) = (SY)2/n
~= 502/5
~= 500
c. Reduksi : JK (R) = JK(T) – JK(a) = 80
d. Regresi b: JK (b)=b.Sxy = 69.44444444
e. Sisa : JK (s) = JK (R) – JK (b) = 10.55555556
f. Galat JK (G) = S{Sy2k) = (162+122) – (16+12)2/2 + (102 + 82) -(10 + 8)2/2 + 0
10
g. Tuna Cocok JK (TC) = JK (S) – JK (G) = 0.555555556

4. Tabel ANAVA
Sub. Varian db JK RJK Fh Ft
Total 5 580
Reg.a 1 500 500
Reg.b 1 69.44444444 69.44444444 19.73684211 …10,3…
sisa 3 10.55555556 3.518518519
Tuna Cocok 1 0.555555556 0.555555556 0.111111111 …18,51..
galat 2 10 5

5. Uji signifikansi regresi
a. Ho b = 0
Hi b ¹ 0
Karena Fh (19.737) > Ft (10.3) , maka Ho ditolak
artinya ada hubungan berbentuk regresi secara signifikan
b. Ho Y = a + b X
Hi Y ¹ a + b X
Karena Fh (0,111) < Ft (18,51), maka Ho diterima
Artinya hubungan antara X dan Y berbentuk regresi linier sederhana

Membangun Digital Library
Preservasi dan Diseminasi Kekayaan Intelektual

Kosasih Iskandarsjah
Direktur, PT Esolusi Pirantikita Esa

Dibawakan pada tanggal 27 Maret 2008 di
P4TK – BMTI, Jl. Pesantren Km. 2, Cibabat, Cimahi, Jawa Barat

Memahami Digital Library

Banyak pihak yang mencampuradukkan istilah digital library, virtual library dan library automation. Pertama kali kita keluarkan dulu library automation sebagai sesuatu yang sama sekali lain.

Library automation (otomatisasi perpustakaan) adalah suatu system yang menggunakan teknologi informasi untuk mengelola suatu perpustakaan, termasuk pendaftaran anggota, peminjaman buku dan pengembaliannya (disini termasuk teknologi RFID, barcode scanner, dan lain-lain), serta analisa profil pemakaian perpustakaan oleh anggotanya. Sistem otomatisasi perpustakaan dapat saja mempunyai komponen perpustakaan digital, namun koleksi utama perpustakaan itu biasanya sebagian besar merupakan koleksi cetakan atau koleksi audio dan video dalam bentuk fisik (pita kaset, CD, DVD).

Digital library (perpustakaan digital) menandakan bahwa semua koleksinya berbentuk digital dan sama sekali tidak ada koleksi cetakannya. Digital library dapat merupakan bagian dari perpustakaan secara umum atau berdiri sendiri. Digital library mungkin dapat diakses melalui Internet (menjadi virtual library) atau hanya tersedia di jaringan local (tetap merupakan real library).

Virtual library dikonotasikan sebagai digital library, namun pada dasarnya tidak harus hanya berupa koleksi digital. Virtual library adalah konsep yang dipandang dari sisi pengakses informasi yang disini informasi diperoleh dari perpustakaan yang seolah-olah ada dalam satu tempat (padahal tidak). Internet pada dasarnya adalah suatu virtual library yang sangat besar dan suatu virtual library pada dasarnya harus dapat diakses dari jarak jauh (dan kini hal ini berarti menggunakan Internet).

Selain tiga definisi besar di atas, terdapat lagi beberapa komponen yang merupakan atau dikelirukan dengan digital library, di antaranya adalah: open archive, online catalogue, atau bahkan sekedar portal.

Penulis sempat melakukan penelitian sumir terhadap beberapa perpustakaan yang dapat diakses melalui internet dan hasilnya dapat dilihat di Tabel 1. Terlihat bahwa uniuversitas-universitas negeri yang utama sebagian besar menggunakan Ganesha Digital Library yang dikembangkan di Perpustakaan ITB yang merupakan digital library yang sekaligus library automation dan juga online catalogue.

Tabel 1. ‘Digital Library’ dari Berbagai Universitas

Universitas Sistem yang Digunakan Klasifikasi

ITB Central Library Ganesha Digital Library digital library
Univ. Muhammadiyah Solo Ganesha Digital Library digital library
Airlangga University Ganesha Digital Library digital library
Univ. Gunadarma, Jakarta Ganesha Digital Library digital library
Univ. Komputer Indonesia, Bandung Ganesha Digital Library digital library
UI Central Library Ganesha Digital Library digital library
Univ. Ahmad Dahlan Ganesha Digital Library digital library
Univ. Sumatra Utara Ganesha Digital Library digital library
STMIK & AMIK Logika Ganesha Digital Library digital library
UMS Digital Library GNU ePrints open archive
Fasilkom UI WordPress + PKP Open Archive Harvester open archive
Perpustakaan UPI WordPress + PKP Open Archive Harvester open archive
Univ. Andalas Digilib + OPAC open archive
ITS PKP Open Archive Harvester open archive
Univ. Gajah Mada Portal i-Library Yogyakarta library automation
Univ. Sanata Darma NCI Bookman library automation
Univ. Kristen Petra + 12 others Incuvl portal to internet resources library automation
Bina Nusantara ASP online catalog
Brawijaya University ASP + Arcsin CSS template online catalog
Univ. Negeri Yogyakarta PHP online catalog
Univ. Muhammadiyah Yogya PHP online catalog
ISTA Akprind online catalog
STIE Malangkucekwara online catalog
Univ. Mulawarman PHP online catalog
Unisba HTML online catalog
Univ. Diponegoro Mambo online catalog
Univ. Dian Nuswantoro PHP online catalog
Univ. Widya Mandala PHP online catalog
FE Unpad ASP online catalog
Jar. Perpus. L. Hidup PHP Portal (Mambo or Joomla) online catalog
Universitas Jambi Joomla online catalog
UIN Syarif Hidayatulah PHP portal online catalog
Universitas Surabaya Mambo online catalog
Universitas Lampung Coppermind Photo Gallery Portal

Perpustakaan digital penuh
Sudah mendekati perpustakaan digital
Pada dasarnya bukan perpustakaan digital, tetapi pada library automation mungkin terdapat komponen digital library
Salah satu tanda digital library yang sesungguhnya adalah selain kontennya berbentuk digital, juga klasifikasinya menggunakan sistem digital. Disini umumnya digunakan MARC – Machine-Readable Cataloging) yang kompleks atau Dublin Core yang minimalis. Dengan demikian beberapa perpustakaan yang mendigitasi koleksinya (umumnya terbatas pada disertasi, tesis dan skripsi) sudah dapat dikatakan mendekati karakter suatu perpustakaan digital. Konsep open archive diikuti oleh perpustakaan jenis ini, yang memungkinkan informasi koleksinya dikumpulkan oleh mesin pencari khusus: open archive harvester.

Banyak perpustakaan universitas yang menyediakan catalog online dan universitas-universitas ini berbagi koleksinya dengan universitas-universitas lain. Inisiatif ini pada dasarnya bukanlah perpustakaan digital sebab kontennya sama sekali bukan digital, hanya katalognya yang digital. Bahkan ada yang hanya menggunakan portal koleksi foto dan menyebutnya sebagai perpustakaan digital (dan tentunya sama sekali bukan).

Dunia Perpustakaan Digital

Konsep perpustakaan digital sudah dibayangkan orang sejak tahun 1932 yang dapat dilihat di situs YouTube sebagai berikut:

Internet sebagai yang kita kenal sekarang sudah merupakan suatu digital virtual library (perpustakaan digital maya). Disebut maya sebab dengan hanya memiliki computer dan akses internet maka seolah-olah kita mempunyai koleksi informasi apa saja. Disebut digital sebab konten dari Internet berbentuk berkas digital. Berkas digital disini tidak harus hanya berupa teks, melainkan juga audio atau video (multimedia).

Yang masih kurang dari Internet adalah klasifikasi konten, jadi selain di Internet terdapat banyak perpustakaan maya, setiap orang atau lembaga juga dapat memanfaatkan Internet untuk membentuk perpustakaan mayanya sendiri, baik dengan menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia di Internet maupun menggunakan bahan-bahannya sendiri yang selama ini tersembunyi di gudang-gudang arsip.

