February 2009


1. Desain/ Deskripsi Data

Kelompok I
Diskusi II
Drill III
Ceramah IV
Penugasan Jumlah

10 10 10 10 40

448 401 392 449 1690

20152 16221 15438 20175 71986

44,8 40,1 39,2 44,9

3,01 3,96 2,82 1,29

9,06 15,68 7,95 1,66

2. Hipotesis Statistik
H0 :
H1 : ada tanda tidak sama ( )

3. Jumlah Kuadrat (JK) :
a. Total :
JKT

b. Rerata :

c. Total Direduksi/ Dikoreksi :

d. Antar Kelompok

e. Dalam Kelompok

4. Tabel Anava Satu Arah :

SUMBER VARIASI db JK RJK Fh Ft
0,05 0,01
RERATA 1 71402,5 - - - -
ANTAR 3 274,5 91,5 10,66 2,80 4,33
DALAM 36 309 8,58 - - -
TOTAL 40 71986 - - - -

5. Kriteria Pengujian
Karena Fh > Ft , baik untuk α = 0,05 ataupun α = 0,01 dan db = 3/36, maka H0 ditolak. Artinya terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara keempat kelompok tersebut.

6. Uji Tukey
a. Hipotesis Statistik

b. Rumus :

c. Perhitungan :

Nilai Qtabel untuk n = 10 dan α = 0,05 adalah 4,33

1) Sehingga Qa = 5,05 > Qt = 4,33
2) Sehingga Qb = 6,02 > Qt = 4,33
3) Sehingga Qc = 0,11 < Qt = 4,33
4) Sehingga Qd = 0,97 Qt = 4,33
6) Sehingga Qf = 6,13 > Qt = 4,33

7. Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode yang lebih unggul dari empat metode belajar seperti yang dikemukakan pada soal adalah metode Penugasan, baru kemudian disusul dengan metode Diskusi, metode Drill, dan yang terakhir metode Ceramah.

» ARTIKEL PEMBELAJARAN

[ Arsip ]

TUJUH TEORI MOTIVASI

Pada umumnya para ahli teori perilaku beropini bahwa dalam setiap perilakunya manusia mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Keberadaan tujuan tersebut, menjadi tumpuan sinergi dengan para ahli teori motivasi yang berusaha berfikir dan mencari cara agar manusia dapat didorong berkontribusi memenuhi kebutuhan dan keinginan organisasi. Tenaga kerja penting dimotivasi untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa motivasi mereka bekerja dalam keadaan sakit hati yang menjurus pada ketiadaan kontribusi bahkan terbuka peluang kontribusi yang merugikan.
Teori hierarkhi kebutuhan Maslow menyiratkan manusia bekerja dimotivasi oleh kebutuhan yang sesuai dengan waktu, keadaan serta pengalamannya. Tenaga kerja termotivasi oleh kebutuhan yang belum terpenuhi dimana tingkat kebutuhan yang lebih tinggi muncul setelah tingkatan sebelumnya. Masing-masing tingkatan kebutuhan tersebut, tidak lain : kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan, perwujudan diri. Dari fisiologis bergerak ke tingkat kebutuhan tertinggi, yaitu, perwujudan diri secara bertahap. Terlepas menerima atau tidak kebutuhan berhierarkhi, mengetahui jenis-jenisnya adalah memberikan kontribusi silang saling memenuhi. Seperti seseorang berusaha keras mencari pekerjaan yang tidak lain mengimplementasikan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. Lantas bagaimana dengan fakta bayi yang baru dilahirkan adalah bukan langsung makan tetapi dia menangis yang tidak lain kebutuhan sosial. Juga masih tentang bayi, beberapa penelitian membuktikan bayi menangis jika ingin disusui oleh ibunya. Yang paling tidak lucu tampak kejadian banyak perusahaan merekrut tenaga penjualan langsung dengan syarat memiliki kendaraan beroda empat (Mobil).

Secara umum diketahui Frederick Herbertg berteori dua situasi yang mempengaruhi tenaga kerja saat bekerja. Situasi pertama,yaitu, pemuasan yang berarti sumber kepuasan kerja seperti:prestasi, pengukuhan hasil kerja, daya tarik pekerjaan, dan tanggung jawab serta kemajuan. Situasi kedua tidak lain ketidak puasan yang bersumber dari: kebijakan, supervisi, uang, status, rasa aman, hubungan antar manusia, dan kondisi kerja. Dalam hal ini, jika situasi pertama tidak ada tidak menimbulkan ketidak puasan berlebihan. Karena ketidakpuasan muncul dari tidak memperhatikan situasi kedua. Perhatian terhadap indikator situasi pertama menjadi motivasi tenaga kerja dalam bekerja. Tampak berbasis teori ini jika ingin tenaga kerja termotivasi maka mesti memberikan situasi pertama.
Kemudian Mc Gregor terkenal dengan teori X dan teori Y. Teori X memberikan petuah manajer harus memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas, dan menetapkan imbalan atau hukuman. Hal tersebut, karena manusia lebih suka diawasi daripada bebas, segan bertanggung jawab, malas dan ingin aman saja, motivasi utamanya memperoleh uang dan takut sanksi. Sebaliknya teori Y mengarahkan manajer mesti terbuka dan mendorong inisiatif kompetensi tenaga kerja. Teori Y berasumsi manusia suka kerja, sebab bekerja tidak lain aktifitas alami. Pengawasan sendiri bersifat esensial. Dengan demikian, teori X kurang baik dan teori Y adalah baik. Tidak ..tidak demikian melainkan secara bijak teori X dan Y digunakan sesuai keadaan. Terkadang mesti egois, dan terkadang juga demokratis.

Intensitas motif seseorang melakukan sesuatu adalah fungsi nilai setiap hasil yang mungkin dicapai dengan persepsi kegunaannya. Motivasi sama dengan hasil dikali nilai terus hasil perhitungannya dikalikan kembali dengan ekspektasi. Akan tetapi hal tersebut, bersyarat manusia meletakkan nilai kepada sesuatu yang diharapkannya dan mempertimbangkan keyakinan memberi sumbangan terhadap tujuan. Lantas kemampuan bekerja dan persepsi yang akurat tentang peranannya dalam organisasi diperlukan. Demikian itu, merupakan teori motivasi harapan dimana Vroom ialah orang yang menelurkannya. Sedangkan Porter dan Lawler memberikan peringatan persepsi usahayang dilatarbelakangi kemampuan dan peranan kerjanya menghasilkan cara kerja yang efektif untuk mencapai prestasi baik inisiatif sendiri maupun bukan inisiatif sendiri sehingga memperoleh imbalan yang layak dan kepuasan.
Teori motivasi prestasi menegaskan manusia bekerja didorong oleh kebutuhan prestasi, afiliasi, dan kekuasaan. Kebutuhan prestasi tercermin dari keinginan seseorang mengambil tugas secara konsisten bertanggung jawab dimana untuk mencapai tujuannya ia berani mengahdapi risiko serta memperhatikan feedback. Kebutuhan afiliasi ditunjukan oleh keinginan bersahabat, memperhatikan aspek antar pribadi, bekerja sama, empati, dan efektif dalam bekerja. Sedangkan kebutuhan kekuasaan tampak pada seseorang yang mau untuk berpengaruh terhadap orang lain, cepat tanggap terhadap masalah, aktif menjalankan kebijakan organisasi, senang membantu orang ldengan mengesankan dan selalu menjaga prestasi, reputasi serta posisinya.

Sekarang kita coba integrasikan teori-teori yang telah dikemukakan dengan basis pendekatan integratif. Kombinasi dari dua arah gejala harapan dan kebutuhan sebagai usaha memotivasi. Berbasis pendekatan demikian, maka kita kenal tiga hal tentang motivasi kerja. Pertama, kebutuhan individu yang terpenting adalah pencapaian, kekuasaan, afiliasi, perhitungan, ketergantungan, perluasan. Kedua, motivasi kerja berkembang pada kekuatan yang diubah dalam pola kebutuhan dan kepercayaan untuk bekerja dalam organisasi. Ketiga, hasil akhir psikologis orang bekerja tidak lain kepuasan yang diperoleh dari kerja dan peranannya. Pendek kata memotivasi dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan dan kepuasan tenaga kerja dimana organisasi dapat menetukan sendiri pola kebutuhan dan kepuasannya tanpa mengabaikan tenaga kerja.

www.e-iman.uni.cc

A. JENIS-JENIS INSTRUMEN PENELITIAN
Instrumen dapat dibagi menjadi dua macam, yakni tes dan non-tes.
Tes:
1. Tes prestasi,
2. Tes Intelegensi,
3. Tes Bakat
Non Tes:
1. Pedoman wawancara
2. Angket
3. Pedoman observasi
4. Check list
5. Skala sikap
6. Skala penilaian

B. SKALA DAN PENGUKURAN

1. NOMINAL
Skala nominal adl pengelompokan atau kategorisasi atau identifikasi kejadian atau fenomena ke dlm kelas-kelas atau kategori shg yg masuk dlm satu kelas atau kategori adl sama dalam hal atribut atau sifat. Kelas atau kategori tsb hanya nama untuk membedakan suatu kejadian atau peristiwa dgn kejadian atau peristiwa lain. Perbedaan angka hanya menunjukan adanya obyek atau subyek yang terpisah dan tidak sama. Skala nominal akan menghasilkan data diskrit.Contoh: Pria = 1, Wanita = 0, nomor punggung pemain sepak bola.

2. ORDINAL
Suatu hasil pengukuran disebut berada pd level ordinal kalau angkanya berfungsi menunjukkan adanya pen-jenjangan atau rangking. Perbedaan angka yang dimiliki obyek yg satu dari yg lain tdk menunjukkan adanya perbedaan kuantitatif melainkan perbedaan jenjang kualitatif saja. Bila terdapat jenjang 1, 2, 3 maka kita tdk dpt mengatakan bhw jarak 3-2 sama dgn 2-1, tetapi hanya berlaku bahwa 3>2, atau 2>1, atau 3>1. Jarak jenjang antara dua angka berurutan tidak selalu sama. Contoh: pemberian nomor pemenang pada kejuruan tinju, pemberian nomor pd jenjang keharuman bunga.

3. INTERVAL
Hasil ukur berskala interval adl hasil pengukuran ordinal yg memiliki jarak antarjenjang yang tetap (selalu sama). Jadi dlm deretan 2, 3, 4, 5, 6, 7 maka kita dpt mengatakan bhw jarak 5-3 sama dgn jarak 7-5 atau 6-4. Skala ini tidak memiliki harga nol mutlak shg kita tdk dpt mengatakan bhw 6 adalah 2 x 3. Perbedaan angka pada level interval sudah mempunyai perbedaan kuantitatif dan kualitatif. Data pada level interval ini boleh dikenai opersi (+) dan (-). Contoh: angka-angka pada pengukuran suhu termometer.

4. RASIO
Level rasio pada dasarnya adalah level interval yang memiliki harga nol mutlak, artinya harga nol pada skala ini memang menunjukkan bhw atribut yg diukur sama sekali tdk ada pd obyek yg bersangkutan. Operasi-opersai (+), (-), (x), dan (:). Ukuran berat, panjang, volume merupakan contoh data level rasio.