RSS

KEMAMPUAN BERNALAR, PERADABAN DAN KEDUDUKAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH TUHAN DI BUMI

14 Mei

Sungguh bahwa allah SWT menempatkan Manusia keseluruhan sebagai Bani
Adam dalam kedudukan yang mulia, “Walaqad karramna Bani Adam.”
(Q/17:70). Manusia diciptakan Allah SWT dengan identitas yang
berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat
yang satu dengan yang lainnya (Q/49:13). Tiap-tiap umat diberi
aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Tuhan mau,
seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan umat. Allah SWT
menciptakan perbedaan itu untuk memberikan peluang berkompetisi
secara sehat dalam menggapai kebajikan, “fastabiqul
khairat.”(Q/5:48). Oleh karena itu sebagaimana dikatakan oleh rasul
SAW, agar seluruh manusia itu menjadi saudara antara satu dengan
yang lainnya, “Wakunu ‘ibadallahi ikhwana.”(Hadist Bukhari).

PERUMUSAN
Untuk Pembahasan paper ini, mengacu dari ayat yang di paparkan pada pendahuluan, perlu penulis kemukakan permasalah sebagai berikut ;
1. Apakah manusia memang memiliki kemampuan bernalar ?
2. Apakah mungkin peradaban manusia mempengaruhi tingkat nalar manusia ?
3. Mengapa Allah SWT menjadikan manusia khalifah di muka bumi ?

PEMBAHASAN
Dalam bahasa arab, ada kalimat “ukhuwah.”(Persaudaraan), ada
kalimat “ikhwah”(saudara seketurunan) dan “ikhwan” (saudara bukan
seketurunan). Dalam quran kata “akhu”(saudara) digunakan untuk
menyebut saudara kandung atau seketurunan(Q/4:23), saudara sebangsa
(Q/7:65) saudara semasyarakat walau berselisih faham(Q/38:23) dan
saudara seiman(Q49:10). Quran bukan hanya menyebut persaudaraan
kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) tetapi bahkan menyebut binatang dan
burung sebagai umat seperti manusia (Q/6:38). sebagai saudara
semakhluk (ukhuwah makhluqiyah) Istilah “ukhuwah islamiyah.” bukan
bermakna persaudaraan antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan
yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat
islami. Oleh karena itu cakupannya “ukhuwah Islamiyyah”bukan hanya
menyangkut sesama orang Islam namun juga menyangkut dengan non
Muslim bahkan makhluk yang lainnya. Misalnya, seorang pemiliki kuda,
tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang melampaui batas
kewajaran. Ajaran ini termasuk ajaran ukhuwwah Islamiyyah. bagaimana
seorang muslim bergaul dengan kuda miliknya.
Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Quran dan
Hadist sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwah yaitu:

1. Khuwah ‘ubudiyyah: Persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah SWT.
2. Ukhuwah Insaniyyah atau basyariyyah: Persaudaraan karena sama-
sama manusia secara keseluruhan.
3. Ukhuwah wathaniyyah wa an nasab: Persaudaraan karena keterikatan
keturuanan dan kebangsaan.
4. Ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.
Bagaimana ukhuwah berlangsaung, tak lepas dari faktor penunjang.
Faktor penunjang signifikan membentuk persaudaraan adalah
persamaan. Semakin banyak persamaan, baik persamaan rasa maupun
persamaan cita-cita maka semakin kokoh ukhuwahnya. Ukhuwa biasanya
melahirkan aksi solidaritas. Contohnya diantara kelompok masyarakat
yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika semuanya
menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan perasaan, yakni sama-
sama merasa menderita. Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan
kesadaran untuk saling membantu.
Petunjuk Al-Quran Tentang Ukhuwah :

