RSS

Gaya Belajar, Prinsif pembelajaran Fisika (Oleh : Arief)

20 Apr

1.1. Belajar
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa. Berikut ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli pendidikan yang menjelaskan tentang pengertian belajar.
Mursell sebagaimana dikutip Aminudin Rasyad menyatakan “Learning is experience, exploration and discovery” ini dapat difahami bahwa belajar meliputi proses mengalami, menjelajahi, dan menemukan. Dengan demikian belajar adalah proses aktif (mengalami, menjelajahi dan menemukan) yang dilakukan oleh seorang manusia dalam rangka memahami apa yang dipelajari.
Wittig dalam Nashar mengatakan bahwa belajar adalah “…any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience”. Artinya, belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/ keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. Pendapat ini didukung oleh Chaplin masih dalam Nashar ia membatasi belajar dengan dua rumusan. Pertama, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Kedua, belajar adalah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.
Dari dua pendapat di atas yaitu dari Wittig dan Chaplin, dapat diartikan bahwa belajar dapat diperoleh melalui pengalaman individu yang menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap melalui latihan.
Definisi belajar diungkapkan lebih lengkap oleh Good dan Brophy menurut mereka dalam Ngalim , belajar adalah terminologi yang digunakan untuk menggambarkan proses untuk melakukan perubahan melalui pengalaman. Proses perubahan tersebut secara relatif untuk memperoleh perubahan permanen dalam pemahaman, sikap, pengetahuan, informasi, kemampuan, dan keterampilan melalui pengalaman.
Sejalan dengan pendapat Good dan Brophy menunjukkan bahwa belajar adalah suatu proses yang aktif yang harus dialami sendiri oleh yang mempelajari sesuatu hal untuk mendapatkan perubahan yang permanen dalam perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui pengalaman.
Margaret dalam Nashar berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses yang kompleks dan banyak segi-seginya yang dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yakni (1) belajar merupakan mekanisme yang menjadikan anggota masyarakat cakap/ pandai. Pentingnya belajar disini adalah menentukan semua keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperoleh seseorang, sehingga belajar disini adalah menghasilkan berbagai tingkah laku, (2) Kapabilitas yang diperoleh seseorang dari stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh yang belajar. Jadi secara formal, Belajar ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulus dari lingkungan menjadi beberapa tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk kapabilitas yang baru.
Lain halnya dengan Winkel yang berpendapat bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap.
Gagne dalam Winkel , mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam disposisi melalui usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan dalam waktu tertentu dan bukan karena proses pertumbuhan. Demikian juga dikemukakan oleh Greadler “belajar adalah proses yang dilakukan orang untuk memperoleh berbagai kemampuan, keterampilan dan sikap.” Hergenhahn dan Olson mengemukakan ada lima yang perlu diperhatikan dalam belajar, yaitu : (1) belajar menunjuk kepada suatu perubahan tingkah laku, (2) perubahan tingkah laku tersebut relatif permanen, (3) perubahan tingkah laku tidak terjadi dengan segera setelah mengikuti pengalaman belajar, (4) tingkah laku merupakan hasil dari pengalaman dan latihan (5) pengalaman dan latihan harus diberi penguatan.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar yang dikemukakan diatas, dapat dirangkum pengertian bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan manusia untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang menetap yang meliputi aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan pada dirinya. Perubahan ini terjadi melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik psikis maupun pisik seperti perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

1.2. Fisika
Fisika adalah salah satu mata pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Secara kualitatif maupun kuantitatif dengan meminjam metode matematika, serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri.
Fisika sebagai ilmu dasar dimanfaatkan untuk memahami ilmu lain seperti ilmu arsitektur atau kedokteran dan sebagai ilmu terapan yang menjadi landasan pengembangan teknologi. Sebagai komponen dalam kurikulum untuk mendidik siswa dalam mencapai kualitas tertentu, Muslim berpendapat bahwa :
“Pelajaran fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA) bermakna dalam membina segi intelektual, sikap, minat, keterampilan, dan kreativitas bagi siswa. Untuk membina segi intelektual, melalui observasi dan berfikir fisika yang taat asas dapat melatih siswa untuk berfikir kritis. Dengan pemahaman alam sekitar, menganalisis dan memecahkan persoalan terkait, serta memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan bekal untuk bekerja dan melanjutkan studi”.

