RSS

DKI Jakarta Kembali Raih Juara Umum LKS SMK 2015


Tanggal:
Sun, 06/14/2015 – 10:34
Intro:

Kontingen asal DKI Jakarta kembali meraih gelar juara umum dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat nasional 2015. Keberhasilan ini membuat provinsi tersebut secara hattrick merebut gelar juara umum berturut-turut selama tiga tahun terakhir: 2013, 2014, dan 2015.

Isi:
Tangerang, Kemendikbud — Kontingen asal DKI Jakarta kembali meraih gelar juara umum dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat nasional 2015. Keberhasilan ini membuat provinsi tersebut secara hattrick merebut gelar juara umum berturut-turut selama tiga tahun terakhir: 2013, 2014, dan 2015. Tahun ini DKI Jakarta berhasil membawa pulang piala juara 1 terbanyak di antara provinsi lainnya, yaitu 15 piala, sembilan piala juara 2, dan sembilan piala juara 3.
Di tempat kedua perolehan piala terbanyak diraih provinsi Jawa Tengah dengan 11 piala juara 1, delapan piala juara 2, dan delapan piala juara 3. Sementara di posisi ketiga ditempati oleh provinsi Jawa Timur dengan sembilan piala juara 1, sepuluh piala juara 2, dan enam piala juara 3. Pengumuman pemenang dan gelar juara umum itu dilakukan saat penutupan LKS SMK tingkat nasional XXIII dan Pameran Hasil Karya Siswa SMK 2015 di Gedung Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Banten, Sabtu (13/6) malam.
Bunyi sirene seketika membahana saat Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Achmad Jazidie menekan tombol tanda ditutupnya ajang kompetisi tahunan tersebut. Jazidie didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Staf Khusus Gubernur Banten bidang Kemasyarakatan dan SDM, serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
Direktur Pembinaan SMK, Ditjen Dikmen, Kemendikbud, Mustaghfirin Amin melaporkan, kegiatan yang dibuka sejak Selasa (9/6) dan berlangsung hingga Jumat (12/6) itu dapat berjalan dengan lancar. Tahun ini, lanjut Mustaghfirin, merupakan LKS dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu melibatkan lebih dari 2.000 orang, terdiri atas peserta lomba, juri, guru pendamping, dan model. “LKS SMK tahun ini juga istimewa karena hadir di antara para peserta, siswa SMK yang dipersiapkan untuk mengikuti World Skills Competition di Brazil tahun ini,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Mustaghfirin menyampaikan ucapan terima kasih apresiasi yang tinggi kepada dunia usaha dan industri yang telah memberikan kesempatan bagi para juara untuk menjadi karyawan. Ucapan yang sama juga ditujukan bagi sejumlah perguruan tinggi yang memberikan memberikan kesempatan bagi para juara 1 untuk mendaftar dan menjadi calon guru SMK.
Sementara itu Jazidie dalam sambutannya mengaku bangga atas prestasi yang diperoleh siswa-siswa terbaik SMK. Ia juga bangga karena seluruh 34 provinsi di Indonesia mengirimkan perwakilannya dalam setiap bidang lomba. “Untuk itu saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan sedalam-dalamnya kepada para guru pembimbing yang telah menpersiapkan siswanya untuk berkompetisi di LKS ini,” ucap Jazidie.
LKS SMK melombakan 52 bidang lomba yang terbagi dalam lima kelompok besar, yaitu teknologi; bisnis dan pariwisata; pertanian; seni; serta kriya. Sebagian besar lomba diselenggarakan di ICE Tangerang, Banten, sementara enam bidang lomba lainnya dilaksanakan di sejumlah sekolah. Selain juara 1, 2, 3, harapan 1, dan harapan 2, dalam kompetisi ini juga diberikan penghargaan Medal of Excellent bagi peserta LKS SMK yang nilainya memenuhi standar internasional. (Ratih Anbarini)
Foto:

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 26, 2015 in Informasi

 

DKI Juara Umum Lomb Kompetensi Siswa (LKS) Tahun 2015


TANGERANG – Kontingen asal DKI Jakarta kembali meraih gelar juara umum dalam lomba kompetensi siswa (LKS) SMK tingkat nasional 2015. Keberhasilan kali ini membuat tim dari Ibu Kota secara hattrick menyabet gelar juara umum berturut-turut selama tiga tahun terakhir yakni 2013, 2014, dan 2015.

Bahkan, tahun ini DKI Jakarta berhasil membawa pulang piala juara 1 terbanyak di antara provinsi lainnya, yaitu 15 piala, sembilan piala juara 2, dan sembilan piala juara 3.

Di tempat kedua perolehan piala terbanyak diraih provinsi Jawa Tengah dengan 11 piala juara 1, delapan piala juara 2, dan delapan piala juara 3. Sementara di posisi ketiga ditempati oleh provinsi Jawa Timur dengan sembilan piala juara 1, sepuluh piala juara 2, dan enam piala juara 3.

LKS SMK 2015 melombakan 52 bidang pertandingan yang terbagi dalam lima kelompok besar, yaitu teknologi; bisnis dan pariwisata; pertanian; seni; serta kriya. Pengumuman pemenang dan gelar juara umum itu dilakukan saat penutupan LKS SMK tingkat nasional XXIII dan pameran hasil karya siswa SMK 2015 di Gedung Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Banten, Sabtu 13 Juni 2015.

Direktur Pembinaan SMK Ditjen Dikmen Kemendikbud, Mustaghfirin Amin mengatakan, LKS tahun ini dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu melibatkan lebih dari sebanyk 2.000 orang, terdiri atas peserta lomba, juri, guru pendamping, dan model.

“LKS SMK tahun ini juga istimewa karena hadir di antara para peserta, siswa SMK yang dipersiapkan untuk mengikuti World Skills Competition di Brasil tahun ini,” tuturnya sebagaimana dilansir kemdiknas.go.id hari ini.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Achmad Jazidie mengaku bangga atas prestasi yang diperoleh siswa-siswa terbaik SMK. Ia juga bangga karena 34 provinsi di Indonesia mengirimkan perwakilannya dalam setiap bidang lomba.

“Untuk itu saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan sedalam-dalamnya kepada para guru pembimbing yang telah menpersiapkan siswanya untuk berkompetisi di LKS ini,” ucap Jazidie.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 26, 2015 in Informasi

 

Lomba Kompetensi Siswa (LKS) ke XXIII


http://www.ditpsmk.net/assets/berita/2015-06-03/informasi_seputar_lks.jpg

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 6, 2015 in Informasi

 

Inalillahi Wa Innailaihi Rajiun…


Inalillahi Wa Innailaihi Rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Pembantu Dekan FIP Universitas Negeri Jakarta Bapak Dr. Agus Sutiyono M.Si. Pada tanggal 22 Februari 2015 pukul 19.00 di RS Persahabatan Rawamangun. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2015 in Informasi

 

ASSESSMENT BERBASIS KELAS


Ringkasan Kuliah
Dosen : Bahrul Hayat, Phd
Burhanuddin Tola, MEd

Konsep Evaluasi : Proses secara sistematik penilaian suatu program, apakah berhasil
atau tidak
Objek Evaluasi : 1. Program : dilaksanakan Continue
2. Material : produk software pendidikan
3. Proyek : pelaksanaan ditentukan tenggat waktu

Pengembangan dari ilmu pengetahuan diperlukan Research
Tes jenisnya : a. Achievement Test ( tes harian )
b. Aptitude test ( potensi akademik )  Psycho test digunakan untuk
memprediksi keberhasilan siswa dalam mempelajari pokok bahasan
tertentu
Validitas : mengukur apa yang seharusnya di ukur , subjeknya : content , konstruksi tes, kriteria
Instrumen : harus di validitas dan apakah realibilitas ( r=0,8 baik sedangkan r=0,5 diragukan hasilnya
Faktor yang mempengaruhi Validitas Soal :
1. Petunjuk yang tidak jelas
2. kata dan kalimat sukar dimengerti
3. Ambigius ( double persepsi/makna)
4. Batas waktu yang tidak cukup
5. Tingkat kesukaran soal tidak tepat
6. Jelek konstruksi soalnya
7. Tidak tepat soal yang di ukur
8. Tes sangat pendek
9. Improper arragement of items
10. Identifiable pattern of answer

Ketika mengkonstruksi atau menyeleksi penilaian, terdapat 2 hal penting dalam validitas ;
1. Sejauh mana kita dapat menafsirkan skor yang tepat, berarti, bermanfaat dalam merespon hasilnya.
2. Apa konsekuensi penggunaan dan penafsiran yang dibuat dari hasil tersebut

Syarat-syarat tes yang baik ;
1. Mengukur satu dimensi
2. Realibilitasnya ( kehandalan tinggi )
3. Validitas memenuhi kriteria

Persyaratan instrumen penilaian ; validitas isi, konstruksi dan bahasa memenuhi syarat ;
1. Reliabilitas tinggi dan konsisten
2. Nilai komparasinya memenuhi syarat
3. Perwajahan (face) dokumen standar
4. Mampu memprediksi
5. Mudah penggunaannya.

Penilaian : merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pengukuran untuk menganilisis atau menjelaskan unjuk kerja atau prestasi siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang terkait.

Pengertian penilaian :
a. Penilaian (Assesment) yang merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar siswa, dan mengefektifkan penggunaan informasi tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan.
b. Penilaian (Evaluasi) yang berarti kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan suatu sistem pendidikan secara keseluruhan.

Penilaian kelas ( Classroom basic assesment /CBA ) terdiri dari ;
– Measurement ( manusia tumbuh harus di ukur )
– Assessment
– Evaluation
– Testing
– Appriatial

Portofolio – inti penilaian di resumenya
Filosofinya :
– Semua pancaindera anak didik menjadi dinamis
– Menumbuhkan motivasi siswa untuk berani bertanya/diskusi
– Mendidik disiplin waktu bagi siswa
– Meningkatkan ketrampilan berkomunikasi antara guru dan siswa
– Menumbuhkan motivasi anak didik untuk menulis
– Menumbuhkan rasa percaya diri bagi setiap anak didik
– Meningkatkan kemampuan beradaptasi siswa terhadap lingkungan

Portofolio : A portofolio is more than a folder of student work, it is a deliberate, specipic collection of accoplishment.
Situasi Kelas ; kemampuan menggerakan sikap siswa

PERBEDAAN PORTOFOLIO DAN TESTING
ASPEK PORTOFOLIO TESTING
• Rentang Kompetensi
• Jangka Waktu
• Suasana penilaian
• Menilai diri
• Siapa menilai
• Fokus penilaian
• Kaitan KBM
• Bukti produk
• Pembuatan
• Peluang
• Pendekatan penilaian -Lebih luas
-Panjang
-Alami dan Wajar
-Tinggi
– Guru,Siswa dan Ortu
– Hasil dan perbaikan diagnostik
– Erat, satu kesatuan
– Jelas, otentik
-Lama
-Siswa ikut
-Kriteria
>Terbatas
>Singkat
>di ruang tertentu

>Skor

>Terbatas
>Siswa tidak ikut
>Norma/kriteria

Herman Aschbacher & Winter ( 1992 )
• Teori behavior ke teori kognitif ( proses hasil , Learning to learn skill )
• Paper pencil test to performance assessment ( ketrampilan komplek, aktual & kontekstual )
• Single occesion assessment to sample

Apakah penilaian berbasis kelas (PBK) itu ?
• Bagaimana siswa memperoleh hasil belajar lebih tinggi
• Bagaiaman guru mengajar lebih efektif

Tujuan penilaian di kelas ;
• Keeping track ( penelusuran )
• Checking up ( cek kelemahan )
• Finding out ( cari dan temukan penyebab )
• Summing up ( penyimpulan )

Kaitan penilaian kelas dan proses belajar mengajar (PBM) ;
Analisis &  Rencana  Proses  Penilaian kelas
Umpan balik Mengajar Belajar mengajar

Jenis skala sikap :
1. Skala Likert
2. Skala Thurstone untuk mengetahui sikap terhadap sesuatu hal,
3. Skala perbedaan semantik baik berupa mata pelajaran maupun kegiatan
4. Skala Bogardus – sikap sosial
5. Skala Chapin – keterlibatan siswa dalam organisasi

Kompetensi dasar : pernyataan minimal/memadai tentang pengetahuan ,ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek/sub aspek mata pelajaran.
Kestabilan/keajekan skor :
• Internal – homogen butir soal, indeks dapat di ukur ( Chronbach, KR 20/21)
• Eksternal – Skor dengan kelompok lain relatif sama hasilnya, tes berulang-ulang ( indeks korelasi = ajek )

Preparing a test in classroom
1. Writing the question
2. Preparing items
3. Preparing a marking guide
4. Proof reading & review
5. Administering the test
6. Marking the test
7. Doing decission

Validitas dan Reliabilitas :
• Validitas – Mengukur apa yang sebanarnya di ukur ( validitas isi, validitas konstruk, validitas empirik ( internal dan eksternal )
• Reliabilitas – hasil pengukuran dapat dipercaya (konsisten )
a. Test – Retest
b. Alternative forms
c. Alternative forms (no time interval)
d. Split halves
e. KR 20/21
f. Score reliability

Ketika mengkonstruksi/menyeleksi penilaian, terdapat 2 hal penting dalam validitas ;
1. Sejauhmana kita dapat menafsirkan skor yang tepat, berarti, bermanfaat dalam menerapkan hasilnya ?
2. Apa konsekwensi penggunaan dan penafsiran yang dibuat hasil tersebut ?

Fungsi penilaian kelas : penilaian kelas yang di susun secara terencana dan sistematis oleh guru memiliki ;
• fungsi motivasi
• Fungsi belajar tuntas
• Fungsi sebagai indikator efektifitas pengajaran
• Fungsi umpan balik

Prinsif pengolahan penilaian kelas ;
• Mengacu kemampuan ( competency referenced )
• Berkelanjutan ( Continues )
• Didaktis
• Menggali informasi
• Melihat yang benar dan yang salah

Penilaian otentik ( Authentic Assessment )
• Matriks kompetensi belajar ( learning competency matrix ) atau pengalaman belajar
• Penilaian otektik berkelanjutan ( continues authentic assessment) atau penguasaan kompetensi

Karakteristik penilaian kelas ;
• Learned center  berpusat pada guru dan siswa
• Arahan guru  Wise & efektif dalam profesionalisme ( informasi penilaian)
• Menguntungkan siswa  partisipasi siswa ( skill )
• Formatif  perbaikan kualitas belajar
• Spesifik konteks  kebutuhan & karakteristik guru dan siswa
• On going  process ( feed back loop )
• Reated in good teaching practice  arah pembelajaran yang ideal

Untuk peningkatan Output/Outcome  ditekankan kepada pengembangan sistem penilaian / evaluasi, serta perlu dikembangkan instrumen penilaian.

Penentuan kriteria assessment : – domain , kompetensi dan skill ( angka yg di inginkan )
Norma penilaian ; idealnya digunakan kriteria, yg digunakan populasi

Kesalahan pen skoran penilaian ketrampilan ;
1. Masalah instrumen : – pedoman penskoran, sukar diamati (unobservable)
2. Masalah prosedural : – komponen terlalu banyak, pembandingan skor
3. Masalah penskor(rater) : – personal bias, cenderung nilai tinggi (generosity error),cenderung nilai rendah(severity error), Simpati pada peserta (halo effect/kurang objektif)

Prosedur tes praktik ;
1. Persiapan : alat/bahan, prosedur kerja, alat dan teknik menilai (pedoman)
2. Pelaksanaan : konstruksi alat/bahan, pelaksanaan kerja, perbaikan hasil
3. Hasil : laporan hasil, penafsiran hasil, penilaian hasil, ujian.

Reliabilitas :
1. Ketepatan suatu tes dalam pengukuran
2. Kestabilan skor yang diperoleh orang yang sama ketika di uji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda
Cara menguji Reliabilitas ;
1. Metoda bentuk pararel ( Equivalent )
2. Tes ulang ( Test – Retest )
3. Metode belah dua

Tugas Kuliah :

Penilaian portofolio - dokumen folder berisi :
1. Ringkasan folder ( fortofolio ) 30
2. Daftar Isi 5
3. Langkah/jadwal kegiatan 5
4. Kumpulan informasi/data/artikel,
bacaan, foto/grafik, hasil wawancara
(diskusi, dll ) 20
5.Ringkasan masing-masing informasi data 20
6.Refensi 5
7.Presentasi 10
8.Pertunjukan 5

Prinsip penilaian berbasis kelas ;
1. Valid – mengukur apa yang seharusnya di ukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya, tepat atau sahih.
2. Mendidik – memotivasi siswa untuk berhasil
3. Berorientasi pada kompetensi – pencapaian kompetensi sesuai kurikulum
4. Adil dan objektif – mempunyai kriteria yang jelas daam membuat keputusan dalam menerapkan angka dan nilai
5. Terbuka – kriteria penilaian difahami oleh berbagai kalangan
6. Berkesinambungan – dilakukan secara berencana, bertahap, teratur, terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa.
7. Menyeluruh = mencangkup aspek kognitif, psikomotorik dan afektif serta berdasarkan pada berbagai teknik dan prosedur penilaian.
8. Bermakna – mudah difahami dan bisa ditindak lanjuti oleh fihak-fihak yang berkepentingan.

Catatan : harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukan apa yang mereka ketahui dan fahami, serta mendemontrasikan kemampuannya.

Hal terpenting dalam melakukan validitas ;
1. Ketepatan dalam menafsirkan hasil
2. Tingkat validitas
3. Selalu khusus dalam penggunaan atau penafsiran
4. “Unitary Concept” ( standart for educational & psychological testing)
5. Melibatkan “ Overall evaluative judgement”

Arti reliabilitas dalam penerapan testing dan assessment ;
1. Reliabilitas berhubungan penilaian instrumen berdasarkan hasil yang diperoleh
2. Estimasi reliabilitas selalu berhubungan dengan konsistensis
3. Realibilitas adalah perlu tetapi tidak cukup tanpa validitas
4. Reliabilitas didasarkan pada statistik

Kriteria Penilaian ketrampilan ( Assessment of practical skills );
1. Generalibility – tugas cukup memadai
2. Authenticity – tugas yang dihadapi sesuai dengan kehidupan sehari-hari
3. Multiplefacy – tugas mengukur lebih dari satu kemampuan
4. Teachability – tugas siswa relevan yang di ajarkan guru
5. Feasibility – tugas relevan untuk dilaksanakan
6. Scorability – tugas dapat di skor dengan akurat dan reliable

Langkah-langkah penulisan skor ketrampilan ;
1. Rumuskan soal dengan kalimat yang baik, tegas dan dengan batasan materi (ruang lingkup) yang jelas
2. Rumuskan soal yang mengacu pada indikator di kisi-kisi
3. Rumuskan soal dengan kalimat perintah, seperti ; Lakukan pemasangan….,bawakan pidato dengan thema……., peragakan puisi….., ceritakan kembali…………., operasikan kembali……….mainkan suling……)
4. Periksa kembali keterbacaan soal, apakah sudah jelas redaksinya dan tidak menimbulkan makna yang berbeda pada pembaca yang berbeda.

Pengembangan Instrumen ;
1. Tujuan test
2. Analisis kurikulum
3. Kisi-kisi tes
4. Spesifikasi soal
5. Penulisan soal
6. Revisi/telaah
7. Perakitan soal
8. Reproduksi test
9. Uji coba soal
10. Analisis soal
11. Seleksi dan perbaikan soal
12. Perakitan soal

Jenis sikap yang dinilai guru di kelas ;
1. Sikap terhadap mata pelajaran
2. Sikap positif terhadap kegiatan belajar
3. Sikap positif terhadap diri sendiri
4. Sikap rasa percaya
5. Sikap terhadap orang yang berbeda dengan kita

Langkah & Kriteria penyusunan skala sikap ;
1. Tentukan sikap yang di ukur
2. Rumuskan pernyataan lebih dan kurangnya
3. Tanggapan dari beberapa orang
4. Tentukan jumlah dan rumusan pilihan jawabannya
5. Tentukan cara penskoran

Penilaian sikap, menurut ;
1. Anastasi ( 1982 ), sikap sebagai kecendrungan untuk bertindak secara suka/tidak suka terhadap objek
2. Birrent (1981), sikap sebagai kumpulan evaluasi seseorang terhadap objek, orang, atau masalah tertentu, bagaimana kepribadian di ekspresikan
3. Chaiken & Stanger (1987), sikap adalah perpaduan antara afektif, kognitif dan psikomotorik
4. Fraenkel (1980), nilai dapat didefenisikan sebagai standar dari perbuatan, keindahan, atau harga yang di akui oleh seseorang
5. Coleman (1987), nilai adalah pertimbangan internal dan eksternal tentang sesuatu
6. Suprha (1987), nilai adalah kriteria untuk menentukan tingkat kebaikan, harga dan keindahan

Pengukuran sikap ;
1. Observasi prilaku
2. Pertanyaan langsung
3. Laporan pribadi
4. Penggunaan skala sikap

Pembentukan sikap ;
1. Mengamati dan meniru
2. Menerima penguatan
3. Menerima informasi verbal

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 27, 2014 in Materi Kuliah S2 MPEP

 

Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa…


Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa…
Monday, July 7, 2014

Memang sungguh dahsyat Pilpres 2014 ini. Selama sebulan ini, kita saksikan berbagai hal yang hanya terjadi kali ini. Pacar yang memutuskan pasangannya. Orangtua dan anak jadi cekcok. Sesama teman kantor bisa diem-dieman. Bahkan di FB, orang saling caci-maki, saling unfriend dan unfollow. Semua terjadi lantaran pilihan yang berbeda. Hal ini terjadi karena cinta yang begitu besar pada kandidat pilihan. Tapi, akankah pengkubuan dan sitegang ini berlanjut setelah hari pencoblosan tanggal 9 Juli? Siapkah kalah? Siapkah menang? Apakah kita sesiap pendukung tim di Piala Dunia yang begitu penuh kegembiraan di Brazil sana?

Dalam ajang Piala Dunia yang saat ini berlangsung, akan ada bunyi peluit panjang di pertandingan final yang menentukan siapa pemenangnya. Begitu pun setelah hari pencoblosan tanggal 9 Juli, kita akan tahu siapa yang akan menjadi pemimpin Indonesia untuk masa 5 tahun mendatang.

Berani bertanding, berarti siap menang dan siap kalah!

Dalam Piala Dunia akan ada juara dan akan ada yang kalah, tapi semua pihak akan tetap bergembira bersama merayakan indahnya sepak bola. Dalam Pilpres ini juga akan ada yang menang dan kalah, tapi kita akan merayakannya sebagai pesta demokrasi dimana prinsip hak ‘One man one vote’ dilaksanakan, Meski pertandingan selesai, sepak bola akan terus bergulir. Demikian pula, perjalanan kita sebagai bangsa justru baru dimulai saat Pilpres usai.

Pemilu Presiden, sejatinya adalah kontestasi demokrasi dimana sikap utama yang harus dipegang adalah; berani menang, berani juga kalah. Jika sikap ini dipegang oleh semua pihak (kandidat, timses dan pendukung/relawan), maka proses berdemokrasi akan terus bergulir. Kita bisa memiliki harapan bahwa di negeri ini hidup dan tumbuh sebuah demokrasi yang sehat dan cerdas.

Selama masa kampanye kita boleh saja mendukung kandidat pilihan secara maksimal dan habis-habisan. Tapi saat sudah terpilih pemenang Pilpres, maka sebagai rakyat kita harus mengalihkan energi dukungan ke sesuatu yang lebih besar; Indonesia. Kita boleh cinta pada kandidat pilihan, tapi Indonesia juga membutuhkan cinta kita lebih besar lagi.

Indonesia tercatat sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika. Kenyataan ini bukan semata karena fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke 4 di dunia (setelah India, Cina dan Amerika), tapi juga karena Indonesia telah menerapkan demokrasi dan beberapa Pemilu damai yang bahkan dijadikan contoh oleh beberapa negara di dunia.

Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa tanpa dukungan rakyat.

Setelah Pilpres ini, presiden dan wakil presiden manapun yang terpilih tentu tidak akan bisa berbuat banyak jika tidak ada rakyat yang mendukungnya. Rakyat dan presiden-wakil presiden terpilih harus secara bersama-sama akan melaksanakan dan menjaga jalannya roda pemerintahan. Banyak agenda dan masalah bangsa yang masih harus dibenahi bersama. Karena siapapun rakyat Indonesia, tentulah akan menyatakan perang pada kemiskinan, korupsi, pembodohan, perusakan hutan dan masalah-masalah lain bangsa ini.

Pilpres segera usai. Tapi pertandingan dalam membuat Indonesia lebih baik, justru baru dimulai. Kita akan bersama-sama berjuang sebagai; Suporter Indonesia.
Sekali lagi, Presiden dan wakil Presiden terpilih tidak bisa berbuat apa apa jika tidak di dukung rakyatnya. Dengan berbesar hati dan lapang dada, mari kita dukung siapapun presiden pilihan rakyat. Itulah demokrasi yang Sehat dan Cerdas.

Jika Anda setuju gagasan ini, silakan disebarluaskan.

*Gambar foto diambil dari: Tribunnews

– See more at: http://www.duniaprofesional.com/ceritamu/inspirasi-cerita/presiden-terpilih-tidak-bisa-berbuat-apa-apa/?utm_source=detik&utm_medium=banner%20center%201&utm_campaign=pemilu#sthash.ejtaqWJZ.dpuf

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 8, 2014 in Informasi

 

O2SN Jakarta tahun 2014


Posted: Jun 13, 2014 Category: Jakarta Kini

Provinsi DKI Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2014 yang pembukaannya akan diadakan pada tanggal 15 Juni 2014 di Sentul International Convention Center pukul 18:00 WIB. O2SN adalah suatu kegiatan yang bersifat kompetisi di bidang olahraga antara siswa dalam lingkup wilayah atau tingkat lomba tertentu.

Kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) merupakan kelanjutan dari kegiatan pertandingan yang sudah dikenal dan merupakan salah satu kegiatan yang sering dilaksanakan oleh sekolah. Kegiatan ini merupakan suatu wahana bagi siswa untuk mengimplementasikan hasil kegiatan pembelajaran dalam rangka meningkatkan kesehatan jasmani dan daya kreativitas

Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dibagi menjadi 3 bagian lomba yaitu:

1. Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diadakan tanggal 1 s.d 7 Juni 2014 di Jawa Tengah diikuti oleh peserta SD, SMP, PKLK Dikdas, SMA, PKLK Dikmen, SMK

2. Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang diadakan tanggal 15 s.d 21 Juni 2014 di DKI Jakarta diikuti oleh peserta SD, SMP, PKLK Dikdas, SMA, PKLK Dikmen, SMK

3. Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diadakan tanggal 4 s.d 9 Mei 2014 di Bali diikuti oleh peserta SD, tanggal 15 – 21 Mei 2014 di Sumatera Barat diikuti oleh peserta SMP, dan 1 s.7 September di Nusa Tenggara Barat diikuti oleh peserta PKLK Dikdas, SMA, PKLK Dikmen, SMK, Guru

Jenis-jenis cabang olahraga yang dilombakan pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yaitu:

1. Jenis Lomba Peserta SD : Atletik, Bulutangkis, Tenis Meja, Catur, Renang, Karate, Pencak Silat, Senam dan Voli Mini

2. Jenis Lomba Peserta SMP : Atletik, Renang, Bulutangkis, Bola Volley, Karate, Pencak Silat dan Catur

3. Jenis Lomba Peserta Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdas : Atletik, Catur SDLB/SMPLB (Putra/Putri Tuna Netra), Bulutangkis SDLB (Putra Tuna Rungu), Bocee SMPLB (Putra Tuna Grahita Sedang)

4. Jenis Lomba Peserta SMA : Atletik, Bulutangkis, Tenis Meja, Karate, Pencak Silat dan Catur

5. Jenis Lomba Peserta Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikmen : Atletik, Tenis Meja, Bulutangkis dan Catur

6. Jenis Lomba Peserta Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) SMK : Tenis Meja, Bulutangkis, Basket, Bola Volley, Catur, Futsal

Lomba ini diikuti oleh 8.321 partisipan dari seluruh Indonesia yang terdiri dari 5.101 atlet usia SD, SMP, dan SMA. Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) akan ditutup pada tanggal 20 Juni 2014 di Sentul International Convention Center.

Hasil yang diharapkan dari diadakannya Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yaitu adanya peningkatan kondisi kesehatan jasmani siswa di sekolah sehingga dapat menunjang peningkatan kualitas akademis, terpilihnya siswa terbaik dalam bidang olahraga, sebagai bibit unggul atlet pada tingkat wilayah tertentu dan terjalinnya kesatuan dan persatuan antara siswa seluruh Indonesia melalui O2SN.

Sumber : http://www.jakarta.go.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 19, 2014 in Informasi

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.