RSS

Mengenal Pulau Sabira, Pulau Terpencil dan Paling utara di Jakarta


Mercusuar di Pulau Sabira, Pulau Paling Terpencil dan Paling Utara di Jakarta

mengintip-keindahan-pulau-sabira-penjaga-utara-zaman-belanda

Kepulauan Seribu adalah gugusan pulau yang paling jadi favorit wisatawan Jakarta dan sekitarnya. Di antaranya banyak pulau di sana, ada satu yang paling cantik, masih perawan dan berada di paling utara: Pulau Sabira.

Pulau Sabira atau yang juga disebut Pulau Sebira berada pada kordinat 05°12′18.5″S 106°27′39.4″E (lihat peta satelit), adalah pulau paling utara di Kabupaten Kepulauan Seribu, makanya kerap disebut sebagai “Pulau Penjaga Utara”. Pulau ini tepatnya berada di Kelurahan P. Harapan, Kecamatan P. Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Berada paling jauh dari garis pantai Jakarta inilah yang membuatnya jarang dikunjugi wisatawan. Hasilnya, jadilah Pulau Sabira masih ‘perawan’ sampai saat ini. Walau terlihat keindahan alamnya masih perawan karena jarang sekali ada wisatawan, namun disana sudah ada penduduknya yang berjumlah 1.000 warga.

Warga Pulau Sabira terkenal jago membuat ikan asin dan memang terkenal enak. Biasanya, nanti ikan asin itu akan dibawa warga Pulau Sabira ke Jakarta untuk dijual setiap seminggu sekali. Sebab kapal dari Pulau Sabira ke Pelabuhan Kamal Muara di Kecamatan Kamalmuara, Jakarta Utara, cuma beroperasi seminggu sekali.

Semua itu berlaku karena pulau ini adalah pulau paling jauh dari daratan Jakarta. Dari Pelabuhan di Kamal Muara, Pulau Sabira berjarak enam jam perjalanan. Dari Pulau Harapan sekitar tiga jam. Bahkan letak pulau ini lebih dekat ke Lampung, hanya satu jam perjalanan saja.

Pulau Sabira satellite map

Di Pulau Sabira, Awalnya Hanya Boleh Dirikan Tenda

Pada masa penjajahan Belanda, biasa menyebut pulau seksi dan cantik tersebut sebagai Noord Watcher yang memiliki arti ‘Penjaga Utara’. Selain itu, pulau yang memiliki luas sekitar 9,5 hektar ini juga mempunyai menara mercusuar setinggi 42 meter yang masih berdiri tegak sejak peninggalan kolonial Belanda yang membangunnya pada tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III.

Mercusuar ini difungsikan sebagai tempat pengawas kapal asing yang hendak berlabuh. Keindahan alam dan banyaknya jenis ikan di perairannya menjadi alasan nelayan mulai mendatangi sdan kemudian bermukim di pulau tersebut.

Awalnya ada seorang nelayan bernama Joharmansyah, melaut di perairan Pulau Sabira. Joha biasa dirinya disapa, ketika itu melihat banyaknya potensi di pulau yang terletak di ujung utara Kepulauan Seribu ini.

Pada tahun 1974, warga Pulau Genteng yang pertama datang ke Pulau Sabira. Tapi nelayan dari Pulau Genteng hanya mencari ikan, setelah mendapat hasil tangkapan, lalu pulang. Waktu dulu di Pulau Sabira, hanya ada hutan dan mercusuar dan tidak mudah nelayan diperbolehkan untuk bermukim di Pulau Sabira.

Namun perjuangan seorang nelayan bernama Joharmansyah ini tak pantang lelah, dibarengi dengan niat baik dan tekad yang besar membuahkan hasil. Awalnya harus menyetorkan hasil tangkapan ikannya sebanyak 1 kwintal yang 10 kilogram di antaranya diberikan kepada petugas navigasi menara mercusuar.

kepulauan seribu sabira genteng Jakarta
Pulau Sabira dan Pulau Genteng, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, DKI Jakarta

Pada tahun 1975, perlahan-lahan mereka memilih meninggalkan Pulau Genteng besar akibat adanya desakan dari pemerintah Kepulauan Seribu untuk meninggalkan pulau tersebut dan pindah di Pulau Sabira pada tahun 1975 dan bermukim di sini.

Untuk membuat rumah memang tidak diperbolehkan, jadi nelayan hanya sekedar membuat tenda. Akhirnya pelan-pelan nelayan bisa membuka lahan di sini dan membuat rumah yang sebelumnya tidak diperbolehkan oleh petugas navigasi.

Awal penduduk di Pulau Sabira hanya berjumlah 22 jiwa yang sebelumnya merupakan warga Pulau Genteng Besar. Sebenarnya, penduduk di Pulau Genteng Besar diberikan ganti rugi untuk berpindah ke Pulau Pemagaran pada tahun 1975 itu. Namun mereka menolak dan lebih memilih untuk pindah ke Pulau Kelapa Dua dan Pulau Sabira.

Jadi para nelayan terbagi dua. Ada yang ke Pulau Kelapa Dua, dan ada yang ke Pulau Sabira. Sebelumnya kita diberi pulau yaitu Pulau Pemagaran pada tahun 1975 tapi warga tak ada yang mau, menurut warga di situ kurang bagus dan tidak ada potensi besar untuk kehidupan karena tidak adanya ikan, sehingga mereka tidak ada tangkapan sehari-hari, oleh sebab itulah akhirnya para nelayan pindah ke Pulau Sabira.

Sekitar tahun 1984 Pemerintah Bandar Lampung pernah datang ke sini dan menawarkan untuk berpindah kependudukan dari DKI Jakarta menjadi penduduk Bandar Lampung. Bupati, Kapolres, Danramil Lampung sudah datang kesana, tapi warga tetap tak mau karena hasil tangkapan mereka dijual ke Muara Angke dan Kamal Muara di Jakarta, selain itu mereka juga sudah memiliki KTP DKI Jakarta.

Kini, seluruh penduduk Pulau Sabira berprofesi sebagai nelayan dan usaha pengasinan ikan (ikan asin). Pulau tersebut memiliki jumlah penduduk 523 jiwa yang kebanyakan dari mereka berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Namun, kehidupan penduduk di Pulau Sabira tidak tertinggal jauh dari penduduk yang berada di daratan. Walaupun jauh dari daratan, kehidupan di sana sangat erat dan dipimpin oleh satu Ketua Rukun Warga (RW) dan 4 Rukun Tetangga (RW).

Pulau Sabira satellite map 2

Menyusuri Pulau Sabira, Pulau Terluar nan Indah di Provinsi DKI Jakarta Yang Jarang Dikunjungi Wisatawan

Begitu tiba di Pulau Sabira, warga dan deretan kapal-kapal nelayan seakan menyapa Anda. Yup, anda adalah orang asing disana dan tentu saja anda adalah seorang turis. Tentu saja, warga sekitar yang sudah berkumpul di area dermaga dan siap memberikan senyuman.

Maklum, pulau ini jarang dikunjungi wasatawan dan mereka menyambut anda bagai seorang tamu agung. Alamnya pun masih asri bahkan beberapa wasatawan bilang ‘masih perawan’.

Begitu masuk ke dalam pulau, terlihat deretan rumah kayu yang berjejer. Rata-rata di sini, rumahnya tingkat. Boleh dibilang, “kampung” di sini rapi dan bersih. Seorang warga yang juga ketua RW, Ibu Hajjah Hartuti (68 tahun), rumahnya terkadang digunakan para traveller untuk beristirahat.

Jejeran kapal nelayan yang seakan menyambut kedatangan tamu
Jejeran kapal nelayan yang seakan menyambut kedatangan tamu (aryeenmita@wordpress)

Ibu Hajjah sudah tinggal di Pulau Sabira ini sejak tahun 1978. Ia menyatakan bahwa dulu pulau ini luasnya 10 hektar, sekarang tinggal 8,5 hektar.

Kini, ada 152 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 555 jiwa. Selain itu, beliau bercerita bahwa di Pulau ini tidak ada pasokan listrik. Tapi, listrik berasal dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Di beberapa titik memang terlihat PLTS, yang bentuknya menyerupai atap. Ada di dekat masjid, sekolah, dan sebagainya. Dari pagi sampai sore, mereka menggunakan listrik dari PLTS. Tapi, itu kalau ada matahari, kalau tidak, ya, tidak ada pasokan listrik. Dari jam 17.00 sampe jam 07.00 pagi, mereka mengunakan PLTD. Tapi kalau musim hujan kacau listrik di sini bahkan sering mati.

Dari segi pembayaran listrik, penduduk Pulau Sabira menyetorkannya kepada ketua RW lalu disetor kepada petugas yang memberikan PLTS dan PLTD.

Ada yang membayar per hari ada pula yang membayar per bulan. Penduduk di sini bayar sehari Rp 1000 sampai Rp 1500 per hari, ada pula yang bayar Perbulan Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

Sebuah Pohon yang tersisa akibat abrasi di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Sebuah Pohon yang tersisa akibat abrasi di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. (aryeenmita@wordpress)

Mari menyusuri pulau ini. Sepanjang perjalanan, akan benar-benar merasakan “Kampung Nelayan”. Ya! selain pakaian yang dijemur tentunya, ada ikan-ikan selar dijemur lalu ada juga kerupuk ikan yang dijemur.

Begitu melewati masjid Nurul Bahri, yang diarealnya terdapat PLTS, pandangan akan tertumbuk pada mercusuar berwarna putih. Suasana benar-benar sepi. Yang terdengar cuma deburan ombak aja. Hiiii..!

Perjalanan dilanjutkan menyusuri pinggir pantai yang sudah ditembok pendek, seperti benteng. Tak jauh dari lepas pantai, terdapat sebuah pohon yang tumbuh sendirian. Pohon yang misterius.

Jelas bukan pohon bakau, namun apapun jenis pohonnya ia berusaha untuk hidup dari air laut yang asin di sisa hidupnya. Jika dilihat dari garis pantai, sepertinya pohon itu pada masa lalu berada di daratan.

Akibat abrasi laut, maka garis pantai semakin susut ke darat dan pohon itu tetap bertahan untuk hidup dengan sisa kekuatannya. Life will find the way. Lalu, agar pulau tak habis oleh abrasi dan deburan ombak, maka dibuatlah tembok pendek sebagai penangkal ombak.

Inilah SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira. Ruangan kelas ini benar-benar keren. Dan didukung oleh PLTS.
Inilah SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira. Ruangan kelas ini benar-benar keren. Dan didukung oleh PLTS. (aryeenmita@wordpress)

Di pulau ini juga terdapat sekolahan. Tak disangka, sekolahnya ini lebih bagus dari kebanyakan SD dan SMP Inpres di Kota Jakarta. Namanya SD-SMP Negeri Satu Atap 02, Pulau Sabira. Sekolahnya ini berlantai keramik putih. Ada pula alat peraga yang lengkap.

Bahkan, dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC). Sayangnya, minimnya listrik di Pulau Sabira ternyata berimbas juga pada terganggunya fasilitas sekolah ini, ketika itu AC tidak dapat digunakan setiap saat, karena bergantung pada kondisi PLTS.

Tiadanya fasilitas laboratorium komputer juga akibat dari minimnya pasokan listrik di Pulau tersebut. Jika AC atau komputer dinyalakan, listrik langsung mati. Namun kelasnya benar-benar bersih.

Dan hebatnya, terlihat anak-anak pun begitu bersemangat bersekolah. Yang memprihatikan, gedung yang ‘wah’ tak sepadan dengan tenaga pengajar.

Di sini gurunya hanya 7 orang! Padahal siswanya bisa ratusan. Jadi, ada guru yang mengajar dobel, SD dan SMP. Ketika lulus SMP, rata-rata anak-anak di sini pergi ke Pulau Pramuka atau ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.

sekolah SD-pulau-sabira
Halaman sekolah SD-SMP Negeri Satu Atap 02, Pulau Sabira. (merdeka.com/dharmawan sutanto)

Menelisik Mercusuar si “Penjaga Utara”

Penjaga Utara. Itulah ungkapan yang disandang Pulau Sabira dari Kolonial Belanda sekira 1,5 abad lalu. Julukan yang diemban oleh pulau yang tadinya seluas 10 hektar, 9,5 hektar hingga kini 8,5 hektar akibat abrasi laut ini, karena posisinya yang berada paling utara di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Untuk memperkuat gelar itu, Belanda membangun sebuah mercusuar bernama Noord Wachter pada tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III. Mercusuar ini difungsikan sebagai tempat pengawas kapal asing yang hendak berlabuh. Meski usia benda peninggalan sejarah ini terbilang tua, namun masih bisa berdiri tegak hingga ketinggian sekitar 50 meter atau tepatnya 42 meter itu.

Hanya saja bagian dalamnya cukup memprihatinkan. Pantauan pada Jumat (6/6/2014) siang menunjukkan, lapisan cat di sekeliling mercusuar berbahan besi itu sudah mulai terkelupas. Bahkan di bagian yang terkelupas, besinya sudah menguning dan berkarat. Di atas pintu masuk mercusuar, terpampang jelas tulisan bahasa Belanda yang ditempel menggunakan plakat besi.

“Onder De Recering Van Z.M Willem III Koning den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.”

Dari informasi penjaga mercusuar bernama Langgeng (34), arti dari tulisan itu adalah ‘Di bawah kekuasaan Raja Z.M Willem III dari Belanda. Didirikan untuk suar lampu pendar 1869’.

Mercusuar Sabira by Sutikno Sanusi Ibrahim
Mercusuar Pulau Sabira “Onder De Recering Van Z.M Willem III Koning den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.” (Sutikno Sanusi Ibrahim)

Menurut Langgeng, selain dibangun saat penjajahan Belanda, bahan baku mercusuar ini juga dibawa langsung dari negeri Kincir Angin menggunakan kapal uap. Saat masuk ke lantai dasar, hawa pengap dan tipisnya oksigen mulai menganggu pernafasan.

Kondisi lantai dasar saat itu berantakan dan dipenuhi peralatan yang bisa mendukung operasional mercusuar, seperti kabel, dinamo dan besi bekas. Tak jauh dari pintu masuk, terlihat ratusan anak tangga menanjak dengan posisi 60 derajat ke bagian paling atas mercusuar. Berdasarkan penuturan Langgeng, diketahui ada 210 anak tangga di mercusuar itu.

Ratusan anak tangga itu menempel di sepanjang tepian mercusuar hingga ke bagian atas. Apabila dilihat dari bawah mau pun atas, tangga berbahan besi itu tampak meliuk-liuk menyerupai gerakan seekor ular. Meski terlihat unik, namun kondisi tangganya sangat memprihatinkan.

Dari 210 anak tangga, tercatat ada tiga anak tangga yang patah. Bahkan dua diantaranya, diganjal menggunakan bangku bekas yang terbuat dari besi. Agar tak goyah, bangkunya diikatkan ke teralis tangga maupun anak tangga yang masih ada menggunakan beberapa helai kawat. Namun sayang kondisi buruk tidak hanya di bagian tangga saja, teralis besi di sepanjang anak tangga juga tampak karatan.

Bahkan sambungan las teralis itu ada yang terkelupas, sehingga bisa mengancam keselamatan penjaga yang hendak naik ke atas. Curamnya anak tangga dan minimnya udara, membuat sang penjaga mercusuar bernafas tersengal-sengal saat mendaki tangga.

Terkadang harus beristirahat di tengah jalan sambil menghirup oksigen melalui jendela di beberapa dinding mercusuar. Setelah beberapa menit beristirahat, perjalanan keatas dilanjutkan. Tepat 10 menit kemudian, barulah sampai di leher mercusuar. Jarak antara leher dengan puncak mercusuar sekitar 5 meter. Di sini bisa beristirahat bebas, karena bagian bawah yang dipijak terlapisi lempengan besi yang mengelilingi ruang mercusuar.

tangga-mercusuar-pulau-sabira

Rasa sesak di dada juga berangsur menghilang, ketika ada hembusan angin kencang melalui empat daun jendela di titik ini. Sang penjaga mercusuar pun tidak mengetahui pasti, ruang ini diperuntukan sebagai tempat apa. Usai beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Hanya beberapa menit saja, langsung tiba tepat di ruang lampu mercusuar yang berada di puncak.

Posisi lampu suar berada persis di tengah-tengah ruangan. Ketika beroperasi, lampu ini akan menyala kelap-kelip menyeruak dari dalam kaca kristal yang membungkusnya. Apabila menengok lebih dalam, ukuran bohlam lampu pijar cukup besar, seperti botol kemasan air mineral 1,5 liter.

Meski terbilang tua, namun rangkaian lampu pijar ini masih bisa beroperasi maksimal. Kekaguman tidak hanya pada benda peninggalan sejarah ini saja. Namun keindahan penorama di Pulau Sabira dan laut terlihat melalui balkon mercusuar.

Dalam hitungan detik, pengunjung langsung bisa melihat seluruh permukaan Pulau Sabira. Disela-sela waktu istirahatnya di balkon mercusuar, Langgeng mengakui bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda ini belum pernah diperbaiki oleh pemerintah Indonesia.

Bahkan Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI selaku pengelola mercusuar ini pun jarang menyambanginya. Meski demikian, apabila bohlam ini mati UPT kenavigasian di lingkungan Direktorat Jendral Perhubungan Laut akan mengganti bohlam tersebut. Menurut Langgeng, satu bohlam itu mampu bertahan selama 10 tahun.

Maka dari itu, bisa dipastikan petugas yang berwenang hanya menyambangi mercusuar ini beberapa kali saja dalam kurun 10 tahun. Padahal, kata Langgeng, keberadaan mercusuar ini sangat vital sebagai tanda kehidupan bagi kapal yang biasa melintas di sekitar pulau ini pada malam hari. Langgeng memprediksi apabila tidak ada mercusuar ini, kapal tangker, peti kemas bahkan nelayan bakal terdampar di pulau ini.

“Kalau malam banyak kapal yang melintas di sekitar pulau ini. Saat itu juga, lampu mercusuar kita nyalakan. Dengan begitu, dalam radius sekitar 300-400 meter, kapal yang sedang lewat akan menjauh dari pulau ini untuk menghindari karam di sekitar pulau,” ujar Langgeng.

mercusuar pulau sabira 00
Lampu mercusuar Pulau Sabira (merdeka.com/dharmawan sutanto)

Langgeng mengatakan, untuk menyalakan bohlam mercusuar yang memiliki tegangan 12.000 watt, pihaknya menggunakan tiga buah mesin diesel. Satu mesin diantaranya merupakan zaman peninggalan Belanda berbarengan dengan dibangunnya mercusuar. Sementara dua mesin diesel lainnya buatan Indonesia tahun 1980-an.

“Dulunya lampu ini menggunakan tiga unit diesel, tapi karena dua mesinnya rusak sekitar tahun 1980. Maka diganti dengan buatan Indonesia. Sementara satu mesin lagi masih bagus dan bisa dioperasikan,” kata Langgeng.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Julius Andravida Barata mengatakan, pihaknya mesti melihat data perencanaan perbaikan fasilitas yang dipegang Dirjen Perhubungan Laut. Pasalnya ada beberapa fasilitas Dirjen Perhubungan Laut yang akan diperbaiki pada tahun ini.

Hantu Mercusuar Pulau Sabira

Di menara mercusuar setinggi 42 meter yang masih berdiri tegak di Pulau Ssbira sejak peninggalan kolonial Belanda, menyimpan certa angker. Mercusuar yang dibangun sejak tahun 1869 di masa pemerintahan Raja Willem III tersebut, ternyata menyimpan mitos mistis di dalamnya.

Konon, di Mercusuar yang usianya tergolong tua tersebut dihuni oleh satu keluarga asal Belanda yang kadang terlihat penampakannya baik di dalam maupun di sekitar Mercusuar.

Tini (60) yang merupakan warga yang sudah sekitar 20 tahun lalu menghuni Pulau Sabira mengatakan, pertama kali dirinya datang pernah melihat satu orang wanita, anak kecil, dua orang wanita dewasa, dan satu orang pria berjanggut berada di mercusuar tersebut.

“Ada empat orang bule rambut pirang kayak keluarga gitu, mereka berkeliaran dekat mercusuar dan di dalam mercusuar. Kalau enggak percaya coba aja mas naik ke sana malam-malam di atas jam 11,” ujar Tini.

langgeng-penjaga-mercu-suar-di-pulau-sabira-jakarta
Tampak pantai Pulau Sabira dari atas mercusuar (wartakotalive.com)

Menurut Tini, saat itu dirinya penasaran dengan keberadaan mercusuar tersebut, dan ingin melihatnya lebih dekat. Namun baru sampai pintu depan mercusuar dirinya sudah mendengar suara anak kecil menangis.

“Saya baru mau masuk udah dengar suara anak kecil nangis di depan pintu masuk, tapi pas saya melengok kok gak ada, saya coba masuk ke dalam mercusuar eh lihat ibu-ibu pirang melototin saya di belakang pintu masuk,” tandasnya. Kejadian tersebut tak membuat Tini takut, kemudian dirinya berusaha untuk masuk ke dalam mercusuar.

“Saya coba masuk tapi ternyata digembok pintu masuknya, saya disamperin sama penjaga mercusuar, mau kemana bu, jangan ke sini udah malam mending ibu balik ke rumah aja, dia bilang begitu. Saya curiga, ternyata pas saya tanya kenapa, dia bilang, nanti daripada kamu kenapa-kenapa mending pulang aja,” tandasnya.

Sementara itu penanggung jawab mercusuar, Joko Darmaji (55) tidak menyangkal bila mercusuar kuno itu ada penunggunya.

“Iya memang ada penunggunya, mereka 4 orang asing. Makanya kalau foto-foto jangan cuma sendirian, nanti ada bayangan mereka. Nah kalau naik ke atas jangan malam hari dan nengok ke belakang karena biasanya penunggunya ada di belakang dan gak suka kalau diganggu, di situ ada anak kecil nangis dan pria tinggi tegap berambut panjang dan pirang,” tandasnya.

Pengunjung Juga Ditemui ‘Penghuni’ Mercusuar Pulau Sabira

Salah seorang penduduk Pulau Sabira, Ali (65) mengatakan, sangat sering ketika ada orang yang bukan penduduk asli Pulau Sabiri, didatangi salah satu dari empat penunggu saat mendekat ke menara Mercusuar itu.

“Kalau sama penduduk sini mah jarang banget ditemuin, tapi kalau sama orang asing mereka merasa keusik, makanya sering dijumpai,” ujar Ali di lokasi, Jumat (19/9/2014).

Menurut Ali, para penunggu berada di sekeliling mercusuar, seperti di depan atau dibelakang pintu masuk yang mengarah ke pantai, serta di depan pintu utama mercusuar, dan juga di dalam mercusuar, terutama saat menaiki anak tangga menuju puncak mercusuar.

“Waktu itu ada orang dari Jakarta kemari, dia penasaran pengen naik ke atas menjelang magrib,” kata Ali.

“Nah, waktu dia masuk ke dalam mercusuar katanya merinding dan sempat lihat ada sosok cewek di depan pintu belakang yang arah pantai. Dia bilang sih rambutnya pirang panjang dan mukanya mirip orang Belanda gitu,” jelas Ali melanjutkan ceritanya.

Namun, lanjut Ali, orang tersebut langsung lari dan urung menaiki mercusuar tersebut. “Pas sampai masjid, dia ketemu sama saya, saya bilang kenapa mas kok lari-larian? ‘Habis lihat setan pas dekat mercusuar!’,” pungkas Ali menirukan kata-kata orang itu yang nafasnya masih tersengal-sengal.

Anda mau mencoba bertemu dengan hantu bule itu? Silahkan mengunjungi pulau yang menurut pengunjung alamnya ‘masih perawan’ nan elok dan rupawan ini, pulau terpencil “Penjaga Utara”. Pulau Sabira, pulau paling luar dibagian utara dari Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

(olah artikel: IndoCropCircles / sumber: Fitriandi Al Fajri, tribunnews / Dharmawan Sutanto, merdeka / maryono, travel.detik.com/ aryeenmita.wordpress/ berbagai sumber)

pulau sabira sebira Jakarta-foto-udara

P Sabira thousand Islands Pulau Seribu Jakarta satelite map 4

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 25, 2017 in Informasi

 

Daftar sekolah di jakarta peraih penghargaan nilai unbk tahun 2017


https://news.detik.com/berita/d-3596710/ini-daftar-sekolah-di-jakarta-peraih-penghargaan-nilai-unbk-terbaik?_ga=2.3981104.1450657661.1502458450-2012420111.1495991096

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 13, 2017 in Informasi

 

UNBK SMP di Kepulauan Seribu Dihadiri 100 Persen Peserta


Reporter : Suparni | Editor : Andry | Selasa, 02 Mei 2017 12:42 WIB | Dibaca 232 kali

Seluruh Peserta UNBK Tingkat SMP Sub Rayon 17 Hadir
(Foto : Suparni / Beritajakarta.id)
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Sub Rayon 17 Kepulauan Seribu dihadiri 100 persen peserta dari delapan sekolah.

” 445 peserta UNBK hadir semuanya hari ini. Bahkan yang dari luar Pulau Pramuka sudah hadir sejak kemarin”

“445 peserta UNBK hadir semuanya hari ini. Bahkan yang dari luar Pulau Pramuka sudah hadir sejak kemarin,” ujar Jarwoto, Kepala Sub Rayon 17 Kepulauan Seribu yang juga menjabat Kepala SMPN 133 Pulau Pramuka, Selasa (2/5).

Ia menyebutkan, 445 peserta UNBK yang hadir di hari pertama ujian ini terdiri dari 71 siswa SMPN 133 Pulau Pramuka, 16 siswa SMPN Satu Atap Pulau Pari dan 13 siswa SMPN Satu Atap Pulau Sebira, 64 siswa SMPN 241 Pulau Tidung, 112 siswa SMPN 260, 37 siswa SMPN 285 dan 35 siswa SMPN 288 Pulau Untung Jawa dan 97 siswa MTSN 26 Pulau Tidung.

“Ujian kita bagi tiga sesi. Sesi pertama diikuti 172 siswa. Sisanya dibagi di sesi kedua dan ketiga siang nanti dengan ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Jarwoto, dalam UNBK hari ini, peserta ujian dari SMPN 133, SMPN Satu Atap Pulau Pari dan SMPN Satu Atap Pulau Sebira terpaksa menumpang di gedung di SMAN 69 Pulau Pramuka karena bangunan sekolah mereka tengah direnovasi.

“Dari SMPN 133 Pulau Pramuka ada 71 siswa yang menumpang di SMAN 69. Sisanya 16 siswa dari SMPN Satu Atap Pulau Pari dan 13 siswa dari SMPN Satu Atap Pulau Sebira,” tandasnya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2017 in Informasi

 

LKS SMK 2017 Standar Penilaian Dinaikkan, Pemenang Wakili RI ke Rusia


LKS SMK 2017 diikuti seribuan lebih siswa SMK se-Indonesia.

Solopos.com, SOLO — Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhamad, mengakui passing grade atau standar penilaian dalam Lomba Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (LKS SMK) tahun ini ada kenaikan.

Hal itu karena saat ini standar mengarah pada standar penilaian kompetisi serupa di tingkat internasional.

“Tentunya kami berharap kualitas LKS SMK ini semakin bagus, sehingga kualitas siswa maupun lulusan SMK juga semakin bagus. Kalau perlu ke depan setiap daerah di Indonesia bisa mengirimkan perwakilannya maju ke tingkat nasional bahkan internasional,” ungkap Hamid, Selasa (16/5/2017).

Hamid yang ditemui seusai mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, membuka seminar internasional tema Establish the Standard Quality of Vocational School Graduate to Face the ASEAN Qualification Skill Competencies di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS Solo menambahkan standar penilaian LKS SMK saat ini mengikuti standar world skill.

“Karena kita akan masuk ke sana. Kalau kita gunakan standar yang biasa-biasa saja ya pasti banyak yang masuk sebagai juara. Tapi begitu ada seleksi di tingkat internasional, mereka tidak akan bisa masuk, sehingga kami memang menggunakan standar lebih tinggi,” terangnya.

Hamid mengajak agar siswa yang mengikuti LKS menunjukkan kemampuan terbaik pada kompetensi keahliannya, karena pemenang di ajang ini akan menjadi wakil Indonesia di kancah internasional. “Pemenang LKS akan menjadi wakil Indonesia di ajang World Skill Competition, di Rusia, tahun ini,” kata dia.

Peserta menyelesaikan pembuatan rak koran saat mengikuti lomba bidang Woodcraft pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK XXV Tingkat Nasional di lapangan parkir Stadion Manahan, Solo, Selasa (16/5/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Peserta menyelesaikan pembuatan rak koran saat mengikuti lomba bidang Woodcraft pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK XXV Tingkat Nasional di lapangan parkir Stadion Manahan, Solo, Selasa (16/5/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)

Dalam seminar internasional yang merupakan rangkaian LKS SMK XXV 2017 Tingkat Nasional itu, Mendikbud menyampaikan, salah satu dari tiga program prioritas pemerintah saat ini di bidang pendidikan adalah revitalisasi pendidikan vokasi.

Salah satu caranya, kata dia, dengan mengharmonisasikan siswa SMK dan lulusannya dengan dunia usaha dan dunia industri baik dalam pembelajaran maupun perolehan lapangan pekerjaan.

“Saya melihat acara seminar ini adalah ajang berbagi pengalaman dan praktik baik bagi setiap orang untuk membangun kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi,” ujar Muhadjir saat memberikan sambutan.

Tujuan lain diadakan seminar ini untuk mengindentifikasi strategi pengembangan lulusan SMK dan kualitas SMK di masing-masing regional terutama hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri. Serta mengembangkan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan SMK.

Seminar yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud, mulai Selasa hingga Kamis (18/5/2017) itu menghadirkan 17 pembicara dari mancanegara dan nusantara.

Beberapa pembicara yang didatangkan dari luar negeri diantaranya adalah Catherine Moliac (Inspektur Pendidikan Nasional Prancis), John May (Sekretaris Jenderal The Duke of Edinburgh’s Award International Foundation), Volker Schimd (Kepala Penjualan se-Asia Pasifik PT Festo, Jerman), dan lainnya.

Pembicara yang berasal dari tanah air di antaranya Gatot Hari Priowirjanto selaku Direktur Sekretariat SEAMEO, dan Ananto Kusuma Seta yang menjabat sebagai Staf Ahli Mendikbud Bidang Inovasi dan Daya Saing.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2017 in Informasi

 

Pemenang LKS 25 Tahun 2017


https://pesertadidik.ditpsmk.net/artikel/121/daftar-pemenang-lks-25-tahun-2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 29, 2017 in Informasi

 

1.153 Siswa Ikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK 2016 di Malang 24 Mei 2016


LKS SMK

Malang, Kemendikbud — Sebanyak 1.153 siswa berprestasi yang berasal dari berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia hadir di pembukaan Lomba Kompetensi Siswa SMK (LKS SMK) 2016 di Universitas Negeri Malang (23/5/2016). Mereka merupakan peserta LKS SMK 2016 yang pada tahun ini diadakan di Malang, Jawa Timur pada tanggal 23 s.d 28 Mei 2016.

Dalam acara pembukaan LKS 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan kepada para peserta bahwa mereka adalah generasi awal Indonesia yang bisa menjawab pertanyaan tentang apa yang akan muncul dan terjadi di masa depan. “Karena Anda dari awal dididik dan dilatih untuk berkarya, untuk memiliki karya, memiliki kompetensi menghasilkan sesuatu. Anda InsyaAllah akan menjadi benar-benar pionir Indonesia,” katanya.

Mendikbud juga berpesan kepada peserta agar berkompetisi secara sportif dan kepada dewan juri agar menjaga Integeritas, kejujuran, dan proses meritokrasi. “Ingat! Tidak ada musuh. Yang ada adalah lawan. Musuh hadir saling meniadakan. Lawan hadir saling menguatkan,” ujarnya.

Selain itu, tak lupa Mendikbud menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada Walikota Malang dan warga Malang atas partisipasi mereka menjadi pionir dalam program “Keluarga Sebangsa”. Keluarga Sebangsa adalah istilah di mana siswa peserta LKS dan pameran tinggal di rumah warga bersama dengan guru pengampunya.

Kemudian dengan didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur, Anggota Komisi X DPR RI, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Walikota Malang, Walikota Batu, Rektor Universitas Negeri Malang, Dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, dan Kepala BNSP, Menteri Anies membuka secara resmi LKS SMK 2016 dengan pemukulan Gong Virtual yg dibuat oleh siswa-siswi SMK.

Pelaksanaan LKS ke-24 ini merupakan hasil kerja sama Kemendikbud dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, serta 83 SMK se-Malang Raya sebagai penanggung jawab penyediaan bahan dan alat lomba sesuai dengan bidang lomba yang dipertandingkan.

“Pada penyelenggaraan tahun ini alumni dari WSC tahun 2011 di London, UK, dan alumni WSC tahun 2013 di Leipzig, Jerman serta Alumni WSC tahun 2015 di Sao Paulo, Brazil akan menjadi relawan untuk show skills, serta pendamping para tamu meninjau lokasi lomba dan pameran,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad saat memberikan laporan.

Dalam LKS SMK 2016 akan ada 54 bidang yang dilombakan, yang terbagi atas enam kelompok, yaitu teknologi, bisnis dan pariwisata, pertanian, kriya, seni, serta eksibisi. Sebagian besar lomba diadakan secara terpusat di Universitas Negeri Malang. (Desliana Maulipaksi-AS)

Sumber :

http://platform.twitter.com/widgets/tweet_button.c5094533286f08172435cb9c1efe2915.en.html#dnt=false&id=twitter-widget-0&lang=en&original_referer=http%3A%2F%2Fwww.kemdikbud.go.id%2Fmain%2Fblog%2F2016%2F05%2F1153-siswa-ikuti-lomba-kompetensi-siswa-lks-smk-2016-di-malang&size=m&text=Sebanyak%201.153%20siswa%20berprestasi%20yang%20berasal%20dari%20berbagai%20Sekolah%20Menengah%20Kejuruan%20(SMK)%20di%20Indonesia%20hadir%20di%20pembukaan%20Lomba%20Kompetensi%20Siswa%20SMK%20(LKS%20SMK)%202016%20di%20Universitas%20Negeri%20Malang%20(23%2F5%2F2016).%20Mereka%20merupakan%20peserta%20LKS%20SMK%202016%20yang%20pada%20tahun%20ini%20diadakan%20di%20Malang%2C%20Jawa%20Timur%20pada%20tanggal%2023%20s.d%2028%20Mei%202016.&time=1465318280966&type=share&url=http%3A%2F%2Fwww.kemdikbud.go.id%2Fmain%2Fblog%2F2016%2F05%2F1153-siswa-ikuti-lomba-kompetensi-siswa-lks-smk-2016-di-malang
Penulis : Aji Shahwin
Editor : Anandes Langguana

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 8, 2016 in Informasi

 

Rekapitulasi Hasil LKS XXIV Tahun 2016 di Malang


Senin, 30 Mei 2016 00.43 oleh Yuli Setiawan

Lampiran rekap perolehan medali di LKS XXIV Tahun 2016 di Malang, dapat diunduh di tautan ini: http://psmk.kemdikbud.go.id/uploads/documents/rekap_medali_lks_xxiv_2016.pdf

Anda dapat melihat perolehan medali per bidang lomba di laman ini: http://psmk.kemdikbud.go.id/LKS_2016

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 8, 2016 in Informasi