1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam melakukan kebajikan, meski mereka berbeda agama, ideologi, status: “fastaqul
khairat.”(Q/5:48). Jangan berfikir menjadi manusia dalam
kesaragaman, memaksa orang lain untuk berpendirian seperti kita.
Misalnya, Allah SWT menciptakan kita perbedaan sebagai rahmat, untuk
menguji mereka siapa diantara mereka yang memberikan kontribusi
terbesar dalam kebajikan
2. Memelihara amanah (tanggung jawab)sebagai khalifah Allah dimuka
bumi, dimana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan
keadilan (Q/38:26). Serta memelihara keseimbangan lingkungan alam
(Q/112:4).
3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain “lakum
dinukum wliyadin.” (Q/112:4). Tidak perlu bertengkar dengan asumsi
bahwa kebenaran akan terbuka nanti dihadapan Allah SWT(Q/42:15).
4. Meski berbeda ideologi dan pandangan tetapi harus berusaha
mencari titik temu, “kalimatin sawa” tidak bermusuhan seraya
mengakui eksistensi masing-masing(Q/3:64).
5. Tidak mengapa bekerjasama dengan pihak yang berbeda pendirian dalam
hal kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi,
berkeadilan, dan tidak saling menimbulkan kerugian.(Q/60:8) Dalam
hal kebutuhan pokok (mengatasi kelaparana, bencana alam, wabah
penyakit). Solidaritas sosial dilaksanakan tanpa memandang agama,
etnis dan identitas lainnya (Q/2:272).
6. Tidak memandang rendah kelompok lain, tidak pula meledek atau
membenci mereka (Q/49:11)
7. Jika ada perselisihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah
merujuk kepada petunjuk al-Quran dan Sunah Nabi SAW. (Q/4:59)
Al-Quran menyebut bahwa pada hakekatnya seorang mukin itu bersaudara
seperti saudara sekandung, “innamal mu’minuna ikhwah.” (Q/49/10).
Hadist nabi bahwa memisalkan hubungan antara mukmin itu bagaikan
hubungan anggota badan dalam satu tubuh dimana jika satu anggota
tubuh sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain juga merasa
sakit. Nabi juga mengingatkan bahwa hendaknya diantara sesama manusia tidak mengembangkan fikiran negatif (buruk sangka), tidak
mencari-cari kesalahan orang lain, tidak saling mendengki, tidak
saling membenci, tidak saling membelakangi tetapi kembangkanlah
persaudaraan (HR Abu Hurairah).
Meskipun demikian persaudaraan dan solidaritasnya harus berpijak
pada kebenaran, bukan mentang-mentang saudara lalu buta terhadap
masalah. al-Quran mengingatkan kepada orang mukmin agar tidak
tergoda untuk melakukan perbuatan melampaui batas ketika orang lain
melakukan hal yang sama kepada mereka. Sesama mukmin diperintahkan
bekerjasama dalam hal kebajikan dan taqwa serta dilarang bekerjasama
dalam membela perbuatan dosa dan permusuhan. “Ta’awanu ‘alal birri
wat taqwa wala ta’awanu ‘alal istmi wal ‘udwan.” (Q5:2)

Setiap orang itu -walaupun tidak disadarinya- pada hakikatnya adalah
pemimpin, terlepas dari besar kecilnya jumlah orang dalam kelompok yang
dipimpinnya. Meskipun hanya satu orang saja jumlah pengikutnya, dia
sudah dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin. Bahkan manusia seorang
diri pun harus memimpin dirinya sendiri untuk mengarahkan hidupnya.
Ketidak menyadari akan hal inilah yang merupakan salah satu sebab
mengapa sebagian orang tidak peduli untuk mengembangkan ilmu
kepemimpinannya, atau menjadikan dirinya enggan untuk menggali lebih
dalam lagi potensi kepemimpinan yang ada pada dirinya. Padahal semua
orang adalah pemimipin semua orang sama dimata Allah SWT. Allah SWT
berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 30 : ‘Dan tatkala Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat : ‘Aku hendak jadikan khalifah di muka
bumi…’ .
Sisi lain yang erat kaitannya dengan kepemimpinan ini -namun banyak
diabaikan sebagian orang- adalah ‘pengaruh’. Ketika orang lain
memberikan sebuah nasihat atau sebuah cerita, kita akan mengingatnya,
dan itu sesungguhnya adalah yang disebut sebagai pengaruh. Begitu juga
sebaliknya, anda pun memberi pengaruh kepada orang lain, melalui
perkataan atau perbuatan atau bahkan juga tindakan. Sesuatu yang
sekalipun itu merupakan hal kecil yang remeh dan sepele, jika
mempengaruhi anda, baik dalam sikap atau gaya hidup atau cara pandang
atau bahkan sampai mengubah jalan hidup anda, maka itulah yang disebut sebagai pengaruh.
Terlepas apakah diri anda mempunyai kedudukan resmi sebagai seorang
pemimpin formal atau tidak, perlu disadari bahwa setiap kata yang
terucap, setiap langkah dan sikap yang dibuat, akan menimbulkan pengaruh
kepada orang lain yang berada disekitar anda. Sekiranya anda menyadari
tentang semua hal tersebut diatas, maka segala perkataan atau perbuatan
yang anda buat itu akan menggerakkan segala potensi yang ada pada diri
anda, dan itu tanpa anda sadari akan menempatkan diri anda menjadi
seorang ‘pemimpin’ bagi lingkungan anda.
Namun bisa juga terjadi hal yang sebaliknya, justru lingkungan disekitar
diri anda yang akan membuat anda menjadi seorang ‘pengikut’. Disadari
ataupun tak disadari, orang yang tidak memiliki ‘prinsip’ akan sangat
mudah sekali terpengaruh, selanjutnya hampir dapat dipastikan akan
menjadi orang itu sebagai seorang ‘pengikut’ di lingkungannya. Anda akan
terus menjadi pengikut, tidak peduli apakah prinsip yang mempengaruhi
diri anda itu adalah prinsip yang benar atau yang salah.
Setiap hari disepanjang kehidupan anda, tak dapat dihindari, anda terus
berjalan ditengah padang rumput yang dipenuhi oleh ranjau-ranjau yang
berbahaya, yaitu ranjau-ranjau ‘pengaruh’ yang akan mempengaruhi pikiran
atau cara pandang atau bahkan jalan hidup anda. Tidak peduli pengaruh
itu berdasarkan suatu prinsip yang benar atau prinsip yang salah
-terlepas dari seberapun jumlah orang yang berhasil dipengaruhi oleh
tebaran ranjau-ranjau pengaruh itu- tetap saja seiring dengan
berjalannya waktu, pengaruh itu akan mampu menghimpun sejumlah pengikut.
Stalin atau Lenin atau Mao misalnya, terbukti berhasil menghimpun
ratusan juta pengikut.
Prinsip yang benar menurut kebenaran Allah SWT sajalah yang akan
menyelamatkan diri anda dari kenistaan dan kehancuran. Dan dengan
‘prinsip yang benar’ itulah yang akan menjadikan diri anda sebagai
seorang pemimpin yang ‘sejati’. Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Hendaklah
kamu berpegang kepada kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran itu
memimpin kepada kebaktian, dan kebaktian itu, membawa ke surga
(kebahagiaan); hendaklah tetap seseorang itu bersifat benar dan memilih
kebenaran hingga dia tertulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat
benar; hendaklah kamu jauhi kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan itu
memimpin pada kedurhakaan, dan kedurhakaan membawa ke neraka
(kehancuran); janganlah seseorang tetap berdusta dan memilih kedustaan
hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta’.
Disekitar kita, banyak sekali contoh-contoh tipe pemimpin dengan tipikal
dan gaya serta prinsipnya masing-masing, yang berbeda satu dengan yang
lainnya. Ada pemimpin yang sangat menonjol prestasi kerja dan
integritasnya, namun karena kaku dan kurang ramah maka ia sangat tidak
dicintai oleh lingkungannya. Sebaliknya ada juga pemimpin yang
sesungguhnya kurang menonjol prestasi kerja dan integritasnya, namun
karena pandai bergaul dan ramah tamah maka ia sangat dicintai oleh
lingkungannya.
Terkadang suatu pengaruh yang berasal dari rangkaian kata-kata yang
indah dan mempesona, semangat, kebesaran, kultus individu, bisa membius
kemudian akan membutakan hati nurani dan mata hati dari kebenaran. Dan manusia lainnya yang terpengaruh oleh prinsip yang terlihat indah namun
sesungguhnya salah itu pun dapat ikut pula terseret ke jurang
kehancuran.
Jika pengaruh itu telah melekat kuat mempengaruhinya sehingga
menciptakan suatu dogma keyakinan, maka bisajadi sampai ajal menjemput
tak akan pernah disadarinya bahwa prinsipnya yang terlihat indah dan
terasa benar itu sesungguhnya adalah suatu prinsip yang salah menurut
kebenaran Allah SWT. Allah SWT berfirman pada surat Al-Ahzab ayat 21 :
‘Sungguh, pada diri Rasulullah, kamu dapatkan suri tauladan yang indah
bagi orang yang mengharapkan (rahmat Allah) dan (keselamatan) hari
terakhir, serta banyak mengingat Allah’.
Keberhasilan seorang pemimpin kadangkala hanya dilihat sebatas dari
seberapa besar jumlah pengikut yang berhasil dihimpunnya dan seberapa
jauh tingkat pengaruhnya pada pengikutnya itu. Namun sebagian orang
melupakan faktor yang sesungguhnya ‘sangat penting’ untuk menilai
tingkat keberhasilan seorang pemimpin, yaitu seberapa lama ‘rentang
waktu’ pengaruhnya dan seberapa kuat ‘tingkat pengaruhnya’ dalam jangka
rentang waktu yang lama itu.
Terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu para pemimpin yang dianggap
populer dan berhasil serta dianggap sebagai pemimpin besar bahkan
dianggap lingkup pengaruhnya itu telah mendunia. Namun
sesungguh-sungguhnya, pengaruh kepemimpinannya itu sesungguhnya hanyalah
terhitung dalam rentang waktu yang relatif pendek saja. Setelah rentang
waktunya itu hanyalah tinggal sebagai sebuah kenangan dalam catatan yang
ditulis dalam buku sejarah saja dan boleh dikatakan pengaruhnya telah
hampir hilang tak berbekas.
Siapakah pemimpin yang sesungguhnya adalah pemimpin sejati dan yang
besar dan yang abadi itu ?. Para pemimpin yang benar-benar pemimpin
sejati dan yang merupakan pemimpin besar dan yang pemimpin abadi itu
hanyalah mereka yang diturunkan dan ditugaskan oleh Tuhan sebagai pemimpin umat manusia. Mereka itu adalah Nabi Muhammad SAW, Ibrahim as,
Isa as, Musa as, Daud as.
Mereka itulah para pemimpin besar yang sejati dan abadi. Sekalipun
beliau-beliau itu sudah tiada di dunia yang fana ini, namun pengaruhnya
sampai detik ini masih begitu kuat bahkan akan semakin menguat, tak akan
lekang oleh zaman sampai kiamat datang menjelang. Allah SWT berfirman
dalam surat Al-An’aam ayat 132 : ‘Dan masing-masing orang beroleh
derajat, sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tiada lalai
akan apa yang mereka lakukan’.
Tak dapat disangkal, pemimpin sejati yang paling terbesar diantara semua
yang terbesar itu adalah Nabi Muhammad SAW. Seorang penulis barat,
Michael Hart, penulis buku ‘Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam
Sejarah’ menilai bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah semata hanya pemimpin
agama saja tetapi juga pemimpin duniawi, pengaruh kepemimpinan
politiknya selalu berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu, suatu
kombinasi yang tak terbandingkan antara segi agama dan segi dunia
melekat pada pengaruh diri Nabi Muhammad SAW, dialah manusia yang paling
berpengaruh dalam sejarah manusia.
Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi anda tidak
bisa memimpin orang lain tanpa mencintai mereka. Seorang pemimpin tidak
bisa hanya menunjukkan prestasi kerjanya saja, namun juga harus mampu
berhubungan secara baik dengan orang lain, dan itu tak dapat
dilakukannya dengan baik jika hanya menerapkan cara dan teknik yang
sekarang ini banyak diajarkan.
Al An’aam – Ayat 6
6:6. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasiitu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu , dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka , kemudian . Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.
Al Jin – Ayat 6
72:6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-lakidi antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
Banyak lagi ayat-ayat yang menekankan dengan berulang kali , bahwa bumi telah dihidupkan kembali (berulang-kali) dari matinya . Dimana matinya itu di sebabkan karena tidak di berikannya air / hujan kepada para pendahulu generasi manusia anak-cucu Adam AS , yang baru berumur 7000 tahun.
Apapun yang dikatakan dalam kitab-kitab suci , ilmu pengetahuan ataupun teknologi dapat membuktikan bahwa ada sisa-sisa “manusia” yang telah berumur jutaan tahun . Bahkan teori Darwin-pun mengalami kesulitan dalam menghubungkan manusia purba dengan manusia masa kini (The missing-linktheorema).
KESIMPULAN
• Jelaslah disini bahwa Adam AS bukanlah merupakan hasil evolusi ataupun “keturunan monyet” , seperti dikatakan Darwin
• Tidak ada yang bertentangan antara ilmu pengetahuan dan concept ke-agama-an . Dan apa yang ditulis dalam kitab suci adalah sebenar-benarnya kenyataan dalam angka-angka yang akurat dan pasti.
• Pada saat manusia akan diciptakan Allah SWT untuk menjadi kalifah dibumi, bagaimana para Malaikat mungkin mengetahui bahwa manusia hanya akan membuat kerusakan diatas bumi . Sedangkan Malaikat hanya mengetahui apa-apa yang diberitahukan Allah SWT kepada mereka . Tentunya karena memang mereka pernah mengetahui adanya “manusia” dibumi sebelum Adam AS diciptakan .
• Oleh sebab itu Allah SWT selalu menyatakan bahwa : “Manusia (anak-cucuAdam AS ) diciptakan dalam kesempurnaan-nya” . Dalam Injil dikatakan bahwa “Man was created upon the image of God).. Serta banyak kalimat pada Taurat (Perjanjian Lama) yang membedakan antara “anak manusia” dan “anak Allah” , “adanya manusia-manusia yang besar pada saat itu” , bagaimana takutnya anak-anak Adam yang keluar dari surga dengan adanya ancaman / gangguan diluar.

REFERENSI : 1. http://www.islamonline.com
2. http://www. Republika.co.id

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2009 in Tak Berkategori

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: