RSS

Perilaku Guru ( Oleh: Hasnida)

17 Jun

1. Perilaku Guru
Menurut keputusan Menpan no.84/1993 guru adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat berwewenang untuk melaksanakan pendidikan dengan tugas utama mengajar peserta didik pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah termasuk Taman Kanak-Kanak atau membimbing peserta didik pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurut Muhibbin Syah guru adalah: ”tenaga pendidik yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, kegiatan mengajar yang dilakukan guru tidak hanya beroriantasi pada kecakapan-kecakapan berdimensi ranah cipta saja tetapi kecakapan yang berdimensi ranah rasa dan karsa” .
Dalam suasana pendidikan dan pengajaran terjalin interaksi antara siswa dengan guru atau antara peserta didik dengan pendidik. Interaksi ini sesungguhnya merupakan interaksi dua kepribadian yaitu kepribadian siswa sebagai anak yang belum dewasa dan sedang berkembang mencari bentuk kedewasaan dengan guru yang telah memiliki kepribadian dewasa.
Menurut Nana Syaodih bahwa: ”guru mempunyai peranan ganda sebagai pengajar dan pendidik. Kedua peran tersebut bisa dilihat perbedaannya, tetapi tidak bisa dipisahkan.Tugas utama sebagai pendidik adalah membantu mendewasakan anak didik, dewasa secara psikologis, sosial dan moral. Dewasa secara psikologis berarti individu telah mampu berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, juga telah mampu bertanggung jawab atas segala perbuatannya, mampu bersikap objektif” .

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya. Oleh sebab itu guru harus berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.
Secara umum, perilaku dijelaskan “sebagai segala aspek dari kegiatan organisme, termasuk fikiran, perasaan dan aktivitas fisik”. Dewantoro menggunakan istilah cipta rasa dan karsa, sementara di masyarakat saat ini populer istilah penalaran, penghayatan dan pengalaman”.
Zahara Idris berpendapat “ bahwa pengertian perilaku didalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan (sikap) tidak saja badan atau ucapan”.
Secara spesifik perilaku menurut Syari Rusdi adalah: ” padanan dari kata behavior yang mempunyai arti cara-cara bertindak, bersikap, dan memberi respon terhadap seseorang atau suatu obyek.”
Perilaku dapat juga diartikan sebagai suatu tindakan atau perbuatan yang layak bagi manusia. Kata perilaku itu sendiri mengacu pada tindakan atau aktifitas seperti yang dikemukakan oleh Bloom dalam Maryana Yunus bahwa perilaku adalah : “ segala tindak tanduk seseorang yang dapat diamati, didengar, dan dirasakan orang lain.”
Untuk lebih memperjelas konsep perilaku peneliti merangkaikan beberapa hal yang dapat di cermati melalui wujud aktivitas sebagai berikut :
Tidak tahu → kognitif = cipta = panalaran
Tidak suka → afektif = rasa = penghayatan
Tidak bisa → senso motorik = karsa = pengalaman
Tidak mau → konatif
Dari uraian diatas dapat dipertegas bahwa perilaku adalah aktivitas manusia yang berupa penalaran, penghayatan dan pengalaman dalam merespon lingkungannya. Berkaitan dengan perilaku guru maka indikator yang perlu di ketahui adalah sikap, kepribadian, motivasi dan pengalaman beragama.
Sikap merupakan salah satu faktor penting dalam menganalisis tingkah laku sosial manusia. Dengan mengetahui sikap seseorang, dapat diramalkan kecenderungan perilaku, pendirian dan keyakinan seseorang terhadap suatu objek, sikap pendirian dan keyakinan itu merupakan hasil dari pengetahuan yang dimiliki seseorang melalui pengalamannya.
Sikap merupakan aspek psikis yang dimiliki setiap orang untuk merespon terhadap sesuatu stimulus atau lingkungan. Alisuf Sabri mengatakan:”sikap (attitude) diartikan sebagai suatu kecendrungan untuk mereaksi terhadap sesuatu hal, orang atau benda dengan suka, tidak suka atau acuh tak acuh.”
Kerlinger mengatakan bahwa: ”sikap (attitude) adalah ancang-ancang atau kecendrungan yang tertata untuk berfikir, merasa, menyerap dan berperilaku terhadap sesuatu referen (suatu kategori, kelompok atau himpunan, fenomena, objek-objek fisik, kejadian, perilaku bahkan konstruk atau objek kognitif).”
Hanif Ismail mengutip pendapat Baron menjelaskan bahwa : sikap terdiri atas tiga komponen yaitu : (1) Cognitive Component (kepercayaan pengetahuan), (2) Evaluative Component (perasaan), (3) Behavioral Component (kecenderungan berperilaku).
Menurut Wirawan , sikap bersifat multidimensional sebab terdiri dari faktor afektif, kognitif dan konatif yang muncul secara bersamaan.
1. Komponen afektif merupakan respon emosional yang dipicu oleh objek dari sikap, orang yang bersikap dapat suka atau benci, suka tidak suka, cinta atau benci terhadap objek.
2. Komponen kognitif menunjukkan kepercayaan orang yang bersikap terhadap objek, sikap kepercayaan ini dikembangkan dari unsur-unsur fikiran, pengetahuan, observasi dan hubungan logika antar unsur-unsur tersebut.
3. Komponen konatif merupakan komponen perilaku orang yang bersikap terhadap objek, sejumlah psikolog percaya bahwa, sikap akan menghasilkan perilaku yang dapat diramalkan.
Sikap dapat dilihat dari kebiasaan dan hasil belajar dan diidentifikasi sebagai tujuan pendidikan yang diinginkan.Sikap dapat dipelajari secara langung dan tidak langsung.Sikap dipelajari secara lansung bila merupakan akibat atau hasil dari pengalaman.Sikap dipelajari secara tidak lansung bila ditunjukan kepada tokoh-tokoh yang sangat dihargai dan dipuja sekaligus dapat menimbulkan perubahan sikap.
Sikap juga tidak bersifat tetap,tetapi ada kecendrungan untuk dapat berubah dan dipelajari (bukan bawaan), oleh karena itu sikap lebih dapat dibentuk,dikembangkan,dipengaruhi dan diubah.
Dari beberapa pendapat di atas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa sikap berbeda dengan perilaku, karena sikap belum menjadi perilaku tetapi kecendrungan seseorang dalam berperilaku. Sedangkan perilaku adalah ekspresi akhir yang terpancar dari diri seseorang yang mencakup segala sesuatu yang dikatakan dan yang diperbuat oleh seseorang sebagai respon terhadap orang lain atau objek tertentu.
Perilaku sehari-hari adalah cermin kepribadian seseorang. Kepribadian yang baik ditumbuhkan dari sikap positif, dan kepribadian yang buruk ditumbuhkan dari sikap negatif.Sikap positif dan negatif lahir dari pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang akhlak. Pengetahuan tentang akhlak dapat diperoleh melalui pelajaran tentang induk akhlak itu sendiri yaitu agama.
Sikap positif merupakan sikap yang sesuai dengan norma kehidupan, keyakinan dan prinsip hidup yang dipegang seseorang dan diakui oleh komunitas hidupnya. Dari sikap inilah akan menumbuhkan perilaku sebagai perwujudan ranah psikomotor yang berhubungan dengan prinsip hidup dan keyakinan tersebut. Sikap dan perilaku dimiliki oleh seseorang dalam beragama menunjukan akhlak yang bersangkutan,akhlak itu pula yang akan menjadi perhiasanya dalam pergaulan.
Kepribadian merupakan suatu pola tingkah laku dari individu, baik itu yang tampil maupun yang masih berbentuk potensi di pengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungannya atau hasil belajar.
Menurut Lanyon dan Goodstain bahwa kepribadian sebagai abstraksi karakteristik perilaku yang signifikan dan menetap pada diri seseorang yang dapat diamati melalui perilakunya terhadap orang lain.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah segala bentuk perilaku yang terorganisir, unik dan menetap dalam diri seseorang yang dipergunakan untuk merespon stimuli dari dalam dan luar dirinya yang dipengaruhi oleh faktor Hereditas dan lingkungan.
Menurut Lefton motivasi adalah kondisi internal yang spesifik dan mengarahkan perilaku seseorang ke tujuan.
Maslow berasumsi bahwa perilaku manusia termotivasi kearah self fulfillment. Setiap orang mempunyai motif bawaan yang selalu diperjuangkan untuk dipenuhi yang bergerak dari motif yang paling sederhana yaitu kebutuhan fisiologis sampai aktualisasi diri.
Herzberg mengembangkan model dua faktor, dijelaskan bahwa ada dua faktor yang terpisah yaitu Higiene Factors dan Statisfier Factor yang mempengaruhi motivasi. Higiene Factors adalah faktor yang apabila tidak ada dalam kondisi kerja akan menimbulkan rasa ketidakpuasan, namun keberadaannya menimbulkan rasa netral. Statisfier factors adalah faktor yang keberadaannya sangat membangkitkan motivasi tapi ketiadaannya jarang mengakibatkan rasa kecewa pada karyawan.
Dari kedua teori yang dikemukakan oleh kelompok Humanistis di atas dapat disimpulkan bahwa aktualisasi diri merupakan puncak dari motivasi. Indikator dari aktualisasi diri adalah dedikasi, bertanggung jawab, independensi, percaya diri dan kepuasan pribadi.
Al qur’an telah mengisyaratkan peran para nabi dan pengikutnya dalam pendidikan dan fungsi fundamental mereka dalam pengkajian ilmu-ilmu Islam serta aplikasinya, isyarat tersebut salah satunya terdapat dalam al qur’an surat Ali Imran ayat 79 :

Artinya :.
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
Keutamaan profesi Guru sangatlah besar sehingga Allah menjadikannya sebagai tugas yang diemban Rasulullah SAW, seorang Guru hendaknya menyempurnakan sifat rabbaniah dengan keikhlasan artinya aktivitas sebagai pendidik bukan semata-mata untuk menambah wawasan keilmuan, lebih jauh dari itu harus ditujukan untuk meraih keridhaan untuk Allah serta mewujudkan kebenaran, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam surat Ali Imran 164 :

Artinya :
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata .
Agama merupakan pondasi awal untuk menanamkan rasa keimanan pada seseorang manusia. Lewat pengalaman empiris dan analisa sejarah manusia mengetahui bahwa akidah agama perannya tidak dapat digantikan oleh apapun dalam pembinaan hati nurani, pensucian akhlak dan pembentukan motivasi yang merangsang kebaikan dan pembentukan disiplin yang mencegah kejahatan. Tanpa akhlak tidak akan ada hukum dan tanpa iman tidak akan ada akhlak.
Menurut Zakiah Darajat, ada enam kebutuhan yang menyebabkan orang memerlukan agama yaitu (1) kasih sayang (2) aman (3) harga diri (4) bebas (5) sukses (6) ingin tahu. Berdasarkan ke enam kebutuhan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa : cipta berperan untuk menentukan benar atau tidaknya suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang. Rasa menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama. Karsa menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.
Dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah : segala yang mencakup perkataan dan perbuatan guru yang ditandai dengan sikap yang positif, kepribadian yang baik, aktualisasi diri yang tinggi sebagai puncak dari motivasi dan diiringi dengan akhlak yang mulia, karena guru merupakan teladan bagi murid-muridnya.

2. Kepemimpinan
a. Hakikat Kepemimpinan
Jim Dornan & John C. Maxwell berpendapat bahwa “kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi, seorang pemimpin sejati ialah pemimpin yang mampu mempengaruhi orang lain untuk menjadi pengikutnya, ia mampu mengajak mereka untuk bergabung dan bergerak bersamanya, ia selalu membesarkan hati orang-orang di sekitarnya agar pandangan, tujuan dan keberhasilannya menjadi luas”.

Mhd. Tholhah Hasan mengatakan bahwa “Pengertian kepemimpinan dapat dibedakan antara kepemimpinan sebagai “status” dan kepemimpinan sebagai proses sosial. Kepemimpinan sebagai status merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki seseorang atau suatu badan. Dan kepemimpinan sebagai proses sosial mencakup segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu badan yang dapat menggerakkan tindakan warga masyarakat atau pengikutnya”.

Stephen P. Robbins mengatakan bahwa : “Kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran”. Dalam kepemimpinan terdapat keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pimpinan tersebut. Sedangkan pimpinan adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan.
Menurut Hemphill & Coons, seperti yang dikutip oleh Wahjosumidjo bahwa : “Kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika dia mengarahkan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan bersama kelompok tersebut”.
Kepemimpinan merupakan motor atau daya gerak dari semua sumber-sumber dan alat yang tersedia bagi suatu organisasi. Dalam kepemimpinan terdapat keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pimpinan tersebut. Sedangkan pimpinan adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan.
Yang perlu diingat bahwa pemimpin menjadi pemberi ilham, pemberi dorongan, penggerak dan perintis jalan untuk mencapai tujuan. Pemimpin mengadakan dan memamfaatkan sesuatu yang dapat membantu bawahannya.
Dalam mengantarkan orang atau kelompok orang pemimpin tidak bertindak sewenang-wenang, ia wajib mentaati apa yang disebut tata susila yakni pedoman berperilaku yang dipegang secara konsisten.
Didalam kelompoknya seorang pemimpin diharapkan dapat mengkaji masa lalu, mampu melaah masa kini dengan seksama serta memperkirakan masa depan dengan teliti. Berdasarkan hal tersebut pemimpin dapat mengambil keputusan untuk bertindak dalam mengarahkan dan memotivasi bawahannya.
b. Teori dan Tipologi Kepemimpinan
Terry mengemukakan sejumlah teori kepemimpinan sebagai berikut :
1) Teori Otokratis, kepemimpinan menurut teori ini didasarkan atas perintah-perintah, paksaan dan tindakan-tindakan yang arbiter (sebagai wasit) ia melakukan pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien.
2) Teori Psikologis, teori ini mengatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah.
3) Teori Sosiologis, adalah dianggap sebagai usaha-usaha melancarkan antara relasi dalam organisasi, dan usaha untuk menyelesaikan konflik organisatoris antara pegawainya agar tercapai kerja sama yang baik.
4) Teori suportif, para pengikut berusaha sekuat mungkin dan bekerja dengan penuh gairah sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui policy tertentu.
Untuk maksud ini pemimpin harus menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya. Untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerja sama dengan pihak lain, mau mengembangkan bakat dan skill dan menyadari benar keinginan sendiri untuk maju. Ada pihak yang menamakan teori suportif ini sebagai teori partisipatif dan ada pula yang menamakan kepemimpinan demokratis”.
Sondang P. Siagian mengemukakan lima tipe kepemimpinan yang umum yaitu :
1) Tipe yang otokratik, tipe pemimpin yang otokratik adalah seorang pemimpin yang egois. Egoisnya sangat besar akan mendorongnya memutarbalikan kenyataan yang sebenarnya sehingga sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterprestasikannya sebagai kenyataan.
Seorang pemimpin yang otokratik akan menterjemahkan disiplin kerja yang ditunjukkan oleh para bawahannya sebagai perwjudan kesetiaan para bawahan itu kepadanya, padahal sesungguhnya disiplin kerja itu didasarkan kepada ketakutan, bukan kesetiaan.
Seorang pemimpin yang otokratik dalam prakteknya akan menggunakan guru kepemimpinan yang :
b) Menuntut ketaatan penuh dari bawahannya
c) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan kekakuan
d) Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
e) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinya penyimpangan oleh bawahan.
2) Tipe yang Paternalistik, tipe ini banyak terdapat di lingkungan masyarakat yang masih bersifat tradisional, umumnya di masyarakat yang agraris. Popularitas pemimpin yang paternalistik timbul karena berbagai faktor diantaranya :
a) Kuatnya ikatan promordial
b) Extended family sistem
c) Kehidupan masyarakat yang komunalistik
d) Peranan adat istiadat yang sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakat
e) Mesti dimungkinkannya hubungan pribadi yang intim antara seorang anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya.
Persepsi pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan di warnai oleh harapan para pengikutnya. Harapan itu pada umumnya berwujud keinginan agar pemimpin mereka mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan yang layak di jadikan tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk.
3) Tipe yang kharismatik, seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret dan untuk memperoleh petunjuk.
Pengikut tipe pemimpin ini tidak mempersoalkan nilai-nilai yang dianut, sikap dan perilaku serta gaya yang digunakan oleh pemimpin yang diikutinya itu. Bisa saja seorang pemimpin yang kharismatik menggunakan gaya yang otokratik atau diktatorial, para pengikutnya tetap setia kepadanya. Mungkin pula seorang pemimpin yang kharismatik menggunakan gaya paternalistik, tetapi tetap tidak kehilangan daya pikat. Daya tarik pun tetap besar bila ia menggunakan gaya yang demokratik atau partisipatif.
4) Tipe yang Laissez Faire, tipe pemimpin ini melihat peranannya sebagai “polisi lalu lintas”. Dia menganggap para anggota organisasi sudah mengetahui dan cukup dewasa untuk taat pada peraturan permainan yang berlaku.
Tipe pemimpin Laissez Faire, cenderung pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus dijalankan dan digerakan.
5) Tipe yang Demokratik, Tipe pemimpin ini merupakan pemimpin yang paling efektif dalam kehidupan organisasi. Pemimpin demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.
Pemimpin yang demokratik memperlakukan manusia dengan cara manusia dalam menindak para bawahan yang melanggar disiplin organisasi dan etika kerja yang disepakati bersama pendekatannya adalah yang bersifat korektif dan educatif dan bukan yang bersifat punitive, meskipun cara yang punitive pun akan ditempuhnya apabila cara-cara lain ternyata sudah tidak ampuh lagi.
Disamping teori diatas pakar manajemen menyebutkan delapan tipe-tipe kepemimpinan sebagai berikut :
a. Tipe Desertes, yaitu tipe pemimpin yang kurang memperhatikan kegiatan para pelaksananya dan terkesan kurang bertanggung jawab.
b. Tipe Bureaucrat, tipe ini adalah tipe pemimpin yang selalu taat kepada prosedur dan peraturan organisasi. Tipe pemimpin semacam ini akan tepat bila peraturan yang dibuat sudah benar, kesan kepemimpinannya mengutamakan efektivitas.
c. Tipe Missionary, yaitu pemimpin yang hanya berorientasi kepada orang-orang yang melaksanakannya saja, ia tidak begitu memperhatikan hasil, tetapi perhatian terhadap para pelaksana sangat besar.
d. Tipe Developer, yaitu tipe pemimpin yang mempunyai perhatian kepada efektivitas kerja dan hubungan baik dengan orang lain.
e. Tipe Autocrat, yaitu tipe pemimpin yang mempunyai oriantasi kepada tugas saja, sedangkan perhatiannya kepada orang-orang yang melaksanakan tugas sangat kurang.
f. Tipe Benevolent Autocrat, yaitu tipe pemimpin yang mempunyai perhatian kepada pelaksanaan tugas dan efektivitas.
g. Tipe Compromise, yaitu pemimpin yang mempunyai perhatian kepada pelaksanaan tugas dan hubungan baik dengan orang melalui jalan kompromi atau musyawarah.
h. Tipe Executive, yaitu tipe pemimpin yang mempunyai tiga sifat yaitu berorientasi kepada tugas, hubungan baik dengan orang lain dan berorientasi kepada efektivitas.

c. Fungsi Kepemimpinan
Menurut James A. F. Stoner bahwa seorang pemimpin mempunyai dua fungsi yaitu :
1) Task related atau problem solving function, dalam fungsi ini pemimpin memberikan saran atau pemecahan masalah serta memberikan sumbangan informasi dan pendapat.
2) Group maintenance function atau social function, pemimpin membantu kelompok beroperasi lebih lancar, pemimpin memberikan persetujuan atau melengkapi anggota kelompok yang lain misalnya, menjembatani kelompok yang berselisih pendapat dan memperhatikan diskusi kelompok.
Gambar 1 : Dua macam fungsi pokok kepemimpinan.
Sumber : Wahjosumidjo (2002:42)

Dedi Sudarman menyebutkan bahwa fungsi kepemimpinan itu pada pokoknya adalah menjalankan wewenang kepemimpinan, yaitu menyediakan suatu sistem komunikasi, memelihara kesediaan bekerja sama dan menjamin kelancaran serta keutuhan organisasi.
Kepemimpinan merupakan salah satu fungsi proses manajemen, yang menjadi tanggung jawab manajer, disamping fungsi-fungsi lain seperti merencanakan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, mengevaluasi dan mengembangkan.
Jadi sasaran utama kepemimpinan adalah karyawan, yang bertitik tolak dari pendapat bahwa kepemimpinan adalah inti dari administrasi, maka keterkaitan antara kepemimpinan, manajemen dan administrasi dalam suatu proses kegiatan usaha bersama.
Kepemimpinan sebagai salah satu fungsi manajemen merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan amat berat seolah-olah kepemimpinan dipaksa menghadapi berbagai faktor seperti : struktur atau tatanan, koalisi kekuasaan dan kondisi lingkungan organisasi. Sebaiknya kepemimpinan dapat rasanya dengan mudah menjadi satu alat penyesuaian yang luar biasa terhadap persoalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi.
Peranan utama kepemimpinan adalah untuk mengajak atau meyakinkan seluruh bawahan atau pengikut sedemikian rupa sehingga mereka mau melakukan usaha atau kegiatan untuk bekerja dalam rangka pencapaian tujuan kelompok.
Faktor-faktor dalam proses kepemimpinan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2 : Proses Kepemimpinan
Sumber : Wahjosumidjo (2002:15)
d. Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
Menurut Slamet efektivitas adalah:”ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran/tujuan (kuantitas, kualitas, waktu) telah dicapai” . Untuk mengukur efektivitas kepemimpinan pada umumnya, peneliti merujuk pada tiga teori yaitu:
1) Trait Theori (Teori Sifat), teori ini berasumsi bahwa terdapat banyak karakteristik pribadi yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pemimpin yang efektif. Oleh karena itu efektivitas kepemimpinan seseorang diukur pada seberapa banyak karakteristik yang dipersyaratkan tersebut dimiliki.
Para peneliti mencoba menemukan karakteristik individu yang membedakan pemimpin yang berhasil dengan pemimpin yang gagal, ia mengaitkan karakteristik seperti kepribadian, emosional, fisik, intelektual dan karakteristik individu lainnya.
Barangkali sedikit optimis dan yakin bahwa kemungkinan ada karakter-karakter yang konsisten dan unik yang akan berlaku secara universal pada kepemimpinan efektif yang cendrung dapat dibedakan dalam kepemimpinan.
2) Behavioral Theories (Teori Tingkah Laku), teori ini berasumsi bahwa keberhasilan atau efektivitas kepemimpinan dan kepatuhan bawahan terhadap pemimpin ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu efektivitas kepemimpinan seseorang diukur pada seberapa tepat seseorang menerapkan gaya kepemimpinan yang direkomendasikan.
Teori ini menekankan pada dua gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan berorientasi pada tugas dan berorientasi pada tenaga pekerja .Orientasi pada tugas adalah perilaku pimpinan yang menekankan bahwa tugas-tugas dilaksanakan dengan baik dengan cara mengarahkan dan mengendalikan secara ketat bawahannya, sedangkan orientasi tenaga pekerja merupakan perilaku pimpinan yang menekankan pada pemberian motivasi kepada bawahan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tugasnya dan mengembangkan hubungan yang bersahabat, saling percaya mempercayai dan saling menghormati diantara anggota kelompok dalam organisasi.
3) Teori-teori kontingensi, teori ini mencoba mengakomodasikan variabel spesifik yang terlibat dalam situasi kepemimpinan. Teori kontingensi menitikberatkan analisisnya pada faktor situasi dan menegaskan bahwa kepemimpinan yang tepat pada situasi yang tepat.
Menurut Veithzal setiap pemimpin akan berhasil memimpin suatu organisasi secara efektif bilamana, ia memenuhi syarat-syarat yaitu: (1) mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi untuk dapat memikirkan dan mencarikan cara-cara pemecahan setiap persoalan yang timbul dengan cara yang tepat, bijaksana, serta mengandung kelengkapan dan syarat-syarat yang memungkinkan untuk dilaksanakan, (2) mempunyai emosi yang stabil, tidak mudah diombang-ambingkan oleh perubahan suasana yang senantiasa berganti dan dapat menimbulkan antara mana soal pribadi, soal rumah tangga dan soal organisasi, (3) mempunyai kepandaian dalam menghadapi manusia dan mampu membuat bawahan merasa betah, senang dan puas dengan dan dalam pekerjaan, (4) mempunyai keahlian untuk mengorganisir dan menggerakkan bawahan secara bijaksana dalam mewujudkan tujuan organisasi serta mengetahui dengan tepat kapan dan kepada siapa tanggung jawab dan wewenang akan didelegasikan, dan (5) mempunyai keterampilan manajemen untuk menghadapi persoalan masyarakat yang semakin maju

Dalam hubungannya dengan situasi sekolah Caplow menawarkan suatu formula yang dinamai SIVA variabel yaitu stability, integrity, voluntarism dan achievement, yaitu :
a) Stability adalah kemampuan organisasi untuk memelihara atau meningkatkan statusnya dalam hubungannya dengan lingkungan.
b) Integrity ialah kemampuan organisasi untuk mengontrol konflik internal yang ditunjukkan oleh saling penyesuaian, kurangnya friksi, intensifnya komunikasi dan besarnya konsensus.
c) Voluntarism secara sederhana dapat disamakan dengan moral/semangat kerja yang ditunjukkan dengan rasa senang, jalinan persahabatan, kepuasan batin, dan keinginan anggota untuk tetap berpartisipasi sebagai bagian dari organisasi.
d) Achievement ialah hasil dari kegiatan organisasi yang ditandai dengan keberhasilan dan kegagalan dalam mendapatkan tujuan umum oleh tujuan spesifik dari organisasi.
Dari serangkaian teori yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa inti dari kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain atau bawahan. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus bisa meyakinkankan guru yang dipimpinnya agar mau dan dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dengan ikhlas, penuh semangat dan tidak merasa terpaksa. Kepala sekolah dapat memilih dan menerapkan teori kepemimpinan mana yang dipandang lebih efektif berdasarkan situasi dan kondisi yang terdapat pada lembaga yang dipimpinnya.
Kedudukan kepala sekolah dalam sistem pendidikan formal mempunyai peranan penting dalam proses pelaksanaan pendidikan di sekolah, ia adalah pemimpin formal yang lansung berhubungan dengan guru dan siswa. Ia bertanggungjawab atas pelaksanaan pendidikan di sekolahnya, baik secara vertikal maupun secara horizontal dengan masyarakat lingkungannya.
Kepemimpinan kepala sekolah yang sukses adalah kepemimpinan yang mementingkan tuntutan organisasi sekolah, sedangkan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif adalah kepemimpinan kepala sekolah yang memperhatikan kepentingan organisasi sekolah maupun kebutuhan guru dan staf organisasi sekolahnya.
Berdasarkan analisa tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan disekolah diperlukan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif yakni kepemimpinan yang dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah yang dapat memuaskan dan diharapkan oleh para guru serta personel bawahan lainnya.
Kemudian dalam kepemimpinan kepala sekolah bersifat formal dimana jabatan diperoleh dari pengangkatan pejabat yang lebih berwenang. Akan tetapi tidak semua kepala sekolah yang diangkat secara formal mampu mempengaruhi guru-guru yang ada di sekolahnya.
Pengaruh terwujud apabila pemimpin memiliki kamampuan konseptual, kemampuan hubungan kemanusiaan dan kemampuan teknis.Dengan kemampuannya seorang kepala sekolah perlu memperhatikan tuntutan organisasi sekolah dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan dan kebutuhan guru serta personel sekolah lainnya, supaya kepala sekolah dapat mensinergiskan tuntutan organisasi dan kebutuhan anggota organisasi dalam upaya pencapaian tujuan atas dasar kewenangannya.
3. Kecerdasan Emosional Kepala Sekolah
a. Pengertian Emosi
Istilah emosi berasal dari kata “emotus atau emovere” yang berarti sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu, misalnya emosi gembira mendorong untuk tertawa. Atau dengan perkataan lain emosi didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hampir keseluruhan dari individu.
Secara umum emosi mempunyai fungsi untuk mencapai sesuatu pemuasan atau perlindungan diri atau bahkan kesejahteraan pribadi pada saat berhadapan dengan lingkungan atau objek tertentu. Emosi juga dapat dikatakan sebagai alat yang merupakan wujud dari perasaan yang kuat.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali istilah emosi hanya diartikan sebagai ungkapan perasaan orang yang sedang marah, padahal tidaklah demikian, karena emosi mewarnai semua perasaan yang bergejolak dan mempengaruhi diri individu secara fisik. Emosi telah menjadi pembimbing yang bijaksana dalam perjalanan evolusi yang panjang.
Menurut Suparno perasaan adalah:”merupakan suatu sikap yang menunjukan adanya emosi dalam hubungannya dengan objek, suatu objek dapat dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai.”
Lebih lanjut Bambang Sujiono menjelaskan terdapat perbedaan antara emosi dan perasaan yaitu :
1) Emosi mempengaruhi individu secara total, bukan jasmaniah melainkan keseluruhan jasmani dan rohani sedangkan perasaan menyangkut rohani.
2) Emosi menguasai individu dalam kontrolnya sedangkan perasaan tidak.
3) Emosi selalu berhubungan dengan kejadian yang memiliki arti pribadi sedangkan perasaan tidak.
4) Emosi berlangsung relatif singkat tapi kuat, sedangkan perasaan dapat berlangsung lama dan relatif kuat.
5) Emosi berlangsung tidak lama, perasaan dapat berlangsung dalam waktu yang lama.
6) Emosi adalah realisi terhadap kejadian di luar diri, ini tidak berlaku terhadap perasaan.
7) Emosi menguasai individu sedangkan perasaan tidak.
8) Emosi adalah reaksi terhadap kejadian yang berarti vital dan terhadap diri individu sedangkan perasaan tidak.
b. Kecerdasan Emosional
Hendrie Weisinger menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kecerdasan untuk menggunakan emosi kita sesuai keinginan kita dan karenanya dapat mengendalikan perilaku dan cara berfikir yang membuat kita mampu mencapai hasil yang baik.
Lebih lanjut Hendrie Weisinger mengatakan bahwa ada empat pilar utama dalam kecerdasan emosional, setiap pilar mewakili kemampuan-kemampuan tertentu dan bila kemampuan ini digabungkan akan meningkatkan kecerdasan emosional. Pilar-pilar yang mewakili suatu kemampuan tertentu harus dilihat secara berurutan sesuai jenjangnya, ke empat pilar tersebut adalah :
1) Pilar Pertama ; kemampuan yang tepat dalam persepsi, penilaian dan pengekspresian emosi.
2) Pilar Kedua ; kemampuan mengakses atau menggerakkan perasaan sesuai kebutuhan untuk dapat memfasilitasi pemahaman terhadap diri sendiri ataupun orang lain.
3) Pilar ketiga ; kemampuan untuk memahami berbagai emosi dan berbagai pengetahuan yang terkait dengan itu.
4) Pilar Keempat ; kemampuan mengatur berbagai emosi untuk keperluan pengembangan emosi yang intelektual yang lebih baik.
Dari keempat pilar di atas dapat dilihat bahwa kemampuan untuk menggabungkan keempat pilar tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan kemampuan dan keterampilan intrapersonal dan interpersonal yaitu suatu kemampuan mengelola emosi dengan baik terhadap diri sendiri maupun dalam berinteraksi dengan orang lain.
Dalam nasihatnya Islam memerintahkan manusia dalam berinteraksi dengan sesama untuk memperhatikan batasan-batasan ikatan lahiriah ketika bertemu kerabat atau ketika sedang melaksanakan suatu pekerjaan secara bersama-sama keridhaan dan kebahagian hati ketika bertemu, berdialog atau bekerja bersama-sama adalah gambaran lahiriah dari pengetahuan jiwa yang samar tentang keindahan kasih sayang dan rasa kemanusiaan. Sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 133-134 yaitu :

Artinya :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Agama Islam menghendaki manusia hidup dalam nuansa kedamaian dan menikmati kehidupan manusiawi, sebuah kenikmatan yang menghapuskan persengketaan, permusuhan serta saling menyakiti, karena itu hanya orang-orang yang berakal yang mempunyai jiwa yang besar, kekuatan dahsyat dan cakrawala luas yang mampu menghancurkan kemarahan yang ada.
Taufik Bahaudin mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak atau hasil yang positif terhadap kita ataupun orang lain. Kemampuan mengendalikan emosi diri sendiri atau keterampilan intra personal adalah kemampuan untuk menolong diri sendiri, sedangkan kemampuan mengendalikan emosi kita dalam berintegrasi dengan orang lain disebut keterampilan interpersonal, termasuk kemampuan membantu orang lain.
Lebih lanjut Taufik Bahaudin mengatakan ada tiga upaya yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kecerdasan emosional yaitu : (a) mengembangkan kesadaran diri yang tinggi (b) mengelolah emosi kita dan (c) memotivasi diri sendiri.
Daniel Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri semangat dan ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri.
Ciri-ciri kecerdasan emosional adalah kemampuan, seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasanan hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.
Menurut Kiam bahwa kecerdasan emosional terdiri dari lima komponen yaitu :
a) Intrapersonal ; merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri, perasaan orang lain dan merasa positif tentang apa yang dikerjakan dalam hidup.
b) Interpersonal ; merupakan kemampuan berinteraksi, berhubungan dengan orang lain dan memiliki keterampilan sosial yang baik.
c) Adaptabilitas kemampuan untuk bersikap fleksibel, ralistis dan memecahkan masalah.
d) Pengelolaan Stress ; kemampuan untuk bekerja dengan baik di bawah tekanan tanpa kehilangan kendali.
e) Suasana Hati ; kemampuan untuk optimis, riang gembira dan menciptakan suasana positif dalam lingkungan kerja.

Mengutip pendapat Davies, Monty P. Satia Darma mengatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan lainnya dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntut proses berfikir serta perilaku seseorang.
Menurut Veithzal, kemampuan untuk mengendalikan emosi merupakan basis kemampuan watak, dengan memiliki sifat kasih sayang kepada sesama yang terletak pada empati yaitu kemampuan membaca perasaan orang lain.
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kecakapan yang dimiliki seseorang dalam hal pengendalian diri, pengelolaan stress, berempati dan membina hubungan antar sesama. Seorang yang cerdas emosi adalah yang selalu berusaha untuk mempertahankan fikiran dan sikap-sikap positif sepanjang masa walaupun saat itu dihinggapi perasaan negatif. Dia akan selalu berjuang untuk mengubah perasaan negatif menjadi positif agar benar-benar bisa memancarkan sikap yang menyenangkan dan cocok dengan lingkungannya dan kemudian berupaya menterjemahkan diri kedalam perilaku yang sedap dipandang mata dan serasi.
Kecerdasan emosional dapat ditingkatkan melalui proses belajar dan proses belajar yang paling berpengaruh adalah proses belajar sosial. Dalam proses belajar sosial faktor keluarga atau lingkungan rumah tangga merupakan lingkungan utama individu.

B. KERANGKA BERFIKIR
1. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Perilaku Guru
Tuntutan terhadap peningkatan kualitas pendidikan tidak terlepas dari perilaku guru yang harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan. Guru harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis secara bersamaan.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin memiliki fungsi membina, memandu, membantu, menuntun, membimbing, memberi motivasi, melakukan pengawasan yang efisien dan membawa guru kepada sasaran yang telah ditetapkan.
Dan uraian di atas jelaslah bahwa perilaku guru dipengaruhi oleh kehadiran seorang pemimpin. Hubungan antara kepala sekolah dan guru adalah hubungan timbal balik, satu sama lain saling mempengaruhi oleh karena itu diduga terdapat pengaruh langsung kepemimpinan kepala sekolah terhadap perilaku guru.
2. Pengaruh Kecerdasan Emosional Kepala Sekolah Terhadap Perilaku Guru
Perilaku guru sangat dipengaruhi oleh karakteristik internal sekolah sebagai suatu organisasi dalam mencapai tujuannya, karena suasana kerja yang menyenangkan merupakan warna, nilai, sikap dan perasaan yang sangat berperan terhadap perilaku guru dan upaya pencapaian tujuan organisasi sekolah.
Kepala Sekolah sebagai seorang pemimpin mempunyai peran yang sangat kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolahnya secara optimal, dengan cara membina diri, guru dan peserta didik untuk memiliki kecerdasan emosi yang stabil melalui kecerdasan emosi, semua unsur yang terlibat dalam pendidikan akan memahami diri dan lingkungannya secara tepat.
Sehubungan dengan hal tersebut dan data empiris yang ada diduga terdapat pengaruh langsung kecerdasan emosional kepala sekolah terhadap perilaku guru.

3. Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kecerdasan Emosional Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai pemimpin harus bisa mengelola emosinya, mengelola emosi guru-guru dan stafnya serta sikap yang dikembangkan kepala sekolah penuh empati serta menjadi teladan penegak aturan dan disiplin dalam proses pendidikan di sekolah.
Sebagai seorang pemimpin Kepala Sekolah harus menyadari intelegensi saja tidaklah cukup untuk menghasilkan manusia yang bermutu tetapi perlu dikembangkan kecerdasan emosional, karena kecerdasan emosional telah terbukti berhubungan secara positif dengan kinerja jabatan pada semua level. Kepala sekolah dituntut untuk mempunyai kemampuan manajemen dan kecerdasan emosional untuk keberhasilan kepemimpinannya.
Dengan demikian diduga terdapat pengaruh langsung kepemimpinan terhadap kecerdasan emosional kepala sekolah.

C. Hasil Penelitian Yang Relevan
Untuk memperkuat mental peneliti dalam melakukan penelitian ini diperlukan rujukan yang terkait dengan penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti. Penelitian yang relevan itu adalah:
Penelitian Muhyi (2006) menemukan:” perlu peningkatan kepekaan dalam mengantisipasi iklim sekolah untuk mencapai keunggulan, kepuasan kerja guru dan secara kontinyu perlu melakukan kepemimpinan kepala sekolah untuk meningkatkan kepuasan kerja guru”.
Selanjutnya penelitian Rusamah Saleh(2007) menemukan:”dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sifat keteladanan dari seorang pimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi yang ditimbulkan oleh guru-guru.”
Penelitian Ratna Dewi (2005) menemukan:”bahwa kepemimipian kepala sekolah memiliki hubungan lebih kuat dengan kinerja guru bila dibandingkan dengan komunikasi interpersonal guru”.

 
 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: