- Setiap anak didik mempunyai kemampuan berbeda-beda walaupun di sekolah dilakukan pembelajaran dengan metode yang sama, tapi kenapakah mereka berbeda. Faktor-faktor atau input apakah yang menyebabkan mereka itu berbeda ?
Penjelasannya ;Manusia adalah makhluk yang unik dan tidak ada yang sama antara dua manusia walaupun anak kembar, antara lain karena terdapat hubungan antara pendidikan dan lingkungan sosialnya, disamping faktor-faktor lainnya. Karena secara ilmiah manusia adalah mahluk multi dimensi, kesatuan aspek biologis, kultur dan spiritual. Selain itu manusia sebagai mahluk individual dan sosial, sebagai homo et culturam dapat dikatakan pengaruh lingkungan sosialnya dapat dijadikan ukuran keberadaan seseorang atau sekelompok orang dan dikenal dengan konsep civillisasi (Tamadun). Lingkungan sosial dan budaya merujuk kepada tingkah laku yang dipelajari sebagai bagian dari andil, atau peran serta anggota masyarakat. Lingkungan sosial dan budaya sebagai sistem nilai dan gagasan besar yang di hayati, ditampilkan oleh seseorang atau sekelompok manusia di lingkungan hidup tertentu di suatu kurun waktu tertentu, budaya dapat berbentuk nilai, aturan, pola prilaku dan tingkah laku. Selain itu budaya dapat dijadikan ukuran keberadaan seseorang atau sekelompok orang pada lingkungan tertentu. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta anak didik, melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Kaitannya antara konsep pendidikan dengan lingkungan sosial dan konfigurasinya dalam tindakan sosial, maka dapat dikatakan secara sosial empiris yang ada pada masyarakat di suatu daerah terbentuk akibat hasil sistem pendidikan yang diberlakukan di suatu negara tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan anak didik ;
- Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 – 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak_berfungsi_penuh(Clark,1986). - Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di
Masyarakat_dimana_ia_hidup.Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat_di_mana_ia_hidup.
Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi_pendidikan.2.Perkembangan_dan_Pengukuran_Otak
Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam_batas-batas_tipe_inteligensinya.
Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas “Prefrontal cortex” otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi “biofeedback” dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai_kemandirian_dan_keunggulan.
Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut_masih_menyimpan_berbagai_kemungkinan_lain.
“Celebral Cortex” otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut “corpus callosum”. Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan_berfikir_imaginatif_multidimensional_yang_memungkinkan_lebih_dari_satujawaban.
3.Kecerdasan_(Inteligensi)_Emosional
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa di inspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).
Ternyata bahwa emosi selain mengandung perasaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya_emosi_itu_adalah_impuls_untuk_bertindak.
Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya_sendiri,bekerjasama_secara_sinergis_dan_harmonis.
Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam_mempertahankan_hidup(Goleman,1995:11).
Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron_dalam_’pabrik’otak_ini.
Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.
Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat memberikan respons sebelum tercatat di neocortex. Jadi ada kemungkinan respons manusia sebelum ia berfikirAnak dengan kebutuhan khusus berbeda dengan anak “biasa” dalam hal :
- tingkat kecerdasan
- interaksi sosial dan komunikasi
- motorik kasar dan halus
Perlu digarisbawahi bahwa: setiap anak adalah pribadi yang unik. Karena itu setiap anak memerlukan pendekatan khusus. Jadi orang tua dan guru perlu membuat rencana pendekatan yang akan dipakai.Contoh pelayanan yang bisa diberikan untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah :
- bergabung dengan anak-anak “biasa” pada pelajaran tertentu : seni, olahraga
- bantuan khusus, tergantung kesulitan anak. Contoh : komputer (untuk anak yang sulit menulis), helper (untuk anak yang sulit berhubungn sosial), kursi khusus, strategi oral-motor (untuk membantu konsentrasi dengan menggerakkan mulut, misalnya menyediakan camilan saat belajar), rehat singkat (setiap 30 menit belajar, perlu jeda bbrp menit)
- menyediakan jam tertentu untuk terapi : terapi apa, oleh siapa, untuk anak yang mana dan harus sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak.
Tugas anak, sesuai dengan umur dan tingkat pertumbuhannya, adalah :
- Bina diri, yang mencakup : kebersihan diri, makan, minum, mengurus barang pribadi dan alat sekolah yang dipakai, kebersihan dan kerapian lingkungan.
- Bermain. Bagi anak, bermain = bekerja dan mengembangkan potesi diri, meliputi aspek lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
- Belajar, tapi tidak terbatas pada pelajaran sekolah saja. Sedangkan tugas guru adalah mencari apa yang akan diajarkan pada anak berkebutuhan khusus berdasarkan tingkat okupasi.
Kebutuhan anak pada umumnya adalah :
- Dasar : makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan (jaga dan obati)
- Rasa aman : cinta, penerimaan, tidak dicela tapi diberi penjelasan
- Diterima lingkungan : teman, guru
- Percaya diri : mampu kuasai keterampilan tertentu seperti pelajaran, aturan, bina diri
- Aktualisasi diri : ada motivasi internal Perlu diingat bahwa kebutuhan yang leih rendah harus dipenuhi lebih dahulu sebelum melangkah ke kebutuhan selanjutnya.
Bagaimana dengan anak dengan kebutuhan khusus? Sebelum diterima di sekolah, sebaiknya ada evaluasi dari suatu team multi disiplin (psikolog, dokter perkembangan anak, terapist) terhadap anak berkebutuhan khusus sebagai patokan dasar untuk bekerja sama dengan guru. Evaluasi itu meliputi :
- Persepsi auditori : pemahaman verbal. Apakah anak bisa memahami kata2 guru dengan baik, apakah anak sensitif terhadap suara yang berlebihan?.
- Persepsi visual : menguasai materi visual. Apakah anak kesulitan memahami huruf, grafik, bacaan?
- Proses berfikir : global atau detail.
- Koordinasi motorik : olahraga, menulis, prakarya
- Kemampuan memusatkan perhatian, tingkat kecerdasan dan kematangan emosi
Berdasarkan hasil evaluasi, pengamatan di kelas dan analisa (mengapa anak ini sulit mencapai tingkat perkembangan anak seumurnya?), rencanakanlan tujuan pendidikan dalam satu semester. Perlu disadari manfaat setiap mata pelajaran untuk perkembangannya saat ini dan relevansinya terhadap aktivitas harian anak. Contoh :
- A belum bisa mempergunakan sendok, motorik kasar dan halus kurang berkembang. Jadi, berikan aktivitas sensorimotor yang dapat mengembangkan kemampuan motorik agar pada akhir semester A bisa memakai sendok.
- B sulit konsentrasi, tulisan kacau, sulit bekerja di kelas yang ribut. Jadi, berikan aktivitas yang dapt membantu konsentrasi dan mengatasi ribut, perbaiki koordinasi motorik halus, dan evaluasi motivasi anak.