Fisika oleh Piaget dalam Suparno dikelompokkan sebagai pengetahuan fisis. Pengetahuan fisis terjadi karena abstraksi terhadap alam dunia ini. Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar, kekasaran, berat, serta bagaimana objek-objek itu berinteraksi satu dengan yang lain. Siswa memperoleh pengetahuan fisis tentang suatu objek dengan mengerjakan atau bertindak terhadap objek itu melalui inderanya. Pengetahuan fisik ini didapat dari abstraksi langsung akan suatu objek.
Sumardi berpendapat bahwa fisika adalah ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai kejadian alam atau peristiwa-peristiwa yang menyebabkan sifat benda berubah sementara. Sehingga fisika juga dapat dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang menjelaskan dan menguraikan kejadian alam yang dapat di ibaratkan sebagai hubungan antara gambar dengan bendanya. Agar dapat menggambarkan alam secara tepat diperlukan pengamatan, pengukuran, atau percobaan yang sangat menentukan dan sering dijadikan kriteria untuk menentukan kebenaran suatu konsep.
Dalam belajar fisika banyak hal yang harus diperhatikan, karena fisika memiliki sifat yang khas yaitu kuantitatif, dapat dinyatakan dalam bentuk angka-angka, selain itu fisika sendiri juga terdiri dari : hukum-hukum, rumus-rumus, konsep-konsep dan penyataan yang telah diuji kebenarannya oleh para ahli. Sehingga untuk dapat belajar fisika dengan benar dan tidak terjadi miskonsepsi diperlukan suatu kemahiran intelektual dalam merangkaikan rumus-rumus, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan pernyataan yang telah di uji kebenarannya menjadi suatu bentuk hasil belajar fisika yang baik dan benar.
Belajar fisika memerlukan kemahiran intelektual untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Dalam belajar fisika, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah konsep, prinsip, dan hukum.
Konsep adalah dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi. Menurut Winkel dalam Sumardi , konsep dibedakan atas konsep konkrit dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkrit adalah pengertian menunjuk pada objek-objek dalam lingkungan fisik. Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas lingkungan fisik, karena realitas itu tidak berbadan.
Dari pemikiran diatas bahwa, konsep fisika dapat dibedakan menjadi konsep konkrit dan konsep yang dapat didefinisikan, sehingga konsep yang di maksud adalah suatu abstraksi yang mewakili sejumlah objek yang memiliki ciri-ciri yang sama pada berbagai kejadian atau peristiwa-peristiwa alam yang diperoleh dari penyelidikan yang dilakukan secara ilmiah dimana terdiri dari hal yang konkrit dan hal yang dapat didefinisikan. Contoh : konsep gerak lurus beraturan.
Menurut Winkel, prinsip terjadi dari kombinasi beberapa kaidah, sehingga terbentuk suatu kaidah bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks. Gagne dalam Winkel mengungkapkan bahwa prinsip merupakan kaidah bertaraf tinggi yang menggunakan istilah higher order rule. Prinsip dalam fisika tidak jauh berbeda dengan prinsip dalam sains secara umum, yaitu fisika dibangun dari konsep-konsep yang ada. Prinsip-prinsip dalam fisika di dasari oleh konsep-konsep fisika.
Sutarto mengemukakan, hukum dalam fisika dapat di golongkan menjadi tiga, yaitu :
(1) Hukum Fundamental, bersifat umum terdiri atas prinsip dan relasi-relasi yang tidak bergantung pada benda atau hal-hal yang khusus mempunyai sifat seperti : tidak ditentukan dari hukum lain karena sebagai titik awal hukum dari berbagai bidang fisika. Contoh : Hukum Gravitasi Newton, hukum tentang gerak, hukum aksi-reaksi dan lain-lain.
(2) Hukum terbatas, merupakan aturan yang ditentukan pada suatu eksperimen pada suatu eksperimen terbatas. Hukum-hukum semacam ini terbatas untuk rentang variabel tertentu. Contoh : hukum II Newton.
(3) Hukum turunan, merupakan relasi yang secara matematis diturunkan dari hukum-hukum fundamental maupun hukum-hukum terbatas. Sehingga hukum turunan dapat juga disebut rumus dalam konsep fisika.
Contoh : hukum percepatan gravitasi :

Yang diturunkan dari hukum II Newton, F = m a
dan hukum grafitasi Newton,

Dari uraian di atas dapat diartikan bahwa ilmu fisika adalah merupakan ilmu pengetahuan yang mencakup pada perangkat keilmuan, telaah keilmuan, perangkat pengamatan, dan perangkat analisis. Keempat perangkat tersebut bersinergi satu sama lain dalam membangun konsep, prinsip, teori, dan hukum fisika.
Mata pelajaran fisika di SMA dikembangkan dengan mengacu pada pengembangan fisika yang ditujukan untuk mendidik siswa agar mampu mengembangkan observasi dan eksperimentasi serta berfikir taat asas. Hal ini didasari oleh tujuan fisika, yakni mengamati, memahami, dan memanfaatkan gejala-gejala alam yang melibatkan zat (materi) dan energi. Kemampuan observasi dan eksperimentasi ini lebih ditekankan pada melatih kemampuan berfikir eksperimental yang mencakup tatalaksana percobaan dengan mengenal peralatan yang digunakan dalam pengukuran baik di dalam laboratorium maupun di alam sekitar kehidupan siswa.

1.3. Hasil Belajar Fisika
Pendidikan di Indonesia sekarang ini dilaksanakan dengan basis kompetensi. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang mencakup komponen pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, akhlak, ketakwaan, dan kewarganegaraaan.
Menurut Wilson dalam kurikulum 2004, paradigma pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, pedagogi, dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pedagogi yang mencakup strategi atau metode mengajar. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar yang dicapai peserta didik, yang mencakup ujian, tugas-tugas, dan pengamatan.
Bloom S Benjamin dalam Nashar , mendefinisikan bahwa hasil belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi 3 ranah, yaitu :
(1) Ranah Kognitif.
Ranah kognitif meliputi pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analisys), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).
Untuk tiga kemampuan pertama yaitu pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi dapat digolongkan sebagai kognitif rendah, sedangkan tiga kemampuan lain yakni kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi dapat digolongkan sebagai kemampuan kognitif tinggi.
(2) Ranah Afektif
Ranah afektif meliputi penerimaan (acceptance), perhatian (attention), penanggapan (conception), penyesuaian (adaption), penghargaan (appreciation), dan penyatuan (unification).
(3) Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotorik meliputi peniruan (imitation), penggunaan (employing), ketelitian (carefulness), koordinasi (coordination), dan naturalisasi (naturalization).

Menurut Crow, bahwa belajar dikatakan berhasil manakala seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, maka belajar seperti ini disebut role learning. Dan bila yang telah dipelajari itu mampu disampaikan dan diekspresikan dalam bahasa sendiri, maka disebut oral learning. Keberhasilan belajar seseorang akan tampak dalam perkembangan kecerdasan dasar, kompetensi sosial, dan penguasaan ide-ide abstrak. Bila sesorang dalam belajarnya menampakkan kecakapannya dan kemampuan keterampilan atau skill subjects-nya, maka orang tersebut dinamakan mechanical minded (jiwa mekanis, jiwa keterampilan). Bila mampu mengembangkan kemampuan pergaulan dengan orang lain dan berkomunikasi, maka disebut social minded atau mempunyai jiwa kemasyarakatan. Dan bila mempunyai kemampuan dengan mudah mengerjakan pekerjaan yang berkenaan dengan abstrak dan keterampilan berfikir, maka ia disebut memiliki abstract minded.
Pendapat lain tentang hasil belajar ini dikemukakan Howard Kingsley sebagaimana dikutip Nana Sudjana yang membagi tiga macam hasil belajar, yaitu : (1) Keterampilan dan Kebiasaan, (2) Pengetahuan dan Pengertian, (3) Sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.
Gagne, seperti yang dikutib oleh Trianto , bahwa hasil belajar yang dicapai meliputi lima kemampuan, yaitu:
(1) Kemampuan intelektual, kemampuan yang ditunjukkan oleh siswa tentang operasi-operasi intelektual yang dapat dilakukan, misalnya kemampuan mendiskriminasi, konsep kongkrit, dan konsep terdefinisi.
(2) Informasi ferbal (pengetahuan deklaratif), pengetahuan yang disajikan dalam bentuk gagasan dan bersifat statis, misalnya: fakta, kejadian pribadi, generalisasi.
(3) Sikap, merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda-benda, kejadian-kejadian atau makhluk hidup lainnya.
(4) Keterampilan motorik, Kemampuan yang meliputi kegiatan fisik, penggabungan motorik dengan keterampilan intelektual, misalnya menggunakan mikroskop.
(5) Strategi kognitif, merupakan suatu proses kontrol, yaitu suatu proses internal yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir.

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam menyerap pelajaran yang disajikan oleh guru, maka harus dilakukan pengukuran, dan alat ukur yang digunakan adalah instrumen tes atau tes hasil belajar. Dalam hal ini Amatembun, menyatakan bahwa:
Dengan mengetahui hasil belajar siswa seorang guru dapat mengetahui apakah pelajaran yang disampaikannya dapat diterima dengan baik oleh siswa atau sebaliknya. Dan merupakan suatu evaluasi bagi metode pengajaran yang dia terapkan. Hasil belajar dapat juga berupa nilai akhir dari seseorang yang diukur melalui teknik-teknik evaluasi dan dapat digunakan sebagai petunjuk seberapa jauh materi pelajaran telah dikuasai siswa.

Adapun penilaian hasil belajar memiliki karakteristik sebagai berikut :
(1). Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
(2). Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
(3). Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.
(4). Berkesinambungan
(5). Terintergrasi, dan
(6). Dapat digunakan sebagai feed back

Hasil belajar sangat berguna baik bagi siswa maupun bagi guru pengelola pendidikan. Hasil belajar dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara : 1) Menjelaskan hasil belajar yang dimaksud ; 2) Melengkapi tujuan pendek untuk waktu yang akan datang ; 3) Memberikan umpan balik terhadap kemajuan belajar ; 4) Memberikan informasi tentang kesulitan belajar, sehingga dapat dipergunakan untuk memilih pengalaman belajar yang akan datang.
Berdasarkan uraian di atas hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku dan daya serap siswa pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mendapatkan perlakuan dalam pembelajaran oleh guru melalui pemberian tugas dan pengamatan.
Dalam penelitian ini, yang di maksud dengan hasil belajar fisika adalah skor yang diperoleh siswa Aliyah setelah mengikuti tes untuk satu pembahasan kompetensi dasar mengenai Mekanika Fluida.
Untuk pengukuran hasil belajar fisika peneliti membatasi pada daya serap siswa akan ranah kognitif yang mencakup pemahaman siswa terhadap suatu konsep, analisis dan hukum-hukum fisika.

2. Metode Pembelajaran
2.1. Metode inkuiri
Salah satu metode mengajar yang sangat konstruktivistik adalah metode inkuiri (penyelidikan). Dalam metode ini siswa dilibatkan untuk aktif berfikir dan menemukan pengertian yang ingin diketahuinya. Dalam metode pembelajaran ini siswa dilibatkan dalam proses penemuan melalui pengumpulan data dan tes hipotesis.
Menurut Trowbridge dan Bybee dalam Paul Suparno , secara umum inkuiri adalah proses di mana para saintis mempertanyaan alam dunia ini dan bagaimana mereka secara sistematis mencari jawabannya. Welch masih dalam paul S, mendefinisikan inkuiri sebagai proses di mana manusia mencari informasi atau pengertian, maka sering disebut a way of thought.
Kindsvatter, Wilen, & Ishler dalam Paul menjelaskan inkuiri sebagai model pengajaran di mana guru melibatkan kemampuan berfikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Yang utama dari metode inkuiri adalah pengguna pendekatan induktif dalam menemukan pengetahuan dan kelibatan keaktifan siswa. Jadi pembelajaran berpusat pada siswa, bukan pada guru.
Indrawati menyatakan, bahwa suatu pembelajaran Inkuiri pada umumnya akan lebih efektif bila di selenggarakan melalui model-model pemrosesan informasi. Hal ini dikarenakan model-model pemerosesan informasi menekankan pada bagaimana seseorang berfikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengelolah informasi.
Gulo dalam Paul menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, lolgis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional. Keterampilan inkuiri merupakan suatu proses yang bermula dengan perumusan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, analisis data dan pembuatan kesimpulan.
Dari beberapa pendapat yang menjelaskan tentang inkuri, maka dapat diartikan bahwa metode inquiri merupakan satu metode pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa dan menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan.
2.1.1. Konsep Dasar Inkuiri
Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Tujuan utama pembelajaran inkuiri adalah melatih siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berfikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
Ciri utama dalam pembelajaran inkuiri adalah :
(1) Menekankan aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan sebagai penemu sendiri inti dari materi pembelajaran itu sendiri.
(2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
(3). Bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara optimal; namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran.
2.1.2. Prinsip-prinsip Penggunaan Inkuiri.
Metode pembelajaran inkuiri menekankan kepada pengembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut Piget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu kematangan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), pengalaman sosial (sicial experience), dan penyeimbangan (equilibration).
Kematangan (maturation) adalah keadaan fisiologis dan anatomis siswa yang meliputi pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berfikir (intelektual) anak. Otak dapat dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan.
Pengalaman fisik (Physical Eexperience) adalah pengalaman individu anak dalam melakukan tindakan-tindakan fisik terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu ini memungkinkannya dapat mengembangkan aktivitas/ daya pikir. Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfer menjadi gagasan-gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman fisik.
Pengalaman sosial (social experience) adalah aktivitas individu anak dalam berhubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan, mendengarkan dan menyadari pandangan diri sendiri, tetapi juga aturan pandangan orang lain. Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman sosial akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa ini diperoleh memlalui percakapan, diskusi, dan argumentasi dengan orang lain. Aktivitas-aktivitas semacam itu paada gilirannya dapat memunculkan pengalaman-pengalaman mental yang memungkinkan atau memaksa otak individu untuk bekerja. Kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentric-nya. Sedikit demi sedikit akan muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Pengalaman semacam itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran etika, moral, dan lain sebaginya.
Pengembangan (equilibration) adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya. Adakalanya anak dituntut untuk memperbaharui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.

Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan metode pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru.
(1). Prinsip berorientasi pada Pengembangan Inteketual.
Tujuan utama dari metode inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian ,strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh siswa menguasai materi pelajaran, akan tetapi juga seberapa intensif siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oleh siswa melalui proses berfikir adalah sesuatu yang dapat ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti. Oleh sebab itu setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.
(2). Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan dan pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memamg bukan pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya berlangsung antar siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja namun pemahaman tentang substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang. Guru bahkan secara tidak sadar menanggalkan perannya sebagai pengatur interaksi itu sendiri.
(3). Prinsip Bertanya.
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berfikir. Oleh karena itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
(4). Prinsip Belajar Untuk Berfikir.
Belajar bukan hanya menghafal dan mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir, yakni proses mengaktifkan potensi, seluruh komponen otak, otak kiri maupun, otak kanan; otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berfikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berfikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukkan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
(5). Prinsip Keterbukaan.
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebabitu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan hipotesis dan membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya. Siswa harus terbuka untuk menemui kenyataan yang berbeda dan yang dihipotesiskan.
2.1.3. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri.
Secara umum proses pembelajaran inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
(1). Orientasi
Yaitu langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran dengan merangsang dan mengajak siswa untuk berfikir dalam memecahkan masalah.
(2). Merumuskan Masalah.
Yaitu langkah dalam membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang yang menantang siswa untuk berfikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Teka teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan
(3). Mengajukan Hipotesis.
Hipotesis adalah jawaban teoritis dan sementara atas suatu permasalahan yang akan dipecahkan. Hipotesis perlu diuji kebenarannya secara empiris. Kemampuan atau potensi individu untuk berfikir dan berhipotesis ini pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir.
Potensi berfikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) jawaban suatu masalah. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berfikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
(4). Mengumpulkan Data.
Yaitu aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Tugas guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan–pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berfikir mencari informasi yang dibutuhkan
(5). Menguji Hipotesis.
Langkah ini merupaka proses menguji apakah tebakan (hipotesis) diterima atau tidak sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh. Dalam menguji hipotesis siswa harus sampai pada tingkat keyakinan atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berfikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan.

(6). Merumuskan Kesimpulan.
Yaitu langkah dalam mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan akhir dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
2.1.4. Keunggulan dan Kelemahan Metode Inkuiri.
Keunggulan menggunakan metode inkuiri adalah :
(1). Inkuiri merupakan metode pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini lebih bermakna.
(2). Inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
(3). Inkuiri merupakan metode yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
(4). Inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

Kelemahan menggunakan metode inkuiri
(1). Metode ini guru menemukan kesulitan dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
(2). Dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu yang lama. Sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.

2.2. Konsep Pembelajaran Ekspositori
Metode pembelajaran ekspositori adalah metode pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy Killen (1998) menamakan metode espositori ini dengan istilah metode pembelajaran langsung. Karena dalam strategi ini materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan konsep materi itu.
Terdapat beberapa karakteristik metode ekspositori. Pertama, metode ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan metode ini, oleh karena itu sering orang mengidentikkannya dengan ceramah. Kedua, biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, dan konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berfikir ulang. Ketiga, tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir, siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar. Indikator bahwa siswa telah faham, mereka dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diajarkan.
Metode pembelajaran ekspositori merupakan salah satu bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru. Dikatakan demikian, karena dalam metode ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama metode ini adalah kemampuan akademik siswa.
2.2.1. Prinsip Pembelajaran Ekspositori
Dalam penggunaan metode pembelajaran ekspositori terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, yaitu :
(1). Berorientasi pada Tujuan.
Dalam metode ini sebelum pembelajaran dilaksanakan terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan terukur. Seperti kriteria pada umumnya, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diukur atau berorientasi pada kompetisi yang harus dicapai oleh siswa. Hal ini sangat penting untuk dipahami, karena tujuan yang spesifik memungkinkan kita bisa mengontrol efektifitas penggunaan metode pembelajaran.
(2). Prinsip Komunikasi.
Dalam proses komunikasi, selalu terjadi urutan pemindahan pesan dari sumber pesan kepenerima pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif manakala pesan itu dapat mudah ditangkap oleh penerima pesan secara utuh; dan sebaliknya, sistem komunikasi dikatan tidak efektif, manakala penerima pesan tidak dapat menangkap setiap pesan yang disampaikan. Kesulitan menangkap pesan itu dapat terjadi oleh berbagai gangguan yang dapat menghambat kelancaran proses komunikasi. Akibat gangguan tersebut memungkinkan penerima pesan (siswa) tidak memahami atau tidak dapat menerima sama sekali pesan yang disampaikan. Sebagai suatu metode pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi sebagaimana dipaparkan diatas perlu diperhatikan guru. Ia harus dapat menghilangkan setiap gangguan yang bisa mengganggu proses penyampaian dan penerimaan berupa konsep-konsep materi tertentu.
(3). Prinsip Kesiapan.
Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hukum belajar. Inti dari hukum belajar ini adalah bahwa setiap individu akan merespons dengan cepat dari setiap stimulus manakala dalam dirinya sudah memiliki kesiapan; sebaliknya, tidak mungkin setiap individu akan merespon setiap stimulus yang muncul manakala dalam dirinya belum memiliki kesiapan. Yang dapat di tarik dari hukum belajar ini adalah, siswa dapat menerima informasi sebagai stimulus yang di berikan, terlebih dahulu harus memposisikan mereka dalam keadaan siap baik secara pisik maupu psikis untuk menerima pelajaran.
(4). Prinsip Berkelanjutan.
Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya.
2.2.2. Langkah-langkah Pembelajaran Ekspositori.
Ada beberapa langkah dalam penerapan pembelajaran ekspositori, yaitu :
(1). Persiapan (preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam metode Ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan mengguna kan metode Ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah :
1. Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
2. Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
3. Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
4. Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka
(2). Penyajian (presentation)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini adalah :
1. Penggunaan bahasa.
2. Intonasi suara.
3. Menjaga kontak mata dengan siswa.
(3). Menghubungkan (correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkiinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah korelasi dilakukan untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berfikir dan kemampuan motorik siswa.
(4). Menyimpulkan (generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam metode Ekspositori, sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses penyajian. Menyimpulkan berarti memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan. Dengan demikian, siswa tidak merasa ragu lagi akan penjelasan guru.
(5). Mengaplikasikan (aplication)
Langkah aplikasi adalah langkah untuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran Ekspositori, sebab melalui langkah ini guru akan mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan diantararanya, pertama, dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan. Kedua, dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.

2.2.3. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Ekspositori
Pembelajaran ekspositori merupakan metode pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan metode ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
(1). Guru dapat mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
(2). Metode ini dianggap efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
(3). Metode ini dapat digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

Disamping memiliki keunggulan, pembelajaran ekspositori juga memiliki kelemahan, diantaranya :
(1). Pembelajaran ini hanya dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
(2). Metode ini tidak dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan kemampuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
(3). Karena metode ini lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
(4). Keberhasilan metode ini pembelajaran ini sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, motivasi dan berbagai kemampuan seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengelola kelas.
(5). Karena gaya komunikasi metode pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.

3. Gaya Belajar
Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan gaya belajar (Learning Style), terlebih dahulu akan di kemukakan beberapa pengertian gaya belajar.
Klausmeir menyatakan bahwa, “gaya belajar” atau kebiasaan belajar merupakan ciri atau style yang di miliki seseorang ketika perbuatan belajar berlangsung. Gaya belajar berhubungan dengan cara dan kondisi belajar yang diinginkan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi”.
Nasution menyatakan bahwa “gaya belajar” adalah cara yang konsisten yang dilakukan seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi yang diterimanya, dalam mengingat, dalam berfikir, dan dalam memecahkan soal pada proses pembelajaran. Gaya belajar merupakan kunci dalam kinerja seseorang pada pekerjaannya, di sekolah, ditempat situasi-situasi antar pribadi, karena dengan gaya belajar dapat menjadikan belajar dan berkomunikasi lebih mudah dengan gayanya masing-masing.
Zaini menyatakan bahwa “gaya belajar” merupakan karakteristik dan preferensi atau pilihan individu sebagai cara dalam mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespon dan memikirkan informasi yang diperoleh. Ada sebagian siswa yang senang belajar sendiri, sebagian yang lain belajar kelompok. Ada sebagian belajar dengan membaca, sebagian yang lain senang belajar dengan melakukan atau mengalami. Gaya belajar tidak ada yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya, masalahnya satu gaya belajar, mungkin cocok untuk suatu situasi atau materi tertentu, tetapi tidak cocok untuk situasi atau materi yang lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Nicholl dalam Depporter, bahwa belajar dengan cara yang berbeda-beda, dan semua cara sama baiknya. Setiap cara mempunyai kekuatan sendiri-sendiri, siswa dapat memiliki ketiga gaya belajar visual, audiotorial dan kinestetik, namun hanya satu gaya saja yang mendominasi dari gaya lainnya.
Smith dalam Bobbi mendefinisikan gaya belajar, sebagai cara khas seseorang memproses informasi, perasaan dan sikap dalam situasi belajar.
Menurut Nasution, gaya belajar dapat dibedakan kedalam tiga macam tipe, yaitu :
1. Impulsive – Reflective.
Ciri orang yang mempunyai gaya belajar impulsive adalah cepat mengambil keputusan tanpa berfikir secara mendalam, sedangkan gaya belajar reflektif dalam mengambil keputusan lebih lama karena mempertimbangkan beberapa alternatif.
2. Reseptif – Sistematis/ Intuitif.
Gaya belajar sistematis dalam memecahkan suatu persoalan dilakukan secara bertahap dan sistematis. Mula-mula ia melihat struktur pengalaman, kemudian mengumpulkan data dan informasi yang menunjang, baru kemudian memecahkan masalah. Sedangkan gaya belajar Resetif dalam memecahkan permasalahan langsung kepada masalah yang bersangkutan, ia lebih mengandalkan intuisinya.
3. Field Independence – Field Dependence.
Istilah gaya belajar mandiri dan gaya belajar bergantung pertama kali dikemukakan oleh Witkins dalam Patricia didasarkan pada cara pandang seseorang terhadap sesuatu secara gelobal atau secara analitis. Witkins menemukan informasi menarik tentang pengaruh lingkungan sekitarnya terhadap gaya belajar seseorang. Berdasarkan temuan tersebut ia berkesimpulan, bahwa gaya belajar bergantung sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan gaya belajar mandiri tidak terpengaruh oleh lingkungan.
Seseorang mempunyai gaya belajar mandiri atau bergantung dapat dilihat dari indikator-indikator tertentu. Garger dan Guild merinci perbedaan karakteristik antara gaya belajar mandiri dan gaya belajar bergantung seperti yang disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1. Ciri-ciri gaya belajar mandiri dan gaya belajar bergantung.
No Gaya Belajar Mandiri Gaya Belajar Bergantung
( Field Independence ) ( Field Dependence )
1 Berpikir analitis Berfikir global
2 Membuat perbedaan konsep – Membuat perbedaan konsep-
konsep secara khusus konsep secara umum
3 Berorientasi impersonal Berorientasi sosial
4 Mempelajari materi sosial Baik dalam mempelajari materi
hanya sebagai tugas yang di yang mengandung unsur- unsur
sengaja sosial
5 Dapat menentukan sendiri Memerlukan definisi dan
dalam mencapai tujuannya penguatan eksternal dalam
mencapai tujuannya
6 Dapat menyusun situasinya Memerlukan wadah organisasi
sendiri
7 Tidak di pengaruhi oleh kritik Lebih dipengaruhi oleh kritik
8 Menggunakan tes hipotesis Menggunakan pendekatan
dalam mencapai konsep pengamatan dalam mencapai
konsep secara umum
9 Termotivasi dengan baik lewat Termotivasi dengan baik lewat
kompetisi, pemilihan aktifitas pujian, membantu guru,
dan melihat kegunaan tugas penghargaan eksternal, dan
secara pribadi melihat tugas yang di peroleh
orang lain

Indikator yang menjadi ciri siswa yang memiliki gaya belajar bergantung, yaitu memerlukan penguatan eksternal dan memerlukan wadah organisasi dalam mencapai tujuannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia banyak di bantu di arahkan. Bantuan tersebut dapat berupa bimbingan langsung dari guru, orang tua atau semangat dari teman-temannya dalam bentuk kerja kelompok. Cara belajar seperti ini sesuai dengan pendapat Mann, bahwa siswa dengan sifat bergantung (tak mandiri) selalu bergantung kepada orang lain dan memerlukan bantuan dalam pelajaran. Siswa yang memiliki gaya belajar bergantung senang berinteraksi dengan masyarakat. Mereka lebih menyukai ilmu-ilmu sosial yang langsung berhubungan dengan kehidupan lingkungan. Pengamatan dan pengalaman langsung yang diperolehnya dalam masyarakat dianggapnya sebagai pendorong semangat. Hal ini didukung oleh pendapat Riechman yang menyatakan bahwa siswa yang mempunyai gaya belajar bergantung suka belajar bersama dalam kelompok.
Siswa yang memiliki gaya belajar mandiri dapat menyusun dan menentukan tujuan yang akan dicapainya. Dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, mereka tidak banyak memerlukan dorongan dari pihak eksternal. Mereka lebih banyak menyusun kegiatan dan mengatur waktu tanpa banyak di pengaruhi oleh guru, orang tua, maupun teman-temannya. Mereka terjemahkan aturan yang telah ditentukan dan menindaklanjuti dalam bahasa dan caranya sendiri. Menurut Man siswa yang demikian dapat berdiri sendiri, memiliki sifat percaya diri, dan dapat berfikir sendiri.
Meskipun mereka yang memiliki gaya belajar mandiri tidak dibantu orang lain, namun mereka dapat mengurus masalahnya sendiri, seperti yang dikatakan oleh Riechman bahwa siswa yang mempunyai gaya belajar mandiri dapat berfikir dan bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain.
Untuk mencapai tujuannya, siswa yang mempunyai gaya belajar mandiri di dorong oleh faktor-faktor yang bersifat kompetitif, pemilihan aktifitas atas kemauannya sendiri dan melihat kegunaan tugas sebagai bagian yang harus dilakukan karena kebutuhan. Siswa yang memiliki gaya belajar mandiri menerapkan metode yang bersifat indifidual lebih baik dari pada penerapan metode yang bersifat kelompok.
Menurut Arends dalam Trianto pembelajaran mandiri adalah pembelajaran yang dapat melakukan hal penting dan memiliki karakteristik, antara lain :
1. Mendiagnosis secara tepat suatu situasi pembelajaran tertentu.
2. Memiliki pengetahuan strategi-strategi belajar efektis, bagaimana serta kapan menggunakannya.
3. Dapat memotivasi diri sendiri tidak hanya karena nilai atau motivator eksternal.
4. Mampu tetap tekun dalam tugas sehingga tugas itu terselesaikan.
5. Belajar secara efektif dan memiliki motivasi abadi untuk belajar.

Prinsip terjadinya gaya belajar seorang siswa dikemukakan oleh Nasution sebagai berikut :
1. Individu (siswa) mereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial, dan lainnya.
2. Gaya belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Seorang belajar jika ia dapat bertindak dan berbuat sesuai dengan apa yang dipelajarinya.
3. Individu (siswa) berkembang sebagai keseluruhan dari bayi dalam kandungan sampai dewasa. Dalam tiap fase perkembangannya senantiasa manusia lengkap yang berkembang dalam segala aspek-aspeknya.
4. Cara belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi yang lebih luas. Learning is a maiter of seeing the first and the parts after. Belajar adalah melihat dulu keseluruhaqnnya dan kemudian bagian-bagiannya.
5. Cara belajar hanya berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Belajar tak mungkin tanpa kemampuan untuk belajar. Motivasi memberi dorongan yang menggerakkan seluruh organisme.
7. Belajar berhasil kalau ada tujuan yang mengandung arti bagi individu. Tanpa tujuan tak ada dorongan, tanpa dorongan tak ada kegiatan, tanpa kegiatan tak ada belajar.

Berdasarkan beberapa pendapat dapat diartikan bahwa, gaya belajar merupakan cara atau kebiasaan seseorang siswa/ individu dalam menangkap stimulus, merasakan, mengingat, berfikir, mengolah informasi, dan memecahkan persoalan.

B. Kerangka Berfikir
1. Perbedaan hasil belajar Fisika antara siswa yang diajar dengan metode Inkuiri dan metode Ekspositori.
Ketika guru menggunakan metode Inkuiri dalam pembelajaran, tercipta suasana pembelajaran yang aktif. Siswa lebih berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan aktifitas guru relatif lebih rendah, karena guru memposisikan dirinya hanya sebagai pembimbing siswa dalam memecahkan problem pembelajaran. Siswa lebih berpeluang untuk mendalami dan menguasai materi pelajaran, karena mereka akan lebih banyak mencari dan terlibat secara langsung dalam memecahkan permasalahan yang diberikan guru.
Pada metode Ekspositori siswa belajar cenderung pasif, karena siswa tidak dipacu untuk mendalami materi dan tidak ikut dilibatkan dalam mencari atau memecahkan persoalan pada materi pelajaran. Dalam pembelajaran guru adalah sebagai sumber informasi pelajaran dengan cara menerangkan pelajaran kepada siswa melalui kegiatan menjelaskan materi, membahas soal, tanya jawab, dan latihan yang diberikan guru.
Berdasarkan uraian di atas, diduga hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan menggunakan metode Inkuiri lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan menggunakan metode Ekspositori.

2. Perbedaan hasil belajar Fisika pada siswa yang memiliki gaya belajar mandiri dan siswa yang memiliki gaya belajar bergantung.
Siswa yang memiliki gaya belajar mandiri, memiliki kesadaran yang tinggi, atau perhatian terhadap pelajaran, dan mampu menempatkan diri dalam kelas. Dalam pembelajaran siswa yang mempunyai gaya belajar mandiri cenderung aktif dan mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi terhadap pelajaran yang di berikan oleh guru, dan mereka tidak begitu tergantung terhadap bimbingan dari guru, mereka dapat bekerja secara individu. Sehingga tugas-tugas yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan dengan baik.
Sedangkan siswa yang memiliki gaya belajar bergantung, akan selalu tergantung kepada pihak lain dalam belajar. Mereka sangat tergantung kepada guru dalam pembelajaran seperti adanya perhatian dan bimbingan penuh dari gurunya. Siswa ini lebih mengandalkan cara belajar secara kelompok dan lebih menyukai adanya suatu komunikasi antar siswa maupun dengan gurunya dalam merespon pembelajaran. Siswa yang mempunyai gaya belajar bergantung hanya relatif mengandalkan pengetahuan yang diperoleh dari guru.
Berdasarkan uraian di atas, diduga hasil belajar fisika siswa yang memiliki gaya belajar mandiri lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar bergantung.
3. Interaksi antara metode pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap hasil belajar Fisika.
Penerapan metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran agar berhasil optimal. Pemilihan metode pembelajaran secara tepat oleh guru dalam proses pembelajaran, sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar, karena apabila terjadi pemilihan metode pembelajaran yang salah oleh guru akan menyebabkan siswa tidak dapat memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh guru, bahkan tidak mengerti sama sekali.
Siswa merupakan individu yang berbeda. Salah satu perbedaan siswa yang dapat kita ketahui adalah perbedaan dalam gaya belajar yang mereka miliki. Perbedaan tingkat gaya belajar siswa menyebabkan masing-masing siswa berbeda cara belajarnya, terutama dalam merespon pelajaran dari guru, walaupun dalam metode pembelajaran yang sama maupun pada kelas yang sama. Karena adanya perbedaan gaya belajar antar siswa akan menyebabkan hasil belajar yang di peroleh juga turut berbeda.
Berdasarkan uraian di atas, diduga terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap hasil belajar fisika.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2010 in Materi Kuliah S2 MPEP

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: