RSS

Kompetensi Guru – Oleh : Riyanto

25 Feb

a. Pengertian kompetensi guru
Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Mc. Ashan dalam E. Mulyasa, (2004, hal. 34) mengemukakan bahwa, kompetensi “…….is a knowledge, skills and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the exent. He or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors” (dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik baiknya). Sejalan dengan itu, Finch & Crankilton (1879;22) dalam Mulyasa, mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Disini kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai jenis pekerjaanya.
Broke dan Stone (1975) mendeskripsikan kompetensi sebagai Descriptive of qualitative natur of teacher behavior apperas to be entirely meaningful (Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti). Competency as a ration performance witch satisfactorily meets the objective for a desired condition (Charles E. Johnson, 1974).
Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. The State of legally competence or qualified (mc. Leod 1998). Keadaan berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.
Adapun kompetensi guru (teacher competency) is the ability of a techer to responsibility perform has or her duites appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.
Dengan gambaran pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya. Selanjutnya beralih pada istilah “profesional”. Profesional berarti a vocation on which professional knowledge of some department a learning science is used in its applications to the of other or in the practice of an art found it.
Kata “profesional” berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim dan sebagainya. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperolah pekerjaan lain. (Dr. Nana Sudjana, 1988).
Dalam pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan profesinya. Atas dasar pengertian ini, dapat dimaknai bahwa pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khususnya dalam melaksanakan profesinya.
Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga dia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang (guru) yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. (Agus F. Tamyong, 1987). Seorang guru adalah seorang profesional. Seorang profesional adalah orang yang memenuhi kriteria (kompetensi) yang dipersyaratkan bagi seorang guru (profesi guru).
Yang dimaksud terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh pendidikan formal tetapi juga harus menguasai berbagai strategi dan teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru yang akan diuraikan berikut.
Selanjutnya dalam melakukan kewenangan profesionalnya, guru di tuntut mempunyai seperangkat kemampuan (competency) yang beraneka ragam.
Pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan (Muhibbin, 1997:229.). Johnson (dalam Usman, 1999:14) menyatakan ”competence as a ration performance with satisfactorily meets the objective for desired condition” artinya kemampuan (kompetensi) merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. McLeod (dalam Muhibbin, 1997 :2290) menyebutkan kompetensi adalah the state of being legally competen or qualifed yaitu keadaan yang berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum, sedangkan Broke dan Stone (dalam Wijaya dan Rusyan, 1994:7) menjelaskan bahwa kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti.
Menurut Barlow (dalam Muhibbin, 1997:229) kompetensi guru adalah the ability of a teacher to responsibility perform his or her duties appropriately artinya guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak bisa di lakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus menguasai betul seluk beluk pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan.
Berdasarkan uraian di atas, maka guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Mengingat tugas dan tanggung jawab guru profesional yang kompeten begitu kompleksnya, maka menurut penulis bahwa seorang guru yang profesional dituntut untuk memiliki persyaratan :
(1) Keterampilannya yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
(2) Penekanan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
(3) Adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai
(4) Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dan pekerjaan yang dilaksanakannya
(5) Kemungkinan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
(6) Adanya kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
(7) Adanya klien/obyek layanan yang tetap, seperti guru dengan muridnya.
(8) Diakuinya oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
Atas dasar persyaratan tersebut, maka jabatan profesional guru harus ditempuh melalui jenjang pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan itu. Jadi kualitas guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus ditinjau dari kemampuan profesionalnya, baik kemampuan profesional secara umum maupun khusus. Kemampuan profesional umum untuk seorang guru dapat dilihat dari penguasaannya terhadap ilmu pendidikan dan keguruan terutama yang relevan dengan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama, menguasai isi dan bahan kajian, menguasai didaktik metodik, terampil menerapkan kurikulum, terampil mengajar murid dengan metode yang bervariasi, terampil mengelola kelas, menilai dan membantu program kegiatan belajar mengajar, mempunyai prakarsa, sikap kreatif dan inovatif, serta mampu mengembangkan dirinya secara profesional.