- C masalah motorik berat, tapi kecerdasan dan motivasi baik. Jadi, berikan alat bantu seperti mesin tik atau komouter.
- D prestasi nauk turun, sulit konsentrasi, perhatian mudah teralih, kecerdasan baik. Jadi, evaluasi lebih cermat, bila perlu konsultasi dengan psikolog yang faham masalah anak secara holistik.
Keberhasilan belajar ditentukan oleh 2 faktor : Nature dan Nurture. Nature adalah faktor bawaan anak dari lahir seperti : tingkat kecerdasan, bakat khusus, pole pengolahan info sensorik, dan masalah perkembangan yang disandang si anak. Nurture adalah faktor asuhan, didikan, lingkungan seperti pola asuh di rumah, guru, terapist, cara mengajar, bahan pelajaran, dan pendekatan berdasarkan pola unik anak. Kini disepakati bahwa kedua faktor tersebut sama penting dan erat kaitannya.Dalam kaitannya dengan faktor Nurture, kita perlu menganut teori belajar Humanistic behaviorism. Teori ini membentuk perilaku yang diinginkan dengan mendukung terjadinya perilaku tersebut (memberi dukungan positif). Contohnya: pujian, sarana, dan yang paling penting adalah menentukan perilaku apa yang ada dalam jangkauan kemampuan anak.Mengapa anak harus dipuji atas usaha belajarnya? Sebab otak anak belajar dan berkembang melalui emosi yang positif. Bila anak merasa gembira, dihargai dan didukung maka kemampuan belajarnya pun akan meningkat.Sebaliknya bila anak belajar dalam suasana tertekan dan terpaksa, ia tidak akan mencapai hasil belajar yang optimal alias buang- buang waktu saja.Pujian akan memberikan motivasi internal dalam diri anak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pujian :
- Tunjukkan dia berhasil karena usahanya.
- Jujur, tak ada implikasi tentang orang lain. Hindari “Betul kan kata Bunda”
- Tidak dibandingkan dengan anak lain.
- Tunjukkan bahwa ada standar perilaku yang dipercaya si anak bisa dicapainya. Contoh pujian yang baik : “Ibu suka karangan kamu, gambaran tentang sifat orang2 yang kamu temui selama liburan sangat teliti. Kamu telah berusaha dengan baik.” Contoh pujian yang kurang baik : “Bagus, kamu memang pintas, kalau nurut apa kata ortu dan guru pasti akan berhasil.”
Input yang menyebabkan anak berbeda kemampuannya ;
Fase kanak-kanak merupakan tempat yang subur bagi pembinaan dan pendidikan. Masa kanak-kanak ini cukup lama, dimana seorang pendidik bisa memanfaatkan waktu yang cukup untuk menanamkan dalam jiwa anak, apa yang dia kehendaki. Jika masa kanak-kanak ini dibangun dengan penjagaan, bimbingan dan arahan yang baik, dengan izin Allah subhanahu wata’ala maka kelak akan tumbuh menjadi kokoh. Seorang pendidik hendaknya memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya. Jangan ada yang meremehkan bahwa anak itu kecil.Mengingat masa ini adalah masa emas bagi pertumbuhan, maka hendaknya masalah penanaman aqidah menjadi perhatian pokok bagi setiap orang tua yang peduli dengan nasib anaknya.
Penanaman_Aqidah
Aqidah islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta beriman pada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya merupakan perkara gaib. Seseorang akan merasa hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan pada anak kecil yang mana kemampuan berfikir mereka masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak.
Sebenarnya setiap bayi yang lahir diciptakan Allah subhanahu wata’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman dalam QS. Al Α’rof: 172 yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menajdi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’
Adalah bagian dari karunia Allah subhanahu wata’ala pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata. Dengan demikian, menanamkan keyakinan bukan dengan mengajarkan ketrampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan al Quran dan tafsirnya, hadits dan maknanya serta sibuk dengan ibadah-ibadah. Kita perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.
Teladan_Kita
Jika kita perhatikan para rasul dan nabi, mereka selalu memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan aqidah putera-putera mereka. Perhatian nabi Ibrahim, diantaranya adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam.” (QS. Al Baqarah: 132)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Demikian juga Lukman mempunyai perhatian yang besar pada puteranya sebagaimana wasiatnya yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)
“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Sejak_Masih_Kecil
Perhatian terhadap masalah aqidah hendaknya diberikan sejak anak masih kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan perhatian kepada anak-anak meski mereka masih kecil. Beliau membuka jalan dalam membina generasi muda, termasuk diantaranya Ali bin Abi Thalib yang beriman kepada seruan nabi ketika usianya kurang dari sepuluh tahun.
Begitu juga dalam menjenguk anak-anak yang sakit pun beliau memanfaatkan untuk menyeru mereka kepada Islam yang ketika itu di hadapan kedua orang tua mereka. Kita juga bisa melihat bagaimana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan permasalahan aqidah pada Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhu yang pada saat itu dia masih kecil.
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”
Jika para teladan kita begitu perhatian dengan anak-anak sejak mereka masih kecil, maka sangat mengherankan jika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dengan kita biarkan begitu saja terdidik oleh lingkungan dan televisi.
Masih banyak kita dapati bahwa oleh banyak orang, anak kecil dianggap tidak layak untuk diberi penjelasan mengenai Al Quran dan maknanya, dianggap tidak berhak untuk diberi perhatian terhadap mentalitasnya. Terkadang dengan berdalih “Kemampuan berfikir anak kecil masih sederhana, maka tidak baik membebani mereka dengan hal-hal yang rumit dan berat. Tidak baik membebani anak di luar kesanggupan mereka.” Atau kita juga banyak mendapati ketika anak terjatuh pada kesalahan-kesalahan, mereka membiarkan begitu saja dengan berdalih “Ah… tidak apa-apa, mereka kan masih kecil.” ( Kutipan dari : Pendidikan anak secara Islam – Internet )
2.Kemukakanlah yang anda ketahui mengenai fase siklus kehidupan manusia dan kaitannya dengan pendidikan yang diterimanya, sejak fase alam roh sampai meninggal dunia !Berdasarkan surat Al-Israa’ (17:85) “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusanTuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainka sedikit.” Meskipun manusia diberi hak sedikit tentang ruh, namun demikian dari kesempatan yang sedikit itu kita cobakejar pemahamannya, dengan menelusuri dari petunjuk Allah baik dari yang berbentuk verbal maupun dari yang berbentuk tanda-tanda empirik alamiah. Namun demikian, oleh karena masalah ruh adalah hak Allah, maka upaya pemahaman manusia atas ruh itu yang pasti akan sangat terbatas.Di dalam surat As Sajdah (Sujud) (32:9) dijelaskan “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya ruh(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” Ayat ini didahului oleh suatu ayat (32:8) “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” Pengertian kesempurnaan dalam ulangan kejadian manusia dapat dikonfirmasikan kepada surat Al-Hajj (22:5) sebagai berikut “Hai manusia, jika kamu dalamkeraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah,kemudian dari segumpal daging yang sempurna terjadinya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” Berdasarkan surat Al-Hajj di atas, maka dapat dikaitkan makna kesempurnaan ditiupkan ruh Allah pada (tubuh) manusia yakni pada saat perkembangan embrio telah mencapai tahap terjadinya “segumpal daging. Di dalam surat An Naba’ (78:38) “Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.”Di dalam surat At Takwiir (81:7) disebutkan, “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh),” yang menjelaskan tentang dipertemukannya kembali ruh (dengan tubuh) manusia. Berdasarkan beberapa ayat di atas, maka ruh manusia (1 dapat mengalami peristiwa “datang,” “pisah” dan “dipertemukan kembali” (dengan tubuh) manusia itu (tidak harus diartikan fisik manusia), (2) pengertian “datang” dapat diasosiasikan dengan peristiwa “peniupan ruh” pada (tubuh) manusia, (3) ruh ditiupkan pada saat telah dicapaikesempurnaan perkembangan embrio yakni pada saat telah dicapai tingkat terjadinya “segumpal daging.” Apabila pada tingkat ini tidak dicapai kesempurnaan, maka kejadiannya dapat dikaitkan dengan “aborsi.” Pemahaman di atas tampaknya dapat dikonfirmasikan dengan temuan manusia terhadap tanda-tanda Allah dalam bentuk empirik dari alam semesta. Manusia telah dapat membuat inferensi dari hasil pengamatan empiriknya, bahwa selama periode kehamilan, maka hasil fertilisasi mengalami perkembangan melalui pembelahan, yang selanjutnya gumpalan hasil pembelahan itu menjadi bangunan yang lebih terstruktur yang dinamakan “blastula” dan selanjutnya menjadi “gastrula,” yang kemudian mengalami proses morfogenesis menjadi bentuk individu manusia dan mengalami perkembangan sampai waktu kelahiran terjadi. Ahli biologi reproduksi menetapkan adanya batas waktu “viabilitas fetus” untuk memberikan batas kriteria kegagalan kehamilan; dinamakan “aborsi” apabila terjadi sebelum batas”viabilitas fetus” dan dinamakan “prematur” apabila kegagalan kehamilan terjadi setelah batas “viabilitas fetuse.” Berdasarkan ketentuan WHO, “viabilitas fetus” terjadi pada usia kehamilan 20 minggu pada saat fetus telah mencapai berat badan 500 gr. Batasan WHO ini ternyata relevan untuk ukuran orang di Amerika. Sedangkan di Inggris, “viabilitas fetuse” dicapai pada usia kehamilan 28 minggu dengan ukuran berat fetus 1000 gram. Apabila digunakan standard WHO, maka tahap kehidupan embrional telah dinyatakan sebagai “fetus” pada saat usia 20 minggu atau sekitar 140 hari. Artinya pada saat itulah embrio bukan lagi sekedar “jasad biologik,” melainkan telah menjadi “jasad manusia yang hidup,” yang apabila dikaitkan dengan ayat-ayat di atas, maka pada saat itu pulalah tahapan “kesempurnaan segumpal daging” telah dicapai, dan pada saat itu pulalah tiupan ruh Allah menyatu dengan manusia, yang akan terpisah pada saat kematiannya dan akan dipertemukan kembali pada saat kebangkitan. Kiranya temuan empirik ini juga dapat dikaitkan dengan isi suatu hadits yang pernah kita ketahui. TINGKAT KEROHANIAN Tingkat kerohanian manusia sangat ditentukan oleh aktualisasi dari keseluruhan instrumen manusia, baik pikiran, akal, hati, maupun tubuh secara utuh. Pengendali tubuh sangat ditentukan oleh akal, pikiran, bisikan hati, dan gangguan yang berupa bisikan syetani dan bisikan nafsu. Instrumen manusia mempunyai potensi untuk mewujudkan derajad manusia Islami atau derajad kerohanian Islami sesuai ukuran sangsi dan Janji Allah, dengan syarat akal dan pikiran manusia selalu disosialisasikan dengan norma-norma Islami itu, sehingga tubuh juga akan selalu teraktualisasikan dalam norma-norma Islami itu, sehingga secara utuh pribadi manusia itu membudaya dalam budaya Islami. Berdasarkan surat Al-Fath (48:4), yang mengisi hati manusia adalah urusan Allah. Artinya bisikan hati adalah kebenaran.Namun demikian kita harus mampu membedakan antara bisikan hati, bisikan syetani dan bisikan nafsu melalui kontrol pikiran kita. Oleh karena itu fungsionalisasi, pendewasaan dan pemberdayaan pikiran melalui pendidikan menjadi bagian yang sangat penting dalam Islam. UPAYA MENCAPAI TUHANSecara rasional manusia memiliki potensi untuk mencapai Tuhan, karena pada diri manusia terdapat ruh Allah dan setiap diri manusia memiliki instrumen untuk mencapai itu. Untuk mencapai Tuhan, kepada manusia juga telah diberikan konsep dasar metodologinya, yakni “iqraq.” Namun demikian untuk mencapai Tuhan, manusia dihadapkan kepada berbagai hambatan. Hambatan globalnya adalah efektivitas aktualisasi instrumen manusia dalam kaitannya dengan pengakuan, penyerahan diri, iqraq, ibadah dalam mewujudkan hak dan kewajiban baik hak dan kewajiban manusia maupun terhadap hak Allah. MENYAKSIKAN WUJUD TUHANMenyaksikan wujud Tuhan bukan menjadi hak manusia. Hal ini telah terbukti dari sejarah Nabi Musa yang tidak kuat menyaksikan wujud Tuhan, dan dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj meskipun diceritakan berkali-kali Rasulullah menghadap Tuhan, tetapi tidak pernah diceritakan bagaimana wujud Tuhan itu. Sejarah turunnya ayat-ayat Allah kepada Rasulullah juga selalu melalui perantara malaikat Jibril IMAN DAN AMALIman pada dasarnya adalah menggambarkan potensi manusia untuk aktualisasi diri dalam hidup sebagai makhluk Allah, sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat dan sebagai manusia dalam sistem alam. Membangun iman adalah kewajiban manusia. Sedangkan amal adalah manifetasi implementatif dari potensi itu. Iman seseorang tergambar dalam amalnya, sebaliknya amal seseorang menggambarkan keimanannya. Di dalam perkembangannya, iman membangun amal, sedangkan amal membangun iman. KEADAAN ROHANIKeadaan rohani pada dasarnya merupakan refleksi keadaan pribadi seseorang. Derajad kerohanian seseorang dicerminkan oleh derajad kemanusiaan Islaminya.Meskipun ruh Allah ditiupkan kepada setiap menusia, akan tetapi derajad kerohaniannya ditentukan oleh kualitas aktualisasi atau kualitas operasionalisasi unsur-unsur instrumen manusia itu secara utuh.
Maka timbul dalam diri manusia gairah perenungan mendalam (tafakkur) tentang berbagai pertanda kekuasaan Tuhan di alam sekitarnya dan dalam dirinya sendiri, dan berkembanglah ilmu-pengetahuan. Mula-mula ilmu pengetahuan itu terbelenggu oleh anggapan benar sendiri dalam, dan berkembanglah ilmu- pengetahuan. Mula-mula ilmu-pengetahuan itu terbelenggu oleh anggapan benar sendiri dalam lingkungan wawasan yang terbatas, dengan semangat parokialisme. Tetapi berkat kedatangan Nabi Penutup dengan ajaran yang meliputi dan merangkumkan seluruh kemanusiaan – Muhammad s.a.w. yang membawa al-Kitab dan al-Hikmah – cakrawala ilmu pengetahuan meluas dan menjagad, kemudian berkembang menjadi kenyataan dan warisan budaya dan peradaban semua umat. Lebih jauh, sejak masa itu ilmu tidak lagi semata untuk ilmu saja sehingga menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi ilmu adalah untuk amal, dan amal berdasarkan ilmu.
Meskipun setiap individu memiliki benih serta misi yang spesifik dan unik, namun perlu dikaji pola yang umum berlaku dalam rangka mencapai persaksian dan kedekatan dengan Tuhan. Pintu masuk menuju hal ini adalah pada perkara bagaimana menemukan tatanan yang senantiasa tertanam dalam diri manusia (innate), yaitu struktur insan dalam kaitannya dengan perjalanan menuju Tuhan. Pemahaman tentang struktur insan amat berpengaruh dalam membentuk struktur keberagamaan, karena manusia adalah makhluk yang berproses dan berkembang, baik lahir maupun batin di mana proses tersebut ada polanya. Pola proses inilah yang amat penting dipahami seorang salik, sehingga dia bisa mengukur posisi perjalanannya menuju Tuhan dan membangun keberagamaannya dengan struktur yang benar sesuai kehendak Tuhan. Proses ini dikenal di kalangan kaum shufi dengan istilah ‘uruj (mi’raj), yaitu proses berpindahnya atau naiknya kesadaran manusia, dari satu kesadaran ke kesadaran lain sehingga faktor kendali kehidupan seseorang senantiasa berpindah sejalan dengan ‘uruj.’Pemahaman tentang Struktur Insan selain ditujukan untuk mengidentifikasi keberadaan entitas-entitas tersebut, utamanya adalah demi memahami mekanisme ‘uruj ini. Bahwa keberagamaan seseorang dibangun dengan pola tumbuh dan hadirnya nafs-qalb-‘aql-ruh secara nyata yang kesemuanya diawali dari kesadaran bahwa semua entitas tersebut eksis dan ada wujudnya. Memang pada awalnya manusia hanya menyadari keberadaan tubuhnya, dan umumnya ide tentang nafs yang dipahaminya sangat kental terwarnai oleh pembahasan yang ada dalam psikologi. Selain itu, dia pun akan banyak menggunakan fakultas-fakultas jasadiah saja, serta menjadikan alam yang materialistik sebagai bahan pembelajaran dan sumber informasi, seperti otak, nalar (rasio) kemudian bagian-bagian lain dari kesadaran (consciousness) manusia yang hanya merupakan aradh dari nafs. Kemudian dengan bertaubat, manusia pun berkesempatan untuk menghidupkan nafsnya dan menjadikannya sebagai subjek belajar pada tingkat nafs yang bahan pembelajaran dan sumber informasinya adalah alam malakut. Begitulah seterusnya proses ‘uruj ini mengalir, hingga totalitas kepribadiannya bertemu dengan Ruh Al-Quds yang merupakan utusan Tuhan.Al-Ghazali mengatakan bahwa hakikat seseorang ditentukan dari aspek tertinggi dalam dirinya, dan ‘uruj menunjukkan aspek tertinggi yang eksis dalam diri seseorang. Awalnya manusia hanyalah seonggok daging dengan kekuatan berpikir, karena dalam konteks kepribadian psikis, manusia hanya eksis tubuhnya saja. Tetapi bila nafs seseorang telah hidup, maka sebutan nafs tersebut juga melekat dalam totalitas kepribadiannya. Begitu juga bila qalb-nya, dan kemudian ‘aql-nya, telah kembali. Dalam ‘uruj ini ada yang sifatnya tumbuh dari dalam dirinya, ada pula yang berupa rahmat dari sisi Tuhan yang diterimanya kelak. ‘Uruj dari Jasad sampai dengan ‘Aql, itu semua merupakan potensi yang ada dalam diri manusia sejak lahir. Namun, potensi tersebut belum berarti apa-apa sampai benar-benar berwujud dan eksis.Dalam tashawwuf diuraikan bahwa manusia itu terdiri dari tiga entitas utama, yaitu tubuh atau jasad, nafs dan Ruh Al-Quds. Pengetahuan manusia tentang tubuh memang sudah lebih jauh daripada pengetahuannya mengenai nafs karena pengertian nafs ini masih sering dikacaukan pengertiannya dengan psikis. Psikis, dalam struktur insan, merupakan entitas yang dihasilkan dari pertemuan antara tubuh yang dihidupkan karena nafakh ruh dan nafs, dan hasilnya antara lain adalah ego dan hawa nafsu, otak dan syahwat. Ego merupakan aspek kepala dari hawa nafsu (libidinal) sebagaimana otak terhadap anggota tubuh; hawa nafsu adalah segala kecenderungan manusia terhadap hal-hal yang sifatnya imateri seperti citraan, harga diri, kesombongan, keakuan, dan lain sebagainya. Adapun tubuh ketika ia dihidupkan oleh nafakh ruh maka muncullah suatu kecenderungan dalam dirinya terhadap segala sesuatu yang “sebahan” dengannya, yaitu hal-hal yang sifatnya materi, seperti perempuan, harta, binatang ternak dan lain sebagainya (lihat QS Ali ‘Imran [3]: 14); kecenderungan ini disebut sebagai syahwat (karnal). Tubuh, dalam pandangan tashawwuf, berasal dari “alam mulk (ardhiyah) yang merupakan manifestasi terendah dari kehadiran Al-Haqq dalam alam syahadah” dan “berperan sebagai kendaraan bagi nafs untuk menemukan Al-Haqq di bumi jagat ini sebagai pelajaran pertamanya.”Sementara otak manusia merupakan bagian dari fakultas tubuh yang terhidupkan bersamaan dengan tubuh dan akan berhenti bekerja ketika tubuh mati. Otak (yang kerjanya disebut sebagai nalar) memiliki keterbatasan dalam melihat dan memahami permasalahan, otak memiliki kecenderungan untuk membatasi universalitas dari keuniversalan ide-ide ilahiah atau juga berbagai permasalahan yang ada pada tingkatan malakutiyyah. Namun, fatalnya, otak seringkali merasa bahwa dia adalah sebuah bola yang utuh (seperti telah dikemukakan di atas) padahal ada bagian “bola” akal yang lain, yaitu lubb. Lubb merupakan fakultas dari nafs yang hanya akan bekerja secara holistik dalam memahami suatu persoalan yang biasanya bersifat hakikat. Selain itu, lubb baru akan mulai berfungsi setelah qalbnya tercahayai dengan Cahaya Tuhan dan nafs yang disucikan-Nya.Mengenai ‘aql (atau lubb) Al-Ghazali menguraikan pengertiannya yang bersekutu, yaitu, pertama, ‘aql yang diartikan sebagai “pengetahuan hakikat” segala sesuatu, dan, tentu saja, bertempat di qalb, dan, kedua, ‘aql dalam arti lathifah yang mampu mencerap hakikat segala sesuatu. Dari uraian mengenai dua hal di atas tampaklah bahwa yang menjadi objeknya adalah hakikat, dan yang dimaksud bukanlah akal empiris (otak), namun akal atas yang disebut ‘aql atau lubb (orang yang memilikinya disebut sebagai ulil ‘albaab). Akal itu seperti bola yang seluruh permukaannya menghadap ke segala arah dan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu akal bawah (pikiran, otak dan ego), fu’ad (aspek dari akal atas) dan akal atas (‘aql atau lubb). Ad-Diin, dalam hal ini, adalah persoalan yang baru dipahami jika keseluruhan “bola” akal tersebut telah terbuka.Ibnu ‘Arabi mengemukakan bahwa penilaian (proposisi) yang beragam bukan hanya pengetahuannya saja, tapi juga jalan untuk memperoleh pengetahuan itu sendiri. Secara umum manusia memperoleh pengetahuan melalui lima indra dan satu akal yang didrive oleh ego sebagai aspek permukaan fu’ad.26 Namun bagi manusia yang nafsnya telah hidup dan qalbnya tercahayai, maka ada pula pengetahuan yang langsung masuk ke dalam qalb tanpa melalui indra yang manapun. Suatu cara yang tidak umum. Hal ini pernah dijelaskan oleh Ja’far As-Shaddiq bahwa ‘ilm itu diperoleh bukan dengan jalan ta’alum (menuntut ilmu), tetapi dengan hakikat ‘ubudiyyah.Ibnu ‘Arabi, juga Abu Thalib Al-Makki, membedakan antara ‘ilm dengan ma‘rifat; ‘ilm diperoleh dengan ‘aql dan orangnya disebut sebagai ‘alim, sedang ma‘rifat diperoleh dengan musyahadah dzauqiyyah dan orangnya disebut sebagai ‘arif. Abdul Jabbar An-Nifarri mengatakan bahwa jenjang ‘ilm itu adalah serambi ma‘rifat. Jika ma‘rifat itu sebagai awal dari proses Ad-Diin, tentunya jenjang serambi ma‘rifat (jenjang ‘ilm haqiqah) harus dilampaui terlebih dahulu, dan ini pun harus terlebih melalui jenjang tazkiyatun nafs (thariqat). Memang tampak rumit, sulit, namun kembali ke permasalahan mendasar yaitu “apa yang sebenarnya manusia cari di muka bumi ini?”. Banyak hal yang manusia itu harus melihat ke dalam qalb agar mengerti peta persoalannya, sehingga akan dapat mengerti apa fungsi dari ‘aql.3. Dalam kehidupan manusia sejak dahulu dalam setiap sosial order atau perkembangan masyarakatnya, peranan pendidikan tidak dapat di abaikan. Kemukakanlah peranan pendidikan dalam masing sosial order di dunia ini !Secara historis, memang ada kebenaran yang dikandung oleh pribahasa Prancis yang mengatakan bahwa “ sejarah itu berulang, walaupun dalam perulangannya tidak persis sama”. Ia dapat terjadi di tempat dan negeri lain dengan intensitas yang agak berbeda, walaupun intinya ada kesamaan. Seperti yang terjadi di negeri Jepang Mengenai perubahan sosial atau perkembangan masyarakat pada taraf sosial order dapat dijadikan sebagai salah satu bahan kajian untuk menelaah perubahan sosial dalam satu negara, termasuk perubahan sistem pendidikan yang di anut, seperti yang di miliki Indonesia. Dengan memahami keadaan sistem sosial dan ordernya, kita dapat memahami keadaan pendidikannya. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu menumbuhkan cara berfikir yang baik, sedangkan filsafat berarti memikirkan dan membicarakan kebenaran, jadi antara pendidikan dan filsafat sangat erat kaitannya, selain itu pendidikan yang dimiliki manusia banyak dipengaruhi oleh sejarah yang terjadi di lingkungan dimana ia berada. Kaitan tersebut dapat di lihat dari sejarah perubahan sosial masyarakat yang banyak berpengaruh terhadap proses pendidikan yang berlaku di lingkungan manusia tersebut berada. Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang diberi tugas dan amanah menjadi pengelola, yaitu mengelola dunia ini dengan segala perangkatnya ( Al Baqarah ayat 29), Hal ini jika di fahami bahwa seluruh kehidupan dan penghidupan manusia penuh dengan kehidupan pendidikan, karena semua manusia yang di lahirkan ke dunia tidak bisa apa-apa kecuali menangis . Contoh penciptaan Nabi Adam sesuai dengan Surah Al Baqarah 31-32 dimulai dengan kegiatan Allah mengajarkan kepada Nabi Adam semua nama benda alam yang ada di langit dan Bumi, selanjutnya dikumpulkan para Malaikat dan Jin untuk ditanyakan tentang pengetahuan alam, semua mengaku bahwa tidak mengetahuinya kecuali yang telah di ajarkannya atau di didikan kepada mereka. Perkembangan kurikulum saat ini juga sudah mengacu kepada program mempersiapkan Homo Educandum menjadi Homo Educandus pada suatu ketika saat manusia menjadi dewasa. Setiap manusia lahir memiliki kompetensi yang terpendam, maka untuk mengaktualisasikannya diperlukan pendidikan secara komprehensif, untuk hal itu maka kurikulum pendidikan formal dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan tuntutan perubahan dan basis peserta didik. Fungsi mendidik sesuai dengan dorongan keyakinan manusia bahwa ia di takdirkan memiliki isteri dan anak yang menjadi tanggungjawabnya untuk melaksanakan tugas mendidik, sehingga amanah yang dimilikinya menyebabkan setiap manusia menyadari tanggungjawabnya untuk mendidiknya. ◙ Manusia lahir tidak membawa apa-apa, hal tersebut sesuai dengan teori Empiris oleh Jhon Lock maupun Teori Tabularasa yang mengatakan bahwa manusia seperti manusia lilin. ◙ Umur manusia panjang, berbeda dengan binatang yang berumur pendek dan rendah nafsu biologinya serta tercipta menjadi mahluk yang hanya memiliki insting sehingga tidak memerlukan pendidikan ◙ Manusia dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan lingkungannya ( Social Change) sehingga memerlukan pengetahuan yang di dapat dari hasil pendidikan ◙ Fitrah manusia yaitu sifat ingin tahu ( Coriosity ) sehingga selalu dinamis untuk mendapatkan pendidikan guna memenuhi ke ingin tahuannya. ◙ Sesuai dengan ajaran Islam bahwa mendidik merupakan amanah Allah SWT, bahwa manusia di ciptakan Allah di bumi sebagai khalifah mempunyai kewajiban untuk mendidik sesamanya ◙ Manusia sebagai mahluk sosial ( Social Creature ) membutuhkan interaksi sesamanya, sehingga untuk mempelajari dan mengajari budaya yang selalu berubah setiap manusia di harapkan dapat mendidik manusia lainnya. ◙ Manusia membutuhkan persiapan masa depan generasinya ( The present is in the past, the future is in the present, the future is in respectively present), sehingga di perlukan kemampuan mendidik bagi penerusnya guna mempertahankan generasi selanjutnya.
4.Jelaskan konsep mengenai, manusia dalam seluruh kehidupannya tidak lepas dari
pendidikan, bahkan berfungsi ganda !
Banyak sekali batasan tentang belajar, tetapi jika kita berpegang kepada batasan kaum kognisi, khususnya Jean Piaget, yang pada intinya mengemukakan bahwa belajar merupakan interaksi antara individu pebelajar (learner) dengan lingkungan. Dalam Language Two, oleh Heidy Dulay, dkk mengemukakan adanya empat lingkungan makro dan tiga lingkungan mikro yang bisa berpengaruh. Lingkungan makro ialah ;(1) kealamian bahasa yang didengar;(2) peranan pebelajar dalam komunikasi; (3) ketersediaan alat acuan untuk memperjelas makna; dan(4) siapa yang menjadi model bahasa sasaran. Lingkungan mikro terdiri dari ; (1) tonjolan (salience), (2) balikan (feedback), dan (3) frekuensi.
Pertanyaannya, di mana posisi guru? Guru merupakan salah satu tonggak lingkungan: pada lingkungan makro dia setidaknya bisa berposisi sebagai model, dan pada lingkungan mikro guru berposisi sebagai pemberi balikan.
Pendekatan
Di dunia pembelajaran bahasa (language learning) sekarang, termasuk pembelajaran B2, tampak masih diberlakukan pendekatan komunikatif integratif, disamping Ausable yang mengingatkan ihwal pentingnya kebermaknaan dalam belajar (meaningful learning) bagi pebelajar. Berdasarkan pendekatan ini, metode dan teknik pembelajaran mengarah pada kegiatan berkomunikasi yang bermakna bagi pebelajar. Pendekatan integratif dilandasi oleh konsep bahwa bahasa itu mempunyai tali-temali secara internal (fonem, kata, frase, klausa, dan kalimat) dan eksternal. Hubungan antarunsur tadi diatur oleh gramatika yang merupakan komponen kebahasaan sebagai dasar untuk memahami dan menggunakan bahasa. Secara eksternal, bahasa mempunyai hubungan dengan budaya dan seluruh bidang kehidupan
Kurikulum efisiensi sosial yang berakar pada tradisi pendidikan kita dikembangkan atas dasar kebutuhan spesifik masyarakat (ekonomik-industrial). Ketika masyarakat mendefinisikan lapangan kerja (area okupasi) dan lembaga pendidikan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan lapangan kerja di masyarakat, kurikulum pendidikan disusun berdasar okupasi yang ada
Dengan demikian, apa yang dikerjakan lembaga pendidikan sebagai instrumen produksi menjadi terfokus dan efisien. Karakteristik utamanya adalah manajemen keilmuan dan sekolah dikelola seperti pabrik, tujuan pendidikan dirumuskan dengan rigid berdasar analisis pekerjaan, muatan kurikulum bersifat utilitarian atau antagonisme terhadap muatan akademik tingkat tinggi, membedakan kurikulum berdasar pada prediksi peran sosial, dan pengukuran bersifat eksak dan standar yang cermat
Praktik pembelajaran yang kini didominasi teori belajar asosiasi dan behavioristik akan digeser teori belajar kognitif dan konstruktivistik. Praktik pembelajaran yang berbasis teori asosiasi dan behavioristik ditandai: konsepsi bahwa pikiran terbentuk oleh asosiasi stimulus-respons, belajar merupakan akumulasi butiran atomistik pengetahuan, belajar melalui urutan yang ketat, setiap tujuan pembelajaran dinyatakan secara eksplisit, test-teach-test sebagai pola umum jaminan belajar, tes isomorfis dengan belajar, dan motivasi didasarkan reinforcement positif tiap tahapan belajar.
Dengan paradigma baru, praktik pembelajaran seperti itu akan digeser pembelajaran yang lebih bertumpu pada teori kognitif dan konstruktivistik. Pembelajaran akan berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara sosial dan kultural, mendorong siswa membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri dalam konteks sosial, dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya. Tugas belajar didesain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berpikir tingkat tinggi, dalam hal ini proses dipandang sama penting dengan hasil belajar, dan berpikir cerdas dikonsepsikan mencakup “metakognisi” atau kemampuan memonitor belajar dan berpikir sendiri. Seperti kerangka pikir Steven (1970), pembelajaran mengandung dua hal, formation dan information. Pembelajaran bukan hanya mengusung informasi, tetapi juga proses membangun watak dan identitas personal
Paradigma baru yang memandang kurikulum sebagai strategi untuk membelajarkan siswa, dan pembelajaran sebagai proses fasilitasi agar siswa mudah membangun pengetahuan, maka penilaian bukan hal yang terpisah dari proses belajar. Penilaian terintegrasi dengan pembelajaran untuk mendukung proses belajar, dan siswa aktif mengevaluasi belajarnya sendiri.
Faktanya kini, paradigma pendidikan kita telah terjebak teori ekonomi neoklasik. Pendidikan berbasis standar yang ketat. Apakah Mendiknas akan sungguh-sungguh membangun paradigma baru pendidikan nasional untuk keluar dari jebakan teori neoklasik?
Teori pendidikan telah berkembang dari teori dengan paradigma konservativisme sampai pada teori berparadigma ekstrem seperti liberalisme, liberasionisme sampai anarkisme. Teori pendidikan yang mempengaruhi tema tulisan ini berasal dari teori pendidikan Paulo Freire, seorang pendidik praksis revolusioner berbasis paradigma liberasionisme (pembebasan). Gagasan Freire banyak dianggap sebagai gagasan pembebasan penuh pendidikan institusional dan mengacu pada pembebasan masyarakat dalam mengenyam pendidikan. Gagasan ini banyak disetarakan dengan teori anarkis mengenai praktik ajar-mengajar yang dinilai sudah cenderung menjadi komoditas kapitalistik yang tidak lepas dari usaha pemenuhan kebutuhan semu terhadap tuntutan masyarakat semu produk sistem kapitalis. Putar-ulang seluruh gagasan pendidikan sebagai kritik terhadap sistem dan metode pendidikan yang sudah baku adalah gagasan para anarkis—dari sini muncul istilah ‘deschooling society’ yang menyatakan sikap para anarkis. Freire kemudian sangat dekat dengan para penggagas anarkis ini terutama karena rasa antipati terhadap sistem kapitalistik_dan_karena_sifat_praktis_serta_revolusioner_Freire.Pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan ala Freire tertuju untuk menggugah kesadaran pelaksanaan metode pendidikan yang bukan saja membebaskan tetapi yang terpenting kembali memanusiakan manusia; menghilangkan jejak de-humanisasi yang merasuki dunia pendidikan. Freire menegaskan bahwa dehumanisasi yang terjadi harus ditolak dan hembusan dehumanisasi sudah mengakar pada setiap sendi kehidupan harus dihentikan. Freire berpendapat bahwa pendidikan dalam artian yang benar adalah harapan terbesar untuk menghapus jejak dehumanisasi dalam sejarah kehidupan manusia. Dehumanisasi memang merupakan fakta sejarah tetapi tidak berarti manusia harus menerima hal tersebut sebagai fakta sejarah yang terberi. Freire mengkhawatirkan makin kuatnya penjejakan dehumanisasi manusia dengan metode pendidikan yang terjadi selama_ini.
Tatanan nilai positif Freire dapat disejajarkan dengan tema pendidikan yang berkembang akhir-akhir ini: apakah institusi pendidikan berniat mencetak manusia mekanistis, atau berusaha untuk lebih menghasilkan manusia yang berbudaya? Manusia yang berbudaya disini mungkin lebih diarahkan pada peraihan kebebasan dan humanisasi, sesuai dengan niat_Freire.
Beberapa konsep Freire mengenai pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan dapat_dilihat_di_bawah_ini:
(1) Pendidikan ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya menempatkan kaum tertindas dan penindas pada dua kutub berseberangan. Pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian palsu kaum penindas untuk mempertahankan status quo melalui penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan kaum tertindas lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas, melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subjek-didik membebaskan dirinya, bukan untuk kemudian menjelma sebagai kaum penindas baru, melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri. Pendidikan ini bukan bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi lebih terpelajar, tetapi untuk membebaskan dan mencapai kesejajaran pembagian_pengetahuan.
(2) Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Pendidikan bukan menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan_hak_bagi_semua_orang_tanpa_kecuali.
(3) Kesadaran dan kebersamaan adalah kata-kata kunci dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan
Ilmu adalah salah satu kunci dan bekal seseorang untuk mencapai kebenaran serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu setiap muslim diwajibkan menuntut ilmu untuk selanjutnya ilmu itu diamalkan demi tegaknya Al Haq (kebenaran). Salah satu cara mengamalkan ilmu adalah dengan mengajarkannya pada orang lain sehingga orang lain dengan memahami dan mengamalkan yang kita peroleh. Nabi SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkannya” (HR. Muslim). Ilmu itu hendaklah seperti air, ia selalu mengalir dan membersihkan yang kotor serta menyuburkan tanah yang tandus. Dengan mengajarkan ilmu diharapkan orang yang diajarkannya dapat menghilangkan sifat-sifat yang buruk dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik. Oleh sebab itu belajar dan mengajar dalam ajaran Islam mendapat keutamaan sendiri. Tapi bila seseorang tidak memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan, maka Allah menyediakan siksa untuknya. Nabi SAW, bersabda; “Seberat-berat siksaan atas manusia pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak mengajarkan ilmunya.” (HR Thabrani). Karena orang yang tidak memanfaatkan ilmunya akan diazab Allah, kita juga jangan berpendapat; “kalau begitu lebih baik saya tidak punya ilmu saja dari pada tidak memanfaatkan”. Padahal Allah justru akan mengazab orang-orang yang tidak mau tahu atau tidak mau menuntut ilmu. Apakah relevansi masalah tersebut dengan pendidikan? Relevansi tersebut tidak lepas dari peran sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas dari SDM inilah yang diciptakan oleh salah satu elemen penting yaitu pendidikan. Pendidikan sebagai awal dalam pembentukan karakter manusia dan bangsa. Pendidikan yang baik memberikan dukungan pada pelaksanaan program dibidang lainnya. Negara yang masyarakatnya memiliki pendidikan dan karakter baik akan mengarah pada martabat bangsa. Secara universal pendidikan berarti upaya pengubahan manusia menjadi lebih cerdas, yang dalam konsep filsafat pendidikan Indonesia dinyatakan bahwa pendidikan ialah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan tersebut tidak hanya sebatas kecerdasan kognitif atau intelektual belaka, tapi kecerdasan manusia yang seutuhnya, kecerdasan total manusia dalam berbagai bidang kehidupannya. Individu yang memiliki pendidikan dapat berbicara kehidupan ekonomi bangsa yang cerdas, kehidupan religius bangsa yang cerdas, kehidupan politik bangsa yang cerdas, dan seterusnya. Kehidupan bangsa yang cerdas ini esensinya adalah manusia-manusia individual, personal yang cerdas. Dengan masyarakat yang cerdas bangsa dan negara dapat menjawab semua permasalahannya dengan kerja nyata. Tidak sebatas retorika dan kepentingan pragmatis belaka Faktanya memang demikian, bukan? Cara-cara pemberian hadiah dan bonus mematikan tumbuhnya motivasi orisinil dari diri. Individu tidak diberi kesempatan untuk mengerti alasan perilaku yang diminta dan tidak diberi kesempatan untuk bekerja sama secara sukarela. Motivasi diri memiliki dua komponen utama: keaslian dan otonomi. Yang dimaksud dengan keaslian, seseorang harus bertindak sesuai dengan diri mereka sendiri secara jujur dan bukan hanya sekedar menginternalisasikan nilai-nilai orang lain. Yang dimaksud dengan otonomi adalah individu harus mengendalikan perilakunya sendiri, memutuskan apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus bersikap. Secara praktis kedua komponen ini dapat diterapkan dengan menggunakan apa yang disebut dengan tiga C: content (isi), collaboration (kerjasama), dan choice (pilihan). –tiga C itu bukan cemen,culun, dan cengeng– Jadi pada tahap awal, individu diajak untuk mengerti content (isi) dalam arti tujuan, sasaran atau obyektif suatu pelajaran atau suatu pekerjaan. Lalu dijelaskan tentang pentingnya collaboration (kerjasama) untuk mencapai tujuan tersebut dengan tidak membatasi atau menutup pilihan-pilihan (choice) alternatif mengenai bagaimana cara mencapai sasaran tersebut serta menimbang pilihan mana yang paling efektif dan efisien. Dari sini kreatifitas menemukan ruang aktualisasi yang lebih lebar. Faktanya memang demikian, bukan? Cara-cara pemberian hadiah dan bonus mematikan tumbuhnya motivasi orisinil dari diri. Individu tidak diberi kesempatan untuk mengerti alasan perilaku yang diminta dan tidak diberi kesempatan untuk bekerja sama secara sukarela. Motivasi diri memiliki dua komponen utama: keaslian dan otonomi. Yang dimaksud dengan keaslian, seseorang harus bertindak sesuai dengan diri mereka sendiri secara jujur dan bukan hanya sekedar menginternalisasikan nilai-nilai orang lain. Yang dimaksud dengan otonomi adalah individu harus mengendalikan perilakunya sendiri, memutuskan apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus bersikap. Secara praktis kedua komponen ini dapat diterapkan dengan menggunakan apa yang disebut dengan tiga C: content (isi), collaboration (kerjasama), dan choice (pilihan). –tiga C itu bukan cemen,culun, dan cengeng– Jadi pada tahap awal, individu diajak untuk mengerti content (isi) dalam arti tujuan, sasaran atau obyektif suatu pelajaran atau suatu pekerjaan. Lalu dijelaskan tentang pentingnya collaboration (kerjasama) untuk mencapai tujuan tersebut dengan tidak membatasi atau menutup pilihan-pilihan (choice) alternatif mengenai bagaimana cara mencapai sasaran tersebut serta menimbang pilihan mana yang paling efektif dan efisien. Dari sini kreatifitas menemukan ruang aktualisasi yang lebih lebar. Faktanya memang demikian, bukan? Cara-cara pemberian hadiah dan bonus mematikan tumbuhnya motivasi orisinil dari diri. Individu tidak diberi kesempatan untuk mengerti alasan perilaku yang diminta dan tidak diberi kesempatan untuk bekerja sama secara sukarela. Motivasi diri memiliki dua komponen utama: keaslian dan otonomi. Yang dimaksud dengan keaslian, seseorang harus bertindak sesuai dengan diri mereka sendiri secara jujur dan bukan hanya sekedar menginternalisasikan nilai-nilai orang lain. Yang dimaksud dengan otonomi adalah individu harus mengendalikan perilakunya sendiri, memutuskan apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus bersikap. Secara praktis kedua komponen ini dapat diterapkan dengan menggunakan apa yang disebut dengan tiga C: content (isi), collaboration (kerjasama), dan choice (pilihan). –tiga C itu bukan cemen,culun, dan cengeng– Jadi pada tahap awal, individu diajak untuk mengerti content (isi) dalam arti tujuan, sasaran atau obyektif suatu pelajaran atau suatu pekerjaan. Lalu dijelaskan tentang pentingnya collaboration (kerjasama) untuk mencapai tujuan tersebut dengan tidak membatasi atau menutup pilihan-pilihan (choice) alternatif mengenai bagaimana cara mencapai sasaran tersebut serta menimbang pilihan mana yang paling efektif dan efisien. Dari sini kreatifitas menemukan ruang aktualisasi yang lebih lebar. 5. Apakah yang dapat diambil manfaat dari mata kuliah ini ?Manfaat setelah mengambil mata kuliah Landasan ilmu Pendidikan, bagi setiap mahasiswa ;· Memiliki wawasan dan pengetahuan tentang teori-teori yang melandasi strategi kegiatan pembelajaran· Membekali mahasiswa dalam menerapkan manajemen pembelajaran yang efektif· Memiliki pengetahuan tentang psikologis perkembangan jiwa anak didik dalam proses pembelajaran· Memiliki wawasan tentang pentingnya mendidik bagi setiap muslim sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Hadis· Memahami dan mengahayati peran pendidik sebagai tugas yang mulia, karena mendidik orang menjadi pintar· Membuka wawasan tentang pendidikan seumur hidup merupakan kewajiban setiap muslim· Memberikan modal dasar bagi para pendidik di lingkungan-lingkungan informal (keluarga), non formal (masyarakat), serta formal (sekolah), untuk membina dan mengembangkan peserta didik menjadi sumber daya manusia Indonesia modern yang beretos kerja tinggi, cendikia, yang dilandasi oleh akhlak al karimah. Alhamdulillah Wassalamu’alaikum Wr Wb REFERENSI :
- Zamzam Ahmad Jamaluddin T., dalam makalahnya yang berjudul “Mata Air Agama-agama”_PICTS:Bandung).
- Imam Al-Ghazali, Ihya Al-Ghazali, (1983) Jilid 4, diterjemahkan oleh Prof. Tk. H. Ismai Yakub, SH, MA., C.V. Faizan: Jakarta Selatan, cetakan ketiga, hal. 5.
- Idries Shah, (1999): Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma‘rifat, Risalah Gusti: Surabaya, hal. 124-125.
- Muhammad Sigit Pramudya & Kuswandani mengenai Struktur Insan dalam perspektif Imam Al-Ghazali dalam Jurnal Suluk Ruh Al-Quds Vol. 1 No. 1, Agustus 2001, Paramartha International Center for Tashawwuf Studies – Yayasan Pendidikan Paramartha(PICTS-YPP),Bandung.
- Zamzam A. Jamaluddin T. & Tri Boedi Hermawan, (2000) Struktur Insan dalam Al-Qur`an, Apa yang Tersentuh oleh Psikologi Analitik, dan Status Kecerdasan Spiritual (SQ), Journal of Psyché Vol. 1 No. 2, Desember 2000, Pusat Riset Metodologi dan Pengembangan Psikologi – Yayasan Pendidikan Paramartha (PRMPP-YPP), Bandung, hlm.6.
- (Ibnu Atha’illah Al-Iskandari, (2001): Al-Hikam, diterjemahkan oleh Zamzam A. Jamaluddin T. & Kuswandani beserta tim PICTS-YPP, belum dipublikasikan).
- Alfathri Adlin & Ening Ningsih, (2001): Nafs Lathifah, Ego, Kesadaran: Batasan antara Psikologi dan Tashawwuf, Journal of Psyché Vol. 2 No. 1, Juni 2001,
- Malcolm, Derek, (1991): In bed with the woman who dares, sebagaimana dikutip oleh Akbar S. Ahmed, (1993): Posmodernisme: Bahaya dan Harapan bagi Islam, Mizan: Bandung, hlm. 224