Dengan memanfaatkan karakter-karakternya, Perpustakaan Digital dapat dibentuk dengan berbagai tujuan. Berikut ini beberapa contoh di antaranya:

Mendukung Pengembangan Kemanusiaan

Kataayi adalah organisasi kerakyatan di desa kecil Kakunyu di pedalaman Uganda. Dalam beberapa tahun terakhir mereka mencontohkan pembuatan tangki penampungan air hujan dari ferosemen, memanfaatkan energi yang terperbaharui seperti energi matahari, angina dan biogas serta membangun berbagai industri local diantaranya pembuatan genteng dari tanah liat.

Namun walaupun sumber daya manusia berlimpah, informasi sangat terbatas. Perpustakaan terdekat terdapat di Masaka, kota kecamatan yang jaraknya 20 km dari Kakunyu yang harus dilalui dengan melewati jalan yang jauh dari mulus. Bahkan di Masaka sendiri tidak terdapat e-mail ataupun akses Internet.

Karena mempunyai keyakinan akan pentingnya informasi, mereka menyediakan computer dan peralatan pembangkit listrik tenaga matahari. Menyediakan akses e-mail melalui telepon seluler dan mengadakan program pelatihan computer. Selanjutnya mereka membangun perpustakaan digital koleksinya didapat dari The Humanity Development Library (suatu lembaga PBB) dalam bentuk CD ROM dari 1200 buku yang sesuai yang berasal dari berbagai organisasi nirlaba.

Apabila 1200 itu harus disediakan dalam bentuk cetakan maka beratnya sekitar 340 kg, senilai US$20.000 dan memerlukan tempat khusus untuk penyimpanannya. Namun kini dengan perpustakaan digital semuanya dapat disediakan dalam bentuk CD ROM.

Menerbitkan Karya Ilmiah Mutakhir

Penelitian ilmiah berlangsung di mana-mana dan setelah melalui proses penelaahan oleh mitra bestari perlu diterbitan secepat mungkin agar hasilnya dapat segera disebarluaskan dan mempercepat proses peningkatan pengetahuan kemanusiaan.

Kini, selain tetap menjaga integritas, karya-karya ilmiah dapat diterbitkan secara online dalam waktu singkat. Para peneliti dapat menempatkan dalam server milik universitasnya sebelum diterbitkan secara resmi baik oleh penerbit open access maupun penerbit komersdial. Bahkan penerbit-penerbit komersial besar seperti Elsevier kini mengizinkan penulis memuat karyanya (setelah disunting tetapi belum di-layout) untuk dimuat di server milik kampus (university repository).

Hal ini dimanfaatkan oleh mesin pencari seperti Google Scholar yang mengindeks semua karya ini agar dapat diperoleh oleh para peneliti lain. Untuk membuat karya-karya ini lebih cepat dan mudah didapati oleh para peneliti lain, berbagai inisiatif sudah terdapat, diantaranya Open Archive Initiative, CrossRef – Digital Object Identifier (DOI), serta berbagai format A&I (Abstracting & Indexing).

Pelestarian Budaya Tradisional

Budaya-budaya tradisional (bahasa, musik, tari-tarian, motif tekstil) semakin banyak tidak dikenali lagi. Para penjaga budaya pada saatnya akan meninggal dan apabila tidak ada penerusnya maka tidak akan ada lagi budaya tersebut.

Setiap perpustakaan setempat merupakan lembaga yang paling mungkin untuk melestarikan budaya setempat dan inilah yang dilakukan oleh Universitas Kristen Petra di Surabaya. Tanpa menyediakan anggaran khusus, Perpustakaan Kristen Petra menyiapkan Desa Informasi, yang selain memuat versi digital dari koleksi skripsi, tesis dan disertasi milik universitas ini, juga memelihara koleksi foto Surabaya Memory (http://www.petra.ac.id/desa-informasi/)

Eksplorasi Musik Populer (Juga Video dan Multimedia Lain)

Musik menandai suatu zaman, suatu generasi dan juga identitas kelompok. Musik berevolusi dari waktu ke waktu dan semua ini dapat disimpan dalam format digital dan dapat diakses oleh siapa saja yang memerlukannya. Inilah bentuk lain dari perpustakaan digital.

Masalah hak cipta dapat diatasi dengan tetap membiarkan berkas digital dari musik atau video tersebut tetap terletak pada server aslinya. Yang dibangun oleh perpustakaan digital disini hanyalah metode aksesnya. Ini sudah dilakukan oleh www.edu2000.org yang membentuk catalog dari berbagai video pendidikan yang diperoleh dari berbagai situs video sharing tanpa memindahkan file tersebut dari server aslinya.

Infrastruktur Teknologi untuk Digital Library

Kita akan membatasi pembahasan pada berbagai teknologi yang bersifat tersedia untuk umum dan bukan yang bersifat komersial, sehingga setiap orang atau setiap lembaga yang berminat mengembangkan perpustakaan digital dapat segera mewujudkan cita-citanya tanpa harus terhambat oleh biaya lisensi atau ketidaktersediaan suatu produk komersial.

Yang pertama kali diperlukan adalah computer yang kiranya sudah bukan masalah lagi di banyak tempat, apalagi di suatu lembaga pendidikan atau pelatihan. Komputer ini dapat tersedia dalam bentuk jaringan local dan lebih baik lagi apabila terhubung ke Internet dengan koneksi broadband. Tergantung pada tujuannya, mungkin diperlukan pengganda CD atau pengganda DVD yang kini juga sudah bukan masalah besar.

Yang lebih penting adalah software yang digunakan. Ada dua software yang dianjurkan mengingat keduanya sudah mengikuti kaidah klasifikasi konten digital yaitu Dublin Core, yang jauh lebih sederhana dibandingkan MARC. Klasifikasi sederhana Dublin Core dibandingkan MARC ini dikarenakan bahwa pada konten digital informasi berubah dengan cepat dan klasifikasi harus dapat secara fleksibel mengikuti perkembangan ilmu dan bukannya klasifikasi kaku untuk jangka panjang.

Untuk koleksi buku, skripsi, disertasi, tesis, manual, berkala popular dan jenis-jenis konten berbentuk teks lainnya (yang dimaksud teks disini dapat berupa PDF, word processor, ataupun HTML) dianjurkan menggunakan Greenstone Digital Library yang dapat di-download di sini:

http://www.greenstone.org/

Untuk koleksi berkala ilmiah yang memerlukan fasilitas untuk sitasi dan memperhatikan konsep preservasi dan inseminasi ilmu pengetahuan, dianjurkan menggunakan Open Journal System (OJS) yang dapat di-download di sini:

http://pkp.sfu.ca

Untuk koleksi audio, video dan multimedia, tergantung pada tujuannya dapat digunakan juga Greenstone Digital Library atau software-software CMS (Content Management System) yang kini sudah sangat popular, diantaranya Mambo dan Joomla! Penulis sendiri lebih cenderung merekomendasikan Joomla! Yang dapat di-download di sini:

http://www.joomla.org/

Menyusun Konsep Perpustakaan Digital

Membangun suatu perpustakaan digital adalah suatu usaha besar yang memerlukan perencanaan yang seksama. Kita harus sadar bahwa menyebarluaskan setiap jenis informasi berimplikasi pertanggungjawaban tertentu. Yang pertama adalah hak cipta: bahwa anda memiliki suatu dokumen bukan berarti anda dapat memberikannya pada orang lain. Yang kedua adalah masalah sosial: suatu dokumen harus menghargai kebiasaan dan komunitas tempat diproduksinya dokumen itu. Teralkhir adalah masalah etis: ada hal-hal yang memang tidak layak disajikan pada orang lain.

Sumber Koleksi

Pertanyaan mendasar mengenai sifat suatu perpustakaan digital yang hendak anda ciptakan adalah: apa tujuannya, apa prinsip dalam menyertakan suatu dokumen dalam koleksi, dan apa yang membedakan satu dokumen dari yang lain.

Berikutnya adalah tiga scenario mengenai sumber koleksi untuk perpustakaan digital anda:
• Perpustakaan yang ada hendak dikonversi ke bentuk digital
• Mempunyai akses ke suatu kumpulan bahan yang hendak disajikan dalam bentuk digital
• Menyediakan suatu portal yang terorganisasi terhadap keperluan tertentu dari bahan-bahan yang sudah terdapat di Internet

Organisasi Bibliografis

Ada tiga tujuan system bibliografi: finding, collocation, dan choice. Tujuan pertama, finding, adalah untuk memungkinkan seseorang mendapatkan sebuah buku (atau artikel atau lainnya) berdasarkan penulis, judul, atau subyeknya. Ini mecakup mendapatkan informasi dalam database, mengkonfirmasi identitasnya, dan mungkin mengetahui dimana dapat diperoleh dana apakah sudah tersedia.

Tujuan kedua, collocation, adalah untuk menunjukkan apa yang dipunyai oleh perpustakaan sehubungan dengan karya oleh penulis yang sama, subyek yang sama, atau jenis kepustakaan yang sama. ‘Collocation’ bermakna menempatkan bersama-sama dalam urutan yang seharusnya dan ini dapat mencakup beberapa bidang informasi yang berlainan.

Tujuan ketiga, choice, dimaksudkan untuk membantu memilih buku (atau artikel atau lainnya) secara bibliografis atau menurut topiknya.

Modus Akses

Tujuan perpustakaan adalah memberikan akses pada public dan perpustakaan digital mempunyai potensi luar biasa dalam memperluas akses. Dengan perpustakaan digital kita tidak harus dating ke perpustakaan, melainkan perpustakaan yang datang ke kita.

Apabila perpustakaan digital disediakan melalui Internet maka harus dibedakan mana dokumen yang dapat diakses oleh umum dan yang mana yang memerlukan otentikasi.

Digitasi Dokumen

Apabila suatu dokumen masih mempunyai berkas aslinya (Microsoft Word ataupun PDF) maka dokumen itu pada dasarnya sudah dalam bentuk digital. Tidak demikian halnya dengan koleksi dokumen lama ataupun naskah yang berkas aslinya sudah tidak diketahui ada dimana.

Digitasi dokumen memerlukan scanner dengan OCR (Optical Character Recoqnition). Apabila dokumen itu begitu tua dan huruf-huruf serta layoutnya tidak terlalu beraturan, mungkin cukup di-scan menjadi berkas digital saja dan informasi tentang dokumen ini cukup disediakan lewat metadata tentang dokiumen itu.

Presentasi Perpustakaan Digital

Presentasi suatu perpustakaan digital dimulai dengan software yang dipilih. Baik software Greenstone Digital Library, Open Journal System ataupun Content Management System mempunyai tampilan standarnya masing-masing. Tampilan ini dapat diubah dengan sedikit mengubah kodenya. Pada OJS atau Joomla yang dibuat dengan menggunakan PHP, pengubahan tampilan relatif mudah dilakukan. Greenstone Digital Library (menggunakan C++ dan di-compile menjadi berbagai macam macro) juga dapat diubah tampilannya walaupun tidak sefleksibel software yang dibuat dengan PHP.

Presentasi Dokumen

Dokumen dalam perpustakaan digital mungkin terstruktur secara hirarkis atau sama sekali tidak terstruktur. Dokumen yang terstruktur mungkin sudah dalam format HTML atau XML sedangkan yang tidak terstruktur mungkin berasal dari dokumen-dokumen lama. Proyek Gutenberg yang dicanangkan tahun 1971 mempunyai tujuan ambisius menyediakan satu triliun kesusatraan dalam bentuk berkas elektronik pada tahun 2001. Proyek ini akhirnya baru dimulai tahun 1991 dan tujuannya dikurangi menjadi 10.000 berkas elektronik dalam waktu 10 tahun.

Gambar dan Teks

Suatu halaman mungkin berisi teks dan gambar. Paling baik apabila teks dapat diakses sebagai teks (misalnya HTML) dan gambar sebagai berkas grafik dengan penampilan masih serupa dengan tampilan cetakan aslinya.

Koleksi digital Majalah Neotek (www.neotek.co.id) kini masih hanya dapat diperoleh dalam format PDF, namun sekarang sedang berlangsung upaya oleh bekas redaktur pelaksana Neotek, Rody M. Candera untuk menmpilkan majalah Neotek dalamn format HTML dengan latar belakang grafik halaman Neotek secara keseluruhan (mencakup grafik pada artikel serta frame halamannya).

Foto, Audio, Video, Musik, dan Bahasa Asing.

Kini menempatkan (embed) berkas audio, video, dan musik (berkas MIDI) sudah semudah foto biasa saja. Bahasa asing dengan karakter khusus (Cina, Jepang, Korea, Arab) juga sudah dengan mudah dapat ditampilkan pada browser yang mendukung Unicode.

Presentasi Metadata

Metadata atau ‘data tentang data’ pada koleksi digital, seperti telah disebut sebelumnya, menggunakan Dublin Core atau MARC. Selain itu untuk naskah-naskah matematik mungkin diperlukan standard metadata menurut BibTeX (untuk search notasi matematik) ataupun Refer (dasar dari software bibliografik yang populer, EndNote).

Searching dan Browing

Search dan browsing amat dibantu dengan adanya metadata yang baik. Mutu suatu perpustakaan digital amat tergantung pada kemudahan search dan browsing dan itu tergantung pada sejauh mana pengurus perpustakaan digital menaruh perhatian terhadap metadata koleksinya.

Contoh Koleksi Perpustakaan Digital (Demo)

Tiga jenis perpustakaan digital yang menggunakan tiga jenis software yang telah dibahas sebelumnya akan dibahas:

Greenstone Demo
Contoh koleksi berkas elektronik tersetruktur (HTML).
Menggunakan Greenstone Digital Library.

Hayati
Contoh koleksi berkas elektronik tidak terstruktur (PDF).
Menggunakan Greenstone Digital Library.

Berkala Penelitian Hayati
Contoh koleksi artikel-artikel jurnal dengan berkas elektronik tidak terstruktur (PDF).
Menggunakan Open Journal System.

Edu2000.org
Contoh koleksi maya dari video clip yang terdapat di Internet.
Menggunakan Joomla! CMS.

Apa yang Paling Tepat untuk TEDC?

Apabila TEDC berminat membangun perpustakaan digital, maka kembali harus mendalami bagian Menyusun Konsep Perpustakaan Digital.

Mulai dengan Ideologi, yaitu konsep yang jelas mengenai apa yang hendak dicapai dengan terbentuknya perpustakaan digital di TEDC. Ideologi dapat ditentukan dengan mendalami:
1. Untuk apa adanya koleksi digital
2. Tujuan yang hendak dicapai
3. Prinsip dalam menyertakan dokumen dalam koleksi
4. Prinsip mengenai apa yang tidak boleh disertakan dalam koleksi

Selanjutnya harus jelas pembedaan karya (work) dengan dokumen. Dalam dunia cetak suatu karya berbentuk jelas yaitu buku cetakan, namun dalam dunia digital bias terdapat banyak versi dari suatu dokumen dan apakah setiap versi dokumen itu perlu diarsip?

Mengingat TEDC menghasilkan banyak bahan-bahan pelatihan, maka software yang kiranya sesuai adalah Greenstone Digital Library. Terdapat godaan untuk menggunakan yang paling mudah digunakan dan langsung kelihatan hasilnya, yaitu CMS (Mambo atau Joomla!). Namun CMS tidak mampu memanfaatkan dokumen yang terstruktur, sifat dokumen yang amat penting untuk membentuk perpustakaan digital yang komprehensif.

Khusus untuk jurnal yang diterbitkan oleh TEDC, dianjurkan untuk cukup diikutsertakan dalam inisiatif journal.discoveryindonesia.com. TEDC tidak banyak menerbitkan jurnal dan jurnal bukanlah prioritas dalam tugas sehari-hari staf TEDC sehingga bergabung dengan jurnal lain akan memberikan dampak positif yang lebih besar dibandingkan dikelola sendiri.

III. SEMUA KEGIATAN HARUS BERORIENTASI PADA TUJUAN HIDUP MANUSIA

Sungguh bahwa allah SWT menempatkan Manusia keseluruhan sebagai Bani Adam dalam kedudukan yang mulia, “Walaqad karramna Bani Adam.”
(Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan identitas yang
berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat
yang satu dengan yang lainnya (Q/49:13). Tiap-tiap umat diberi
aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Tuhan mau,
seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan umat. Allah SWT
menciptakan perbedaan itu untuk memberikan peluang berkompetisi
secara sehat dalam menggapai kebajikan, “fastabiqul
khairat.”(Q/5:48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh rasul
SAW, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara satu dengan
yang lainnya, “Wakunu ‘ibadallahi ikhwana.”(Hadist Bukhari).
Pandangan hidup yang berorientasi ketuhanan ini terkait erat dengan pandangan bahwa manusia adalah puncak ciptaan Tuhan, yang diciptakan-Nya dalam sebaik-baik kejadian. Manusia berkedudukan lebih tinggi daripada ciptaan Tuhan lainnya, dimanapun di seluruh alam, malah lebih tinggi daripada alam itu sendiri. Tuhan telah memuliakan manusia. Oleh sebab itu, manusia harus menjaga harkat dan martabatnya itu, dengan tidak bersikap menempatkan alam atau gejala alam lebih tinggi daripada dirinya sendiri , atau menempatkan seseorang, atau diri sendiri, lebih tinggi daripada orang lain.
Pada hakikatnya, manusia diciptakan sebagai makhluk yang baik (fithrah), oleh karena itu masing-masing pribadi manusia harus berpandangan baik kepada sesamanya dan berbuat baik untuk sesamanya. Sebaliknya, sebagai ciptaan yang lebih rendah daripada manusia, alam ini disediakan oleh Tuhan bagi kepentingan manusia untuk kesejahteraan hidupnya, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat material. Alam diciptakan Tuhan sebagai wujud yang baik dan nyata , dan dengan hukum-hukumnya yang tetap.
Manusia harus mengamati alam raya ini dengan penuh apresiasi, baik dalam kaitannya dengan keseluruhannya yang utuh maupun dalam kaitannya dengan bagiannya yang tertentu,guna menghayati keagungan Allah SWT, sebagai dasar kesejahteraan spiritual setiap insan manusia.

Dengan memperhatikan alam itu, terutama gejala spesifiknya, manusia dapat menemukan pedoman dalam usaha memanfaatkannya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan prinsip ini, manusia dapat mengemban tugas membangun dunia ini dan memeliharanya sesuai dengan hukum-hukumnya yang berlaku dalam keseluruhannya secara utuh , demi usaha mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi.
Di atas segala-galanya, manusia juga harus senantiasa berusaha menjaga konsistensi dan keutuhan orientasi hidupnya yang luhur , dengan senantiasa memelihara hubungan dengan Tuhan, dan dengan perbuatan baik kepada sesama manusia. Perbuatan baik kepada sesama manusia yang dilakukan dengan konsisten, tujuan luhurnya adalah menuju rida-Nya, bukan semata-semata dengan mengikuti dan menjalankan segi-segi formal lahiriah ajaran agama, seperti ritus keagamaan.
Oleh karena itu, manusia harus bekerja sebaik-baiknya, sesuai bidang masing- masing, menggunakan setiap waktu lowong secara produktif dan senantiasa berusaha menanamkam kesadaran Ketuhanan dalam dirinya. Manusia dalam pandangan Allah SWT tidak memperoleh apa-apa kecuali yang ia usahakan sendiri, tanpa menanggung kesalahan orang lain. Ini berarti manusia harus manyadari bahwa semua perbuatannya, baik dan buruk, besar dan kecil, akan dipertanggungjawabkan dalam Pengadilan Ilahi di Hari Kemudian, dan manusia akan menghadapi Hakim Maha Agung, mutlak sebagai pribadi-pribadi, sebagaimana ia juga adalah seorang pribadi ketika Tuhan menciptakannya pertama kali.
Karena iman, manusia menjadi bebas dan memiliki dirinya sendiri secara utuh, sebab ia tidak tunduk kepada apapun selain kepada Sang Kebenaran, yaitu Allah SWT. Ini dinyatakan dalam kegiatan ibadah yang hanya ditujukan kepada Tuhan semata, tidak sedikitpun kepada yang lain, karena sadar akan Ke-Maha-Agung-an Tuhan. Namun, dengan iman ini manusia juga hidup penuh tanggung jawab, karena sadar akan adanya Hari Akhirat. Ini secara amaliah dinyatakan dalam sikap memelihara hubungan yang sebaik-baiknya dengan sesama manusia berwujud persaudaraan, saling menghargai, dan saling membantu, karena sadar akan makna penting usaha menyebarkan perdamaian(salam) antara sesamanya.
Manusia seringkali melupakan Allah setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana firman-Nya dalam Alquran, “…tetapi setelah setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya… ” (Q.S 10:12 ). Karena itu, Allah dengan keras menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Q.S 10:7 dan 8).
“… Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (Q.S 7:51). Pada ayat yang lain Allah menyatakan, “Barang siapa yang hidupnya di dunia ini buta mata hatinya, tidak mengetahui keberadaan diri tuhannya yang sangat dekat dan Wajib Wujud-Nya, maka kelak di akhirat juga akan lebih buta dan lebih sesat jalannya”. (Q.S 17: 72).
Dalam ayat yang lain Allah menegaskan, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak untuk memahami ayat Tuhan, mereka mempunyai mata tapi tidak untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang. Itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S 7:179).
Manusia tidak akan tahu kapan dipanggil Allah, atau meninggal, karena itu maka bersiaplah menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, belajar dan berusaha agar kita selalu siap, agar sewaktu-waktu mati datang, mati dengan selamat dan bahagia. Allah menjelaskan mati yang selamat adalah ” Wajah-wajah mereka (orang-orang beriman) pada hari itu — waktu datang mati/kiamat sugra — berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya” (Q.S.75:22-23). Dengan demikiam mati yang selamat adalah matinya seorang yang bertakwa yang hatinya selalu berzikir dan ingat kepada Allah dalam setiap tindakannya di dunia.

KESIMPULAN
• Setiap manusia memang harus memahami tujuan hidupnya, karena Manusia dalam pandangan Allah SWT tidak memperoleh apa-apa kecuali yang ia usahakan sendiri, tanpa menanggung kesalahan orang lain. Ini berarti manusia harus manyadari bahwa semua perbuatannya, baik dan buruk, besar dan kecil, akan dipertanggungjawabkan dalam Pengadilan Ilahi di Hari Kemudian.
• Setiap manusia wajib hukumnya merencanakan dan memiliki tujuan hidupnya, karena pada hakikatnya, manusia diciptakan sebagai makhluk yang baik (fithrah) dan memiliki akal daripada mahluk ciptaan Allah lainnya. Alam ini disediakan oleh Allah bagi kepentingan manusia untuk kesejahteraan hidupnya, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat material. Alam diciptakan Allah sebagai wujud yang baik dan nyata , dan dengan hukum-hukumnya yang tetap. Dan semua ini akan terwujud jika setiap insan manusia menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan agama serta selalu melangkah dengan berlandaskan ibadah serta ridho Nya.
• Manusia yang mengaku muslim dalam kegiatannya sering lalai dengan tujuan hidupnya, disebabkan melupakan ayat yang berbunyi; “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Q.S 10:7 dan 8).

Daftar Kepustakaan :
1. Almath, Muhammad Faiz, 1993, 1100 hadits terpilih. Jakarta :
Gema Insani
2. Abu Fathan Min Fadli Robbi, 2007, Kekuatan Sholat Dhuha,
Jakarta ; Multitama
3. Thalib, Muhammad, 1996, 50 Pedoman mendidik anak menjadi
shalih, Bandung ; IBS
4. Arifin, Bey, 1985, Kami Pilih Islam, Surabaya ; PT. Bina Ilmu
5. www. Islamonline.com

Next Page »