Berdasarkan indikator tersebut terdapat lima tingkatan kemampuan guru yaitu guru pemula (Novice), guru pemula terampil (Advance Beginner), guru mampu (Competent Teacher), guru mahir (Proficient Teacher) dan guru ahli (Expert Teacher). (Anwar Yasin, 1998:101-103). Teaching performance adalah apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru yang dapat diamati. Sedangkan teaching competence menurut Dill adalah pengetahuan yang dimiliki oleh guru, termasuk pengetahuan tentang pengajar (paedagogik), bidang yang ia ajarkan, dan hal-hal yang berkaitan dengan sosiokultural. Dill juga menambahkan bahwa kompetensi guru merupakan suatu proses generatif. (Dill, Nancy L, 1999) Implementasinya di samping dari kemampuan profesional umum, kualitas guru Sekolah Menengah Pertama dapat juga ditinjau dari kemampuan profesional khusus, yang meliputi penguasaan isi bahan pelajaran dari setiap mata pelajaran di sekolah menengah disemua kelas, mampu menjabarkan GBPP tiap mata pelajaran menjadi program semester, mampu mempersiapkan rencana mengajar, sehingga guru selalu siap mengajar di semua kelas, mampu mengajar murid, baik secara klasikal maupun individual dengan menggunakan metode yang sesuai dan bervariasi untuk setiap mata pelajaran, mampu membantu murid dalam belajar, menggunakan sarana belajar termasuk buku dan perpustakaan, mampu memantau dan menilai program, proses dan hasil belajar peserta didik untuk setiap mata pelajaran. Berdasarkan aspek pengukuran tersebut, maka tingkatan kemampuan guru antara lain kemampuan menceritakan (telling), kemampuan menjelaskan (explaining), kemampuan memperagakan (demonstrating), dan kemampuan melibatkan murid untuk mengalami (experiencing). (Anwar Yasin, hh. 106-109)
Apabila kemampuan-kemampuan yang dijelaskan di atas dimiliki oleh guru khususnya guru SMP, maka kemampuan tersebut sebagai wujud dari kompetensi guru dalam mengajar, dan kompetensi penguasaan keterampilan dan pengetahuan tersebut memperoleh dukungan dari pemikiran Godfrey yang mengatakan bahwa “When one can finish work skillfully pursuant to science standard. Hence them refered as competence”, (Ince D Godfrey, 1998: h. 331) bila seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan secara terampil berdasarkan standar ilmu, maka mereka disebut kompeten.
Berikutnya menurut Uzer, bahwa “Kompetensi guru berarti suatu wewenang yang dikaitkan dengan ruang lingkup suatu jabatan atau posisi sebagai guru dan kompetensi guru merupakan landasan dalam rangka mengabdikan profesinya , jadi guru yang kompeten dan yang baik adalah tidak hanya mengetahui, tetapi betul-betul melaksanakan apa yang menjadi tugas perannya” (Uzer Usman, 1995: h.15) Dengan demikian kompetensi merupakan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas sebagai guru yang profesional.
Selanjutnya dalam pandangan Holland, mengatakan bahwa “a competency as rational performance which satisfactorily meets obyective for desire condition”. (Riche T Holland, 1999: h. 203) Maknanya, suatu kompetensi yang rasional dapat mempertemukan antara kepuasan dan sasaran sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Kata kepuasan berarti adanya rasa senang atas pekerjaan yang dilaksanakan, oleh sebab itu kompetensi guru harus disertai dengan kesadaran melakukan sehingga diperoleh rasa senang.
Jadi berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas kompetensi adalah kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal atau kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya, artinya guru yang piawai dalam melaksanakan profesinya dapat disebut sebagai guru yang kompeten dan profesional. Artinya kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Jadi dari beberapa pendapat dan pengertian di atas analisisnya memperoleh kesimpulan bahwa guru yang dinilai kompeten secara profesional apabila:
a. Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik- baiknya.
b. Guru tersebut mampu melaksanakan peranan-peranannya secara berhasil.
c. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan sekolah.
d. Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses belajar mengajar dalam kelas.
Lain lagi dengan Mc Leod, di samping berarti kemampuan, kompetensi juga berarti ….the state of being legally competent or qualified. (Muhibbin Syah, 2002: h.182) Yakni keadaan berwenang atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kompetensi berasal dari kata kompeten yang berarti ‘cakap’ atau mengetahui dan kata kompetensi itu sendiri memiliki arti “ kemampuan menguasai gramatikal suatu bahasa secara abstrak atau batiniah”. (DIKBUD, 1999: h. 378) Dan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal.” (WJS Purwadarminta, 1986:h. 516)
Dari pengertian-pengertian kompetensi tersebut istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna, baik kesesuaian ataupun pengembangannya, pada kesesuaiannya sebagaimana Broke dan Stone katakan yang dikutip oleh Uzer Usman bahwa kompetensi merupakan gambaran hakekat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti, yang mengartikan bahwa kompetensi merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.” (Uzer Usman, h. 4.) Sedangkan kompetensi guru (teacher competency), menurut Barlow ialah The ability of a teacher to responsibly perform his or her duties appropriately, (Muhibin Syah, h.229) artinya kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Tentunya kelayakan kemampuan, kewajiban dan tanggung jawab tersebut sangat erat kaitannya dengan peran, fungsi dan tugas guru yang memperoleh predikat profesional yang kompeten.

a. Kompetensi Guru
Seseorang yang dikatakan kompetensi adalah seseorang yang telah memenuhi dengan baik sejumlah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dipersyaratkan untuk melaksanakan tugas profesinya secara profesional. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi personal, sosial, dan profesional. Masing-masing kompetensi dijelaskan sebagai berikut.
1). Kompetensi Personal
a). Kemampuan Pribadi
(1) Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila
(2) Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
b). Kemampuan berkomunikasi
(1) Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan personal.
(2) Berinteraksi dengan masyarakat untuk pelaksanaan misi pendidikan
c). Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
(1) Membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar.
(2) Membimbing murid yang berkelainan dan berbakat khusus.
d). Melaksanakan administrasi sekolah
(1) Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
(2) Melaksanakan administrasi sekolah
e). Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
(1) Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah.
(2) Melaksanakan penelitian sederhana
2). Kompetensi Profesional
Kemampuan profesional ini meliputi hal-hal berikut:
a) Menguasai landasan kependidikan.
(1) Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
(2) Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat.
(3) Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
b) Menguasai bahan pengajaran
(1) Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah
(2) Menguasai bahan pengayaan.
c) Menyusun program pengajaran.
(1) Menetapkan tujuan pembelajaran,
(2) Memilih dan mengembangkan bahan pengajaran,
(3) Memilih dan mengembangkan startegi belajar mengajar,
(4) Memilih dan mengembangkan media pengajaran yangsesuai,
(5) Memilih dan memanfaatkan sumber belajar.
d) Melaksanakan program pengajaran
(1) Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat.
(2) Mengatur ruangan belajar.
(3) Mengelola interaksi belajar mengajar.
e) Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
(1) Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran.
(2) Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan

b. Peran, fungsi dan tugas guru kompeten
Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas, dalam bentuk pengabdian. Apabila kita kelompokan terdapat tiga jenis tugas guru, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas kemasyarakatan. Guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar kependidikan. Itulah sebabnya jenis profesi ini paling mudah terkena pencemaran.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, melatih, dan membimbing. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada tugas dalam bidang kemanusiaan. Guru berperan sebagai orang tua kedua di sekolah. Oleh sebab itu, guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua yang memiliki kasih sayang, perhatian, dan memfasilitasi kebutuhan siswa. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya dalam belajar.
Tugas guru lainnya adalah sebagai pembimbing. Guru harus mampu membantu siswa untuk mencari dan menentukan jati dirinya. Belajar adalah untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be). Cita-cita adalah harapannya. Tugas guru mengantar siswa untuk meraih cita-citanya.
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.
Tugas dan peranan guru tidak terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakekatnya merupakan komponen strategis yang memilih peranan yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan aktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini.
Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa di tengah-tengah lintasan perjalanan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat mengadaptasikan diri.
Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia pembangunan. Dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah masyarakat.
Sejak dulu, dan mudah-mudahan sampai sekarang, guru menjadi panutan masyarakat. Guru tidak hanya diperlukan oleh para murid di ruang-ruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat lingkungannya dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Tampaknya masyarakat mendudukan guru pada tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat, yakni didepan memberikan suri tauladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberikan dorongan dan motivasi, (ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani).
Kedudukan guru yang demikian itu senantiasa relevan dengan zaman dan sampai kapan pun diperlukan. Kedudukan seperti itu merupakan penghargaan masyarakat yang tidak kecil artinya bagi para guru, sekaligus merupakan tantangan yang menuntut prestise dan prestasi yang senantiasa terpuji dan teruji dari setiap guru, bukan saja di depan kelas, tidak saja di batas-batas pagar sekolah, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat.
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, perkembangan baru terhadap pandangan terhadap belajar-mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal.
Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles of Students Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencanaan, supervisor, motivator dan konselor. Mulyasa (2006: 37-65) mengemukakan bahwa peran guru meliputi guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator pengawet, dan kulminator. Sehubungan dengan hal tersebut, di bagian ini hanya akan dikemukakan peran guru dalam pembelajaran yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian ini, antara lain.
1. Guru sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya (Mulyasa, 2006:37). Guru harus memiliki standar kualitas pribadi yang dipersyaratkan sebagai seorang pendidik. Sekurang-kurangnya seorang guru harus memiliki tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Tanggung jawab meliputi tanggung jawab moral dan tanggung jawab akademik. Tanggung jawab moral meliputi tanggung jawab terhadap nilai-nilai yang ada dan hidup di sekolah dan masyarakat. Tanggung jawab akademik meliputi kompetensi pedagogik dan penguasaan materi pelajaran.
Seorang guru harus memiliki wibawa dan aura kebijakan. Seorang guru harus memahami, penguasai, mengimplikasikan, mengembangkan, dan menjadikan nilai-nilai kehidupan, seperti Spiritual Quation (SQ), Emotion Quation (EQ), Intelligence Quation (IQ), personal Quation (PQ), Social Quation (ScQ). Artinya, seorang guru harus memiliki berbagai kelebihan daripada orang biasa. Kelebihan tersebut antara lain di bidang keagamaan, olah rasa, pengetahuan, kepribadian, dan kecakapan sosial.
2. Guru sebagai Pengajar
Tugas dan tanggung jawab guru yang pertama dan utama adalah melaksanakan pembelajaran. Melalui pembelajaran inilah para siswa memperoleh pengetahuan, mempelajari nilai-nilai, dan kecakapan tertentu.
Perkembangan teknologi komunikasi telah mencoba menggeser peran dan tugas guru. Namun, sampai hari ini, belum mampu menggesernya. Ada satu hal yang tidak dimiliki teknologi tersebut, yaitu roh. Pelajar adalah individu-individu yang memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pelayanan pendidikan adalah pelayanan individual yang diselenggarakan dalam bentuk kelompok (klasikal). Untuk memahami, mengakses karakteristik individu yang tidak permanen tersebut, dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan karakteristik individu tersebut dibutuhkan roh. Roh dan nalar yang ada dalam diri guru merupakan kesempurnaan guru dalam berprofesi. Kemajuan teknologi hanya dapat digunakan untuk hal tertentu, materi tertentu, dan kondisi tertentu sebagai media pembelajaran efektif.
Guru sebagai pengajar dituntut untuk memiliki komptensi akademik dan pedagogik. Guru bertindak sebagai pentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kompetensi ini terimplikasikan dalam proses pembelajaran yang meliputi kemampuan guru merancang, melaksanakan, dan menilai/mengevaluasi.
Salah satu yang harus diciptakan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar terus menerus. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, maksudnya agar apa yang disampaikannya itu betul-betul dimiliki oleh anak didiknya.
Juga seorang guru mampu dan terampil dalam merumuskan TPK, memahami kurikulum, dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dalam memberikan informasi benar kepada kelas. Sebagai pengajar ia juga membantu perkembangan anak didik untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan. Akhirnya seorang guru akan dapat memainkan peranannya sebagai pengajar dengan baik bila ia menguasai dan mampu melaksanakan keterampilan-keterampilan mengajar.
3. Guru sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey) bagi para siswanya dalam upaya mencapai kompetensi (Mulyasa, 2006:40). Sebagai pembimbing seorang guru harus mempunyai kompetensi (1) mengidentifikasi kondisi dan kebutuhan siswa, (2) merencanakan dan mengelola partisipasi siswa dalam pembelajaran baik fisik maupun mental, (3) merencanakan dan memberikan pembelajaran bermakna bagi kehidupan siswa, dan (4) merencanakan dan melaksanakan penilaian pembelajaran.
1. Guru sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran membutuhkan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik. Untuk maksud tersebut diperlukan pelatih yang profesional, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing.
Pelatihan yang dilakukan harus memperhatikan kompetensi dasar dan juga materi standar dengan tetap memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Guru harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai sebagai pelatih yang profesional yang mampu mengantar siswa yang dilatihnya mencapai prestasi terbaiknya.
2. Guru sebagai Pengelola Kelas
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (lerning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar berjalan terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan kegiatannya sendiri. Siswa harus belajar melakukan self control dan self activity melalui proses bertahap. Sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efesien serat hasil optimal. Sebagai manajer lingkungan belajar, guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori belajar-mengajar serta teori perkembangan serta kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.

3. Guru sebagai Evaluator
Evaluator atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang penting dan paling kompleks karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan. Penilaian merupakan proses menetapkan efektivitas program pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa. Penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketetapan atau keefektifan metode mengajar. Tujuan lain dari penilaian di antaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya dengan penilain guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok siswa yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik dikelasnya jika di bandingkan dengan teman-temannya.
Dengan penelaahan pencapaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan, atau sebaliknya. Jadi, jelaslah bahwa guru mampu dan terampil melaksanakan penilaian karena dengan penilaian, guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.
Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus-menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar selanjutnya. Dengan demikian belajar mengajar akan terus menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil optimal.
Pandangan umum tentang peran, fungsi dan tugas guru dalam proses pembelajaran bidang studi tertentu merupakan salah satu kompetensi guru dalam kesatuan kemampuan pribadi. Sehubungan dengan hal tersebut Natawidjaja dan Surya yang dikutip oleh Soetjipto, mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam menerapkan kompetensi keguruan dalam membimbing proses pembelajaran, yaitu:
(1) perlakuan siswa didasarkan atas keyakinan bahwa siswa memiliki potensi untuk dikembangkan, (2) sikap positif dan wajar terhadap siswa, (3) perlakuan hangat, ramah, rendah hati dan menyenangkan, (4) pemahaman siswa secara empati, (5) penghargaan martabat siswa secara individu, (6) penampilan secara asli tidak berpura-pura, (7) kongkrit dalam menyatakan diri, (8) menerima siswa apa adanya, (9) perlakuan secara permisif, (10) peka terhadap perasaan siswa, (11) mengembangkan siswa lebih dewasa, (12) penyesuaian diri dalam keadaan khusus. (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1994: hh. 102-103)
Berdasarkan pernyataan diatas bahwa peran , tugas dan fungsi guru dalam proses pembelajaran berarti adalah menciptakan serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu sehubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembanagn siswa yang menjadi tujuannya. Oleh sebab itu guru dituntut memiliki perasaan menghargai, tidak pilih kasih, tidak curiga, selalu memiliki hati bersih dan mau menolong dalam menjalankan tugasnya, dengan kata lain ia harus profesional dalam menjalakan tugas dan kewajibannya, seperti dikatakan sebelumnya bahwa profesional guru mengandung pengertian yang meliputi unsur-unsur kepribadian, keilmuan dan keterampilan .
Secara umum teori kompetensi yang diimplementasikan dalam kompetensi guru adalah sebagai pembentuk utama calon warga masyarakat yang baik di bidang tertentu. (W. James Popham dan Evi L. Baker, 1992: h. 1) Dalam arti bebas, bahwa kompetensi adalah kinerja rasional yang diwujudkan untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam kondisi yang dibutuhkan. Bila dianalisis lebih mendalam dari pandangan-pandangan tersebut di atas, maka kompetensi menyangkut masalah standar ilmu pengetahuan, kemampuan dan keterampilan individu, kinerja, dan masyarakat/lembaga dalam kondisi tertentu.
Secara general atau umum, kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan tugas mengajar yang dilihat dari hasil belajar siswa, peran dan tanggung jawab guru, dan hasil kerja yang berkenaan dengan proses pelaksanaan pembelajaran secara optimal, yang dapat mengubah perilaku positif dari siswanya melalui pengalaman belajar yang didukung oleh lingkungan, sarana dan prasarana pembelajaran.
Dari pengertian kompetensi tersebut memiliki unsur: rational, performance, satisfactory, objective dan desire conditions, yang memiliki makna bahwa rational berarti guru mempunyai arah dan tujuan (apa dan mengapa guru berbuat). Guru sudah mempertimbangkan melalui akalnya memilah beberapa alternatif strategi pembelajaran dan memilih salah satu untuk dilaksanakan. Performance atau kinerja tidak hanya bagaimana berperilaku yang dapat diamati, tetapi juga melibatkan hal yang tidak dapat diamati seperti memanipulasi ide, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan. Saticfactory suatu tindakan untuk mewujudkan kompetensi yang memadai untuk mencapai tujuan pembelajaran, hal tersebut harus dapat menghindari implikasi kompetensi yang a highly proficient act (tindakan kecakapan yang berlebihan). Objective, yaitu suatu kekhususan atau suatu yang menunjukkan hasil yang diharapkan, sedangkan desire condition menggambarkan suatu keadaan atau eksistensi terhadap kebutuhan yang mungkin akan menjadi perilaku yang berubah pada individu atau kelompok dari suatu produk atau ide, jawaban dari suatu pertanyaan, pemecahan masalah, rencana atau stratetgi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan lain sebagainya. (Oemar Hamalik, 1989: hh. 18-19)
Dengan demikian guru yang kompeten dan profesional adalah guru yang selalu mau mengembangkan dirinya guna mengikuti kemajuan jaman. Menurut Cheppy guru yang baik sangat tergantung kepada persepsi masing-masing orang yang terlibat dalam penyelengaraan pendidkan. (Cheppy Harry Cahyono, 1996: h. 9) Persepsi kepala sekolah bisa saja berbeda dengan persepsi orang tua siswa yang satu dengan yang lain tentang guru yang baik, Cheppy mengutip pendapat Gallup bahwa di Amerika Serikat ada kesepakatan tentang guru yang baik, yaitu;
(1) memiliki kemampuan berkomunikasi, memahami dan mengungkapkan sesuatu; (2) sabar; (3) disiplin; (4) memilki karakter moral yang tinggi; (5) ramah, berkepribadian baik, memiliki rasa humor (6) dedikasi dan antusiasme terhadap profesi mengajar; (7) mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada siswa-siswanya; (8) pandai; dan (9) memiliki kepedulian terhadap siswa-siswanya. (Ibid, h. 2)
Lebih lanjut Garchia berkomentar bahwa kompetensi guru yang terkait dengan tugasnya, adalah kompetensi: 1) dasar, untuk kebutuhan siswa, 2) umum, untuk persyaratan yang dimiliki oleh umum, 3)teknik, berkaitan landasan mengajar, 4) komunikasi, untuk berinteraksi, 5) spesifik, yang berkaitan dengan proses pembelajaran. (Pedro K Garchia, 1997: hh. 216-222) Lima jenis kompetensi tersebut secara menyeluruh menggambarkan betapa beratnya perangkat guru yang kompeten. Karena guru dituntut adanya perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam belajar mengajar, ia bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaranan dan menguasai tujuan –tujuan pendidikan yang harus dicapai.
Sehubungan dengan peran, fungsi dan tugas guru tersebut, lebih dalam untuk menjalankan kewenangan profesionalnya, dapat disimpulkan bahwa guru yang kompeten dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan yang bersifat psikologis, yang meliputi :
1). Kompetensi kognitif guru yang mengandung bermacam-macam pengetahuan baik yang besifat deklaratif (pengetahuan yang relative statis normative dengan tatanan yang jelas dan dapat diungkapkan dengan lisan) maupun yang bersifat prosedural (pengetahuan praktis dan dinamis yang mendasari ketrampilan melakukan sesuatu yang bersemayam dalam otak).
2). Kompetensi afektif guru yang meliputi fenomena perasaan dan emosi (sikap dan perasaan diri) .
3). Kompetensi Psikomotor Guru yang meliputi keterampilan dan kecakapan yang bersifat jasmaniah.
Dari analisis kompetensi guru tersebut di atas memiliki unsur: rational, performance, satisfactory, objective dan desire conditions, yang memiliki makna bahwa rational berarti guru mempunyai arah dan tujuan (apa dan mengapa guru berbuat). Guru sudah mempertimbangkan melalui akalnya memilah beberapa alternatif strategi pembelajaran dan memilih salah satu untuk dilaksanakan. Performance atau kinerja tidak hanya bagaimana berperilaku yang dapat diamati, tetapi juga melibatkan hal yang tidak dapat diamati seperti memanipulasi ide, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan. Saticfactory suatu tindakan untuk mewujudkan kompetensi yang memadai untuk mencapai tujuan pembelajaran, hal tersebut harus dapat menghindari implikasi kompetensi yang a highly proficient act (sukap mahir yang berlebihan). Objective, yaitu suatu kekhususan atau suatu yang menunjukkan hasil yang diharapkan, sedangkan a desire condition menggambarkan suatu kedaan atau eksistensi terhadap kebutuhan yang mungkin akan menjadi perilaku yang berubah pada individu atau kelompok dari suatu produk atau ide, jawaban dari suatu pertanyaan, pemecahan masalah, rencana atau strategi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan lain sebagainya. (Ohamalik, h. 20) Lebih lanjut W james dan Evi L Baker menyatakan: ”Secara umum teori kompetensi yang diimplementasikan dalam kompetensi guru adalah sebagai pembentuk utama calon warga masyarakat yang baik dibidang tertentu”. (Popham dan Baker, h.1) Dalam arti kata, bahwa kompetensi adalah kinerja rasional yang diwujudkan untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam kondisi yang dibutuhkan. Bila dianalisis lebih dan mendalam dari pandangan–pandangan tersebut diatas, maka kompetensi menyangkut masalah standar ilmu pengetahuan, kemampuan dan keterampilan individu, kinerja masyarakat/lembaga dalam kondisi tertentu. Beberapa persyaratan yang dapat mendukung kompetensi guru, menurut Raka Joni yang dikutip oleh Oemar Hamalik, perangkat kompetensi yang digali dari kurikulum sekolah guru adalah kemampuan dalam:
(1) mengembangkan pribadi, (2) menyusun program pengajaran, (3) mengembangkan alat dan bahan pelajaran, (4) melaksanakan kegiatan dalam memanfaatkan sumber lingkungan, (5) berinteraksi dengan siswa, masyarakat dan kalangan pendidik, (6) melaksanakan program yang telah dibuat dengan mengunakan metode, teknik dan alat yang sesuai, (7) menilai hasil maupun proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, (8) mengidentifikasi kesulitan dan memberikan bimbingan kepada siswa yang menghadapi kesulitan, (9) melaksanakan tugas administrasi, dan (10) melakukan penelitian yang sederhana. (Oemar Hamalik, hh. 27-29)
Kesepuluh jenis persyaratan kemampuan yang menggambarkan instrumen penting dalam menilai kompetensi guru tersebut, tentunya akan menjadi sempurna bila seluruhnya dapat dilaksanakan dengan baik, tetapi dalam pelaksanaan kompetensi guru tersebut hampir tidak mungkin dapat dilakukan semuanya dengan sempurna, karena kompetensi guru tidak hanya bersumber pada kemampuan individu guru saja tetapi banyak faktor di luar kemampuan pribadi yang terlibat didalamnya.
Seperti dikatakan sebelumnya, bahwa jabatan yang profesional, untuk menjadi guru jelas diperlukan keahlian, kecakapan yang khusus. Tidak semua orang dapat menduduki jabatan guru bila tidak mempunyai keahlian untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru berarti mampu untuk menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan dan juga harus menguasai ilmu-ilmu keguruan dan ketrampilan dasar mengajar sebagai senjata utama untuk mengajarkan keahliannnya pada anak didiknya.
7. Kompetensi Ketrampilan Dasar Mengajar
Keterampilan mengajar termasuk dalam kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang berarti ketrampilan dan kemampuan guru mengajar merupakan manisfestasi kompetensi guru mengajar. Ketrampilan dan kemampuan guru mengajar merupakan komponen inti dari kemampuan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Komponen pengetahuan yang berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikap dan nilai tersebut dibentuk secara bertahap mulai dari modal ketrampilan dasar mengajar dilanjutkan mengajar dilanjutkan menjadi guru untuk memperoleh pengalaman mengajar sampai menjadi kompeten dibidangnya, tetapi apapun kompetensinya, guru tetap harus memiliki ketrampilan dasar mengajar yang didapat dari latar belakang pendidikannya dan diimplementasikan dalam tugas guru mengajar untuk memperoleh pengalaman (skill base teach got from education background to teaching duty implementation and the teacher to get experience). (Dale L. Colombia, 2000: hh. 531-532)
Kompetensi dasar professional yang harus dimiliki oleh seorang guru seperti yang dijabarkan dalam Pedoman Pelaksanaan Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan (P4SPTK) di Indonesia mengemukakan 10 kemampuan dasar mengajar bagi guru yang profesional yaitu:
(1) Menguasai bahan; (2) Mengelola program belajar mengajar; (3) Mengelola kelas; (4) Menggunakan media/sumber; (5) Menguasai landasan-landasan kependidikan; (6) Mengelola interaksi belajar mengajar; (7) Menilai prestasi siswa untuk kependidikan pengajaran; (8) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan; (9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah; (10) Memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. (W. Gulo, 2002: hh. 37-38)
Apabila kita pelajari secara mendalam, maka kompetensi-kompetensi profesional guru tersebut di atas dianalisis secara mendalam, maka dapat disimpulkan menjadi 4 (empat) kemampuan yakni :
a. Guru harus dapat dan mampu untuk mengelola kegiatan belajar mengajar sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan .
b. Guru harus memiliki dasar pengetahuan tentang tujuan pendidikan di Indonesia.
c. Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan dan penyuluhan.
d. Guru harus memiliki pengetahuan dan bahan yang baru mengenai ilmu yang disajikan, serta memiliki kemampuan untuk mengadministrasikan masalah-masalah pendidikan .
Dalam pandangan Holland, mengatakan bahwa “ a competency as rational performance which satisfactorily meets obyective for desire condition”. (Riche T Holland, h. 203) Maknanya, bahwa suatu kompetensi yang rasional dapat mempertemukan antara kepuasan dan sasaran sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
Sintesis:
Berdasarkan seluruh hasil analisis di atas, maka dapat disimpulkan sebagai sintesis bahwa yang dimaksud dengan kompetensi guru mengajar dalam penelitian ini adalah kemampuan guru menjalankan program pengajaran yang direalisasikan dalam bentuk kemampuan dasar mengajar guna mencapai keberhasilan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas, meliputi dimensi dan indikator, sebagai berikut; 1) dimensi tugas guru, yang terdiri dari indikator-indikator; a) peranan guru, b) fungsi tugas, 2) dimensi kemampuan dasar mengajar, terdiri dari indikator-indikator; a) kemampuan mengelola kegiatan pembelajaran, b) tujuan pendidikan sekolah, c) bimbingan dan penyuluhan, d) pengadministrasian masalah-masalah pendidikan, 3) dimensi implementasi keterampilan kompetensi guru mengajar, terdiri dari indikator-indikator; a) bertanya, b) memberikan penguatan, c) mengadakan variasi, d) menjelaskan, e) membuka dan menutup pelajaran, f) membimbing diskusi kelompok kecil, g) mengelola kelas dan h) mengajar kelompok kecil dan perorangan, i) menggunakan metode dan media, j) melakukan evaluasi.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Februari 25, 2011 in Informasi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: