RSS

Konsep Diri

15 Mar

a. Pengertian Konsep Diri
Menurut Jacinta, Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain.
Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Sedangkan, Salbiah berpendapat Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh lingkungannya . selain itu konsep diri juga akan dipelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu .
Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat diketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan non adaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu : gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).

1). Teori perkembangan.
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

2). Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat )
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.

3). Self Perception ( persepsi diri sendiri )
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.

c. Pembagian Konsep diri
Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ) dikutip Salbiah , yang terdiri dari :
1) Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu .Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
a). Operasi.
Seperti : mastektomi, amputasi ,luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain –lain.
b). Kegagalan fungsi tubuh.
Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tidak mengakui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
c). Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh
Seperti sering terjadi pada klien gangguan jiwa , klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
d). Tergantung pada mesin.
Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik dengan penggunaan intensif care dipandang sebagai gangguan.
e). Perubahan tubuh berkaitan
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.
f). Umpan balik interpersonal yang negatif
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
g). Standard sosial budaya.

Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder. Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala, seperti :
a). Syok Psikologis.
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap analitas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
b). Menarik diri.
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.
c). Penerimaan atau pengakuan secara bertahap.
Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu :
1. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.
2. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
3. Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
4. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.
5. Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.
6. Mengungkapkan keputusasaan.
7. Mengungkapkan ketakutan ditolak.
8. Depersonalisasi.
9. Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.14

2. Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai . Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita– cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan.
Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak–kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :
1. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
4. Kebutuhan yang realistis.
5. Keinginan untuk menghindari kegagalan .
6. Perasaan cemas dan rendah diri.
Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai

3. Harga diri .
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri
Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah.
Harga diri tinggi terkait dengam analitas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).
Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti :
1). Perkembangan individu.
Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak kuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak merasa tidak berguna.
2). Ideal Diri tidak realistis.
Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita – cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang.
3). Gangguan fisik dan mental
Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri.
4). Sistim keluarga yang tidak berfungsi.
Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak akurat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya.
5). Pengalaman traumatik yang berulang, misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.
Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakaan atau perampokan. Individu yang merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya komplin yang biasa berkembang adalah depresi dan tekanan pada trauma.

4. Peran.
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan adalah :
1) Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran.
2) Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan .
3) Kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang di emban.
4) Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
5) Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuaian perilaku peran.
Penyesuaian individu terhadap perannya dipengaruhi oleh beberapan faktor, yaitu :
1) Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan .
2) Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya.
3) Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya.
4) Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran, baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional.
Hal ini, biasanya disebut dengan transisi peran. Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian, seperti :
1). Transisi Perkembangan.
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda – beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.
2). Transisi Situasi.
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau peran berlebihan.
3). Transisi sehat sakit.
Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri peran dan harga diri. Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis, sosiologi atau fisiologi, namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran, penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh :
1) Konflik peran interpersonal Individu dan lingkungan tidak mempunyai
2) harapan peran yang selaras.
3) Contoh peran yang tidak akurat.
4) Kehilangan hubungan yang penting
5) Perubahan peran seksual
6) Keragu-raguan peran
7) Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan
8) dengan proses menua
9) Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran
10) Ketergantungan obat
11) Kurangnya keterampilan sosial
12) Perbedaan budaya
13) Harga diri rendah
14) Konflik antar peran yang sekaligus di perankan
Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala, seperti :
1) Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan
2) peran
3) Mengingkari atau menghindari peran
4) Kegagalan transisi peran
5) Ketegangan peran
6) Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran
7) Proses berkabung yang tidak berfungsi
8) Kejenuhan pekerjaan

5. Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh. Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat yang akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri.Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin.Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut. Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan:
a. Memandang dirinya secara unik
b. Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
c. Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima diri dan dapat mengontrol diri.
d. Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang, seperti :
1) Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
2) Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
3) Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
4) Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
5) Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
6) Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan.
Berdasarkan eksplorasi yang cukup komprehensif dari beberapa teori tersebut di atas, maka dapat dikonklusikan pengertian Konsep diri dapat disintesiskan bahwa konsep diri adalah sebagai evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual, kepercayaan, sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian
Variabel Konsep diri terdari lima dimensi yaitu: (1) Dimensi gambaran diri dengan indikatornya (a) perasaan diri, (b) penampilan fisik, (2) Dimensi ideal diri dengan indikatornya (a) memiliki cita-cita profesionalis, (b) kemampuan mengajar, (3) Dimensi Harga Diri dengan indikator (a) pengakuan profesi, (b) penghormatan orang lain, dan (c) pengembangan karir, (4) Dimensi peran diri dengan indikatornya adalah (a) kesesuaian peran, (b) profesi tambahan, dan dimensi yang ke (5) Identitas dengan indikatornya (a) sikap positif, (b) penguasaan spesifikasi, (c) kemampuan komunikasi

B. Penelitian yang relevan
Kajian empiris ini menyajikan beberapa hasil penelitian terdahulu yang mempunyai kaitan atau kesamaan dengan penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Purwaningsih (1995) mengenai hubungan kepuasan kompensasi dengan komitmen organisasi dan job involvement. Dalam penelitiannya kepuasan kompensasi dilihat dari 3 variabel antara lain : (a) Kompensasi material, (b) Kompensasi sosial, (c) Kompensasi aktivitas sebagai variabel bebas X, komitmen organisasi dan job involvement sebagai variabel tergantung (Y). Hasil penelitian tersebut adalah terdapat pengaruh positif antara kepuasan kompensasi dan komitmen organisasi job involvement. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah adanya penggunaan kompensasi sebagai salah satu variabel dan kepuasan kerja sebagai variabel terikatnya, namun masih banyak variabel lain yang tidak ada dalam penelitian Purwaningsih . Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningrat (2000) tentang pengaruh prestasi kerja terhadap imbalan dan kepuasan kerja yang merupakan studi terhadap Pegawai Kantor Pos kelas III Purwokerto.
Dalam penelitian tersebut prestasi kerja ada 4 macam variabel :
a. Pengetahuan tentang peraturan
b. Pengetahuan dan kecakapan tentang tata usaha
c. Kuantitas kerja
d. Kualitas kerja.
Sedangkan imbalan ditekankan pada imbalan ekstrinsik yang diterima yaitu :
a. Imbalan finansial
b. Imbalan interpersonal
c. Promosi
Kepuasan kerja dilihat dari imbalan ekstrinsik, analisa data menggunakan analisa jalur (path analysis). Hasil penelitian dilakukan oleh Wahyuningrat, bahwa prestasi kerja mempunyai pengaruh signifikan terhadap imbalan. Kemudian secara keseluruhan bahwa variabel pengetahuan tentang peraturan, pengetahuan dan kecakapan tentang tata usaha, kualitas kerja, kuantitas kerja, imbalan finansial, imbalan, interpersonal dan promosi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan imbalan dalam ekstrinsik
Herman Yulianto (1996) dengan penelitian berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja, Kebutuhan Berprestasi dan Kinerja”. Salah satu tujuan penelitian adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan Petugas Dinas Luar (PDL). Obyek penelitian adalah Petugas Dinas Luar di Lingkungan Industri Asuransi Jiwa di Kotamadya Malang. Pengambilan sampel dengan cluster sampling yaitu membagi perusahaan Asuransi Jiwa menjadi dua kelompok (BUMN dan non BUMN). Sampel diambil 25 % dari PDL. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis faktor, variansi dan analisis korelasi. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor-faktor yang terdiri dari penghasilan, kondisi lingkungan kerja, kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kreatifitas, hubungan sosial. Kesempatan untuk maju, perhatian terhadap hak-hak azasi, pengaruh pekerjaan terhadap kehidupan keluarga, persepsi masyarakat tentang tempat kerja dan kepemimpinan ditempat kerja secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Relevansinya dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama ingin membuktikan bahwa ada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kepuasan kerja karyawan
Suwendra (1999) yang melakukan studi kasus tentang “ Penerapan Sistem Penilaian Prestasi Kerja Model Sistem Penilaian Kinerja Pegawai (SPKP) dan dampaknya terhadap Kepuasan Kerja Pegawai di PT Jamsostek (Persero) Kantor Wilayah VI ”. Salah satu tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui pengaruh SPKP(Sistem Penilaian Kinerja Pegawai) terhadap kepuasan kerja. Subyek penelitian adalah pejabat dan staf PT Jamsostek Kanwil VI, dimana pengambilan sample dilakukan dengan teknik Stratified Random Sampling (SRS), dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang terdiri dari 38 pejabat dan 42 staf. Penelitian menggunakan analisis regresi dan untuk uji hipotesis dilakukan uji t dan uji F. Hasil penelitiannya adalah adanya pengaruh antara kerja yang secara mental menantang, imbalan yang pantas, kondisi kerja yang mendukung, rekan kerja yang mendukung dan kesesuaian kepribadian pekerjaan (variabel independen) terhadap kepuasan kerja. Relevansinya dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti tentang pengaruh variabel terhadap kepuasan kerja.
Adji Suratman (2003) melakukan penelitian tentang “Studi Korelasional Antara Motivasi Kerja, Program Pelatihan dan Persepsi Tentang Pengembangan Karir Dengan Kepuasan Kerja Karyawan“ yang dilakukan pada PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari Jakarta. Subyek penelitian adalah Karyawan PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari Yakarta” dimana pengambilan penelitian dengan simple random sampling dengan penyebaran questioner. Hasil penelitian ini adalah kepuasan kerja karyawan meningkat dengan adanya peningkatan motivasi kerja, program pelatihan dan persepsi tentang pengembangan karir baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Relevansinya dengan penelitian penulis adalah sama-sama meneliti tentang pengaruh variabel terhadap kepuasan kerja
Dari beberapa kajian empiris diatas bisa diambil kesimpulan bahwa penelitian yang dilakukan penulis hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Herman Yulianto (1996) yang berjudul “
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja, Kebutuhan Berprestasi dan Kinerja” dimana Herman Yulianto mengambil obyek penelitian pada Petugas Dinas Luar di Lingkungan Industri Asuransi Jiwa di Kotamadya Malang, perbedaannya terdapat pada variabel yang dipergunakan dan obyek yang diteliti dimana penulis dalam hal ini lebih menekankan pada lembaga pendidikan yaitu SMK Negeri dengan variable kepemimpinan kepala sekolah dan konsep diri guru sebagai variabel bebas dan kepuasan kerja sebagai variabel terikat .

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2010 in Informasi